
Setelah sarapan, Ryan pamit pulang pada Ibu Linda dan juga Alira, apalagi hari sudah siang dan Ryan punya janji temu dengan Viona hari ini.
"Kapan-kapan main kesini, Ryan," tukas Alira yang mengantar Ryan sampai ke mobilnya.
"Tentu," jawab Ryan semangat yang membuat Alira tersenyum.
Saat hendak menyalakan mobilnya, ponselnya berdering dan Ryan pun langsung menjawab panggilan itu.
"Halo..."
"Apa?!"
.........
Ryan menggandeng tangan Alira berlari di lorong rumah sakit, napas keduanya memburu dan keringat dingin sudah membasahi pelipis keduanya.
Sorot mata keduanya memperlihatkan kecemasan yang teramat setelah mendengar berita tentang Daniel
"Dokter....!" Teriak Alira saat melihat seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU. "Bagaiamana ... keadaan Daniel?" Tanya Alira dengan napas terengah, detak jantungnya sangar cepat dan tubuhnya gemetar.
Dokter itu menarik napas berat sebelum akhirnya berkata. "Kritis, pak Daniel kehilangan banyak darah, kepalanya mengalami benturan keras yang membuat dia kemungkinan besar akan koma," jawab Dokter yang membuat Alira langsung merasa lemas, tubuhnya terhuyung dan jika Ryan tak memegangnya, mungkin dia akan terjatuh.
Bahkan Ryan pun sangat terkejut dan ia sangat mencemaskan kondisi Daniel yang mengalami kecelakaan tadi malam dan yang lebih membuatnya cemas, seorang wanita tua yang menjadi korban kecelakaan Daniel.
"Apa kami boleh melihatnya, Dokter?" Tanya Ryan.
"Boleh, tapi hanya satu orang," jawab Dokter. Ryan mengangguk mengerti dan ia mempersilahkan Alira untuk menjenguk suaminya itu.
Sembari menunggu Alira, Ryan membaca berita di ponselnya dimana topik kecelakaan Daniel langsung viral dan hampir semua artikel menuliskan berita itu.
Tidak hanya itu, di perlihatkan juga mobil Daniel yang sangat rusak, sangat mengerikan, dan juga foto seorang wanita lansia yang saat ini juga kritis.
Tertulis juga di beberapa artikel bahwa Daniel di duga mabuk saat menyetir, selain itu hujan juga turun sangat deras dan kemungkinan Daniel kehilangan kendali karena hujan deras di tambah dirinya mabuk sehingga ia menabrak seorang wanita yang sedang berjalan sebelum akhirnya ia menghantam tiang listrik, Kecepatan mobil Daniel juga di atas rata-rata, bahkan juga beredar rekaman cctv di sekitar tempat kejadian yang menjadi bukti kuat kejadian itu.
"Astaga, Daniel," gumam Ryan sembari memijit pelipisnya. Kecelakaan Daniel tidak akan menjadi masalah besar asal pria itu selamat, namun Daniel memakan korban dan Ryan takut itulah yang akan menjadi masalah nanti.
Sementara di dalam, Alira menatap wajah suaminya yang pucat, kepalanya di perban dan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya.
Alira menggenggam tangan Daniel yang terasa dingin. "Apa yang terjadi?" Ia menggumam lirih. "Kenapa harus terjadi padamu, Daniel?" Alira mengusap kepala suaminya itu dengan lembut. "Padahal aku ingin bercerai darimu, tapi sekarang aku harus kembali dan merawatmu."
...... ...
Daniel Agra adalah seorang pengusaha yang sangat sukses dan juga terkenal, sehingga kecelakaan yang menimpanya tentu menjadi berita hangat di semua media, semua orang ingin tahu keadaannya dan mereka mulai memburu Alira selaku istri Daniel.
Apalagi dugaan bahwa Daniel menyetir dalam mabuk sehingga membuat seorang wanita paruh baya itu juga mengalami kondisi yang sangat kritis.
Wanita itu bernama Pita, seorang pemulung yang saat itu di duga akan pulang ke rumahnya namun sampai detik ini, belum di ketahui siapa keluarganya.
Bagi musuh bisnis Daniel, ini adalah kesempatan emas untuk menjatuhkan Daniel dengan kasus itu.
Sementara Alira, keadaan sekarang ini membuatnya seperti tercekik karena setiap kali ia keluar dari rumah, akan selalu ada orang-orang dari media yang memburunya, menanyakan kenapa Daniel menyetir saat mabuk, bagaimana kondisi Pita dan sebagainya, seolah mereka ingin memojokan Daniel.
"Bagaiamana aku tahu siapa keluarga wanita?" Gumam Alira yang tampak frutasi. Saat ini ia sedang berada di rumah sakit, di temani Ryan yang selalu berada di sampingnya.
"Polisi sedang mencari tahu, Al. Jangan khawatir," ucap Ryan lembut sembari mengusap pundak Alira.
Alira menghela napas berat kemudian bersender ke dinding, ia memejamkan mata, mengingat semua masalah yang terus datang menimpanya dan itu semua karena Daniel.
"Hey..." Ryan kembali mengusap pundak Alira, ia tidak tega melihat beban yang harus di tanggung Alira karena kesalahan Daniel.
"Aku lelah, Ryan," lirih Alira yang masih memejamkan mata. "Apalagi orang-orang itu terus memburuku, apa salahku? Aku tidak tahu Daniel mabuk, aku tidak tahu kenapa dia harus menabrak wanita asing itu."
Ryan menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Alira kemudian ia menarik kepala Alira dan menyenderkan ke pundaknya.
" Tidurlah! Aku tahu tadi malam kamu tidak tidur nyenyak, "tukasnya dengan lembut.
Alira pun mencari posisi paling nyaman di pundak Ryan dan ia berusaha tidur, karena matanya memang sudah mengantuk namun ia kesulitan tidur sejak kemarin.
Ryan melingkarkan lengannya di pundak Alira dan mengusap pundaknya hingga akhirnya ia tertidur.
Ryan menatap wajah letih Alira, lingkaran hitam terlihat di bawah matanya, bahkan bibir Alira terlihat pucat.
Selama beberapa hari tinggal bersama Alira, Ryan merasakan perasaan asing, yang tak pernah ia rasakan pada siapapun sebelumnya, ia ingin selalu menjaga dan melindungi Alira.
"Andai aku bisa mengambil semua penderitaanmu, Al. Aku akan mengambil semuanya hingga kau bida hidup bahagia."
Tbc...