Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #43 - Make Me Yours



Alira menyingkirkan tangan Daniel yang berada di atas perutnya, kemudian ia turun dari ranjang dan memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai.


Sambil menangis, Alira memakai bajunya dan ia berjalan keluar dari kamar dengan langkah yang sedikit tertatih, ia meringis saat merasakan inti tubuhnya yang sedikit perih.


Alira menghempaskan tubuhnya ke sofa dan ia meringkuk disana sambil terus menangis sendirian, Alira tidak menyangka Daniel memperkosanya malam ini, Alira tidak mengerti kenapa Daniel tega melakukan hal itu padanya.


Alira merasakan sentuhan di kepalanya dan saat mendongak, ia mendapati Ryan yang sedang menatapnya dengan sendu. "Apa dia menyakitimu?" Tanya Ryan yang kemudian berbaring di sisi Alira dan menarik Alira ke dalam pelukannya, ia mendekap Alira di sofa yang sempit itu.


"Seperti biasa," jawab Alira di tengah isak tangisnya. Hati Ryan seperti di remas mendengar itu, ia membelai kepala Alira dengan sayang.


"Aku disini, jangan bersedih," ucapnya.


Ryan mengecup kening Alira dengan lembut dan terus mengucapkan kata-kata yang membuat Alira kembali tenang dan berhenti menangis.


"Ryan,..." Alira mendongak dan Ryan pun menunduk, Ryan hanya menggumam. "Kenapa kau tidak mau menyentuhku tadi, Ryan? Apa karena statusku masih istri Daniel?" Alira bertanya setengah berbisik.


"Bukan karena itu, Sayang," jawab Ryan. "Tapi karena aku sangat menghormatimu, aku tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan, aku tidak mau bercinta denganmu karena dalam keadaan seperti itu. Aku ingin melakukannya jika kau memang menginginkanku," tukasnya.


Alira terdiam sejenak, ia menekan kepalanya di dada Ryan sementara tangannya memeluk Ryan dengan erat hingga akhirnya Alira berbisik di telinga Ryan. "Bawa aku ke kamar mu, Ryan." tubuh Ryan langsung menegang merasakan hembusan napas hangat Alira di telinganya, apalagi kata-kata itu seperti undangan bercinta untuknya.


"Alira...." Ryan menatap mata Alira, seolah ingin mengkonfirmasi apa yang di katakan Alira, namun Alira justru menjawabnya dengan memangut bibir Ryan, menggodanya dengan ciuman yang begitu lembut namun menuntut.


Tubuh Ryan langsung meremang, napasnya memberat dan tatapannya menggelap apalagi saat Alira menggoda bibir Ryan dengan lidahnya.


Ryan langsung berdiri, ia menggendong Alira dan membawanya ke kamarnya. Ryan menidurkan Alira di ranjang namun saat Ryan hendak mencumbunya, Alira menghentikannya.


Alira turun dari ranjang, ia melepas pakaiannya dan pemandangan itu membuat Ryan hanya bisa menahan napas.


Alira bergegas menuju kamar mandi dan ia membiarkan pintu kamar mandi Ryan terbuka lebar.


Ryan mengikutinya dan ia mendapati Alira yang sedang berdiri di bawah guyuran air shower, tanpa fikir panjang, Ryan melepas semua pakaiannya dan bergabung dengan Alira.


Alira memeluk Alira dari belakang, ia mencumbu leher jenjang wanita itu dengan bibirnya memberikan ciuman yang begitu intens. Alira menyenderkan kepalanya di dada bidang Ryan, ia memejamkan mata menikmati cumbuan lembut Ryan yang sangat berbeda dengan cumbuan Daniel.


Daniel...


"Sesekali, aku juga ingin egos." gumamnya dalam hati.


Alira berbalik hingga kini ia bertatapan langsung dengan Ryan, Alira memegang kedua pipi Ryan dan mengecup bibirnya dengan lembut. "Make me yours," bisik Alira tepat di bibir Ryan.


"Sure, Honey. As you wish," jawab Ryan dengan suara serak sebelum akhirnya ia memangut bibir Alira, mellumat nya dengan rakus seolah tak ada lagi hari esok. Ryan mematikan air shower kemudian ia menggendong Alira kembali ke ranjang tanpa memperdulikan tubuh mereka yang basah.


Ryan mencumbu setiap inci tubuh wanita yang sangat di cintainya itu dengan penuh cinta, sementara di bawahnya Alira hanya bisa merintih nikmat apalagi saat Ryan memainkan satu buah yang menggantung di dadanya itu sementara buah yang lain Ryan mainkan dengan tangannya. benda kenyal dan bulat itu terasa pas di tangan Ryan yang besar dan hangat.


"Ah, Ryan," dessah Alira saat Ryan menarik ujung buah itu dengan bibirnya, Alira menggelinjang tak karuan saat Ryan menjetikan lidahnya disana, memutari benda kecil nan bulat berwarna merah muda itu dengan lidahnya.


Alira menekan kepada Ryan seolah ia tak ingin Ryan berhenti memanjakan tubuhnya, dan Ryan tersenyum menyadari wanitanya begitu bergairah padanya.


"Oh...." Alira tersentak bahkan punggungnya melengkuk saat Ryan memasukan satu jarinya ke bawah sana.


"Sayang..." Ryan berbisik sensual di telinga Alira. "Disini sudah basah," ucapnya yang langsung membuat wajah Alira merona malu.


Ryan menggerakkan jarinya di bawah sana dengan pelan, lembut namun tak membuat Alira kehilangan gairahnya sedikitpun.


Ia justru semakin bergairah, apalagi ia tak pernah merasakan sentuhan selembut ini sebelumnya.


"Oh, Ryan..." pekik Alira saat Ryan menusukan jarinya dan bergerak memutar di dalam sana, tubuh Alira mengejang, punggungnya melengkung tinggi hingga akhirnya ia kembali meneriakan nama Ryan dengan sangat seksi.


"Ah...." tanpa sadar Ryan ikut mengerang saat merasakan semburan hangat di bawah sana yang membuat jarinya basah. "Kau hebat, Sayang. Aku suka," ucap Ryan dengan suara yang semakin serak.


Ia pun segera menindih tubuh Alira dan memasukan pusat tubuhnya ke lembah yang panas dan sudah sangat basah itu, memudahkan Ryan memasukinya dengan lancar meskipun ia masih merasa milik Alira itu termasuk sempit, padahal Ryan tahu, Alira dan Daniel baru saja melakukan hubungan suami istri.


Ryan mengetahui itu saat Alira melepaksan pakaiannya, Ryan melihat masih ada cairan di pangkal paha Alira, karena itulah ia tak menghentikan Alira saat ia bergegas mandi di tengah malam yang sangat dingin ini.


"Maafkan aku," lirih Alira di tengah desahannya.


"Tidak apa-apa, Sayang." jawab Ryan. "Aku akan membuatmu melupakannya malam ini." lanjutnya yang membuat Alira tersipu malu.