
Ryan menepati janjinya untuk mencari tahu siapa keluarga Pita, walaupun ia sedikit kesulitan karena Ryan tidak mengenal banyak orang di Indonesia. Yang bisa ia andalkan dan benar-benar di percaya hanya Viona.
Sementara di sisi lain, Calista dan Jared justru tampak senang dengan apa yang di alami Daniel karena mereka berdua menyimpan dendam atas apa yang di lakukan Alira pada Calista.
Bahkan, dengan sengaja Calista menyebar rekaman cctv saat Daniel mabuk di club, kemudian menyeret Calista ke mobil dan pada akhirnya masuk ke mobil.
Sontak video itu menyebar dengan cepat, terus di bagikan dan menjadi perbincangan hangat bahwa Daniel telah berselingkuh dari istrinya.
Alira yang juga melihat video itu hanya bisa menahan air matanya, menahan sesak di dadanya, juga amarahnya.
Sudah satu minggu Daniel di rawat, namun ia tak menunjukan kemajuan apapun, begitu juga dengan wanita bernama Pita itu.
Dan selama satu minggu ini, Ryan lah yang selalu ada untuknya, yang menyemangatinya, menjadi tempat bersandarnya, bahkan tempat ia mencurahkan segala lelah letihnya dalam menghadapi musibah ini. Dan Alira selalu tenang setiap kali Ryan berkata. "Ada aku disini."
Alira mengingat semua kebaikan Ryan, perhatian Ryan, saat Ryan menghapus air matanya dan mengobati lukanya, Alira juga mengingat bagaimana pria itu menatapnya dengan pandangan yang sendu. Alira selalu merasa aman, nyaman dan damai setiap kali ada Ryan di sampingnya
...
Sementara itu, Ryan dan Viona saat ini sedang berada di sebuah perumahan kumuh yang mereka duga alamat rumah Pita. Mereka bertanya pada penduduk sekitar dan dari informasi yang mereka dapat, Pita memang tak memiliki keluarga, karena itulah selama ini tidak ada yang mencari ataupun melaporkan hilangnya Pita.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup, Ryan dan Viona meninggalakn tempat itu.
"Aku rasa kau jatuh cinta pada wanita itu," tukas Viona sembari memasang sabuk pengamannya.
Selama satu minggu ini, Ryan selalu bersama Alira, bahkan Ryan tidak menepati janjinya untuk bertemu dengan Viona. Hal itu memantik api cemburu di hari Viona, karena Ryan berubah.
"Apa? Jatuh cinta? Wanita yang mana?" Tanya Ryan dengan kening berkerut dalam.
"Alira," jawab Viona dengan lemas dan raut wajah yang masam.
Ryan sudah membuka mulutnya untuk menjawab, namun entah kenapa lidahnya terasa kelu dan ia tidak menemukan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Viona.
Viona yang tak mendapatkan jawaban itu hanya bisa tersenyum kecut dan ia membuang muka ke luar mobil, sementara Ryan mulai melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit.
...... ...
Di rumah sakit, Alira hendak pulang karena hari sudah sore. Saat ia berjalan di lorong rumah sakit, Alira mendengar orang-orang yang berbisik membicarakan tentang Daniel yang nama baiknya telah tercoreng.
Bukan hanya itu, kini mereka juga mempertanyakan ketulusan cinta Alira. Mereka menggosipkan Alira menikahi Daniel demi harta semata dan mereka meyakini Alira mengetahui perselingkuhan Daniel.
"Alira, ada apa?" Tanya Alira cemas saat melihat air mata di pipi Alira.
"Aku... Aku ingin pulang, Ryan. Aku mau mandi, mau istirahat yang," jawab Alira lirih.
"Baiklah, kita lewat belakang biar tidak ada yang melihat kita," ucap Ryan dan Alira mengangguk patuh. Ryan juga memakaikan jaketnya pada Alira dan menggandeng Alira keluar dari rumah sakit.
...
Di rumah, Alira memberi tahu Ryan apa yang ia dengar dari orang-orang, Alira merasa sedih karena namanya ikut tercoreng. Ryan juga memberi tahu Alira bahwa Pita tidak memiliki keluarga, ia sebatang kara.
"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang, Ryan? Aku ingin membersihkan nama Daniel, karena dengan begitu namaku juga bersih, selain itu, Daniel masih suamiku dan sudah kewajibanku menjaga nama baiknya."
"Aku mengerti," ucap Ryan. "Kita akan cari solusinya sama-sama, Al. Kamu jangan khawatir." lanjutnya.
"Padahal keputusanku sudah bulat untuk bercerai dari Daniel," ucap Alira kemudian sambil tersenyum kecut.
Ryan tak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa tersenyum tipis. "Kenapa kamu hanya diam?" Tanya Alira pada Ryan.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, Alira. Aku tidak mengerti masalah rumah tangga dan percintaan, Alira," jawab Ryan.
"Aku sangat lelah, Ryan. Aku tidak tahu kapan Daniel akan bangun, kapan aku bisa merasakan kebahagiaan lagi, aku sudah letih dengan semua rasa sakit dan air mata ini," lirihnya yang membuat hati Ryan berdenyut sakit, apalagi saat menatap mata Alira yang menyiratkan luka dalam.
"Jangan berkata begitu," ucap Ryan lembut, bahkan ia menangkup pipi Alira, menatap mata Alira dengan intens. "Semua akan segera berakhir dan kamu akan bahagia kembali." lanjutnya yang seketika membuat bibir Alira tersenyum.
Keduanya saling menatap, begitu dalam, hingga menyentuh ke relung hati mereka. Wajah keduanya pun begitu dekat, bahkan Alira bisa merasakan napas hangat Ryan yang menerpa wajahnya dan itu membuat jantungnya berdebar.
Tanpa sadar, keduanya kini lebih dekat, begitu juga dengan bibir keduanya.
Baik Ryan maupun Alira tak mampu berfikir jernih, apalagi saat bibir mereka bertemu dan saling bersentuhan.
Alira memejamkan mata, dan disaat itulah ia merasakan sapuan bibir Ryan dan bibirnya. Hanya sebuah sentuhan, tapi darah Alira sudah berdesir hangat dan tubuhnya meremang.
Merasakan bibir lembut Alira, otak Ryan pun menjadi blank dan ia ingin merasakan bibir itu lebih lagi....
Tbc...