
Daniel berdiri tepat di tengah kebun bunga, tatapannya tajam lurus ke depan, ia menampilkan wajah seriusnya hingga akhirnya ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
Daniel menoleh dan ia langsung melemparkan senyum manisnya pada sang istri. "Kau dari mana saja? Aku mencarimu," ucap Daniel
"Aku hanya jalan-jalan di sekitar sini," jawab Alira sembari mendekati Daniel.
"Bukankah kebun bunga ini cantik? Bagaimana kalau kita membuat kebun bunga juga di rumah?" Tanya Daniel sembari melingkarkan lengannya di pinggang Alira.
Sementara Alira hanya diam saja dan itu membuat raut wajah Daniel langsung tampak sedih dan senyum di bibirnya pun musnah, namun sesaat kemudian ia kembali tersenyum dan menyenderkan kepalanya di kepala Alira.
Keduanya pun terdiam dalam waktu yang lama, menikmati pemandangan yang sangat indah itu dengan hati yang sama-sama sakit.
Sementara Ryan, dari jendela kamarnya ia memperhatikan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
Ryan memikirkan cara bagaimana ia bisa memiliki Alira dan tidak menyakiti Daniel, karena bagaimana pun juga, Daniel juga sangat berarti dalam hidupnya.
"Aku harus jujur padanya, bahwa aku dan Alira saling mencintai."
........
Ryan membawa Alira dan Daniel makan siang di salah satu restaurant yang cukup terkenal di Paris.
"Kau suka dengan menunya, Al?" Tanya Ryan karena ia melihat Alira yang makan dengan sangat lahap.
"Iya, ini enak sekali," jawab Alira semangat.
"Kalau begitu, Tinggallah disini, bersamaku," tukas Ryan yang membuat Alira langsung berhenti mengunyah, ia menatap Ryan dengan mata yang melebar kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Daniel yang justru terkekeh.
"Aku rasa itu ide bagus," sambung Daniel. "Bagaiamana, Sayang? Apa kau mau tinggal disini saja? Memulai hidup yang baru, di tempat yang baru." lanjutnya yang membuat Alira hanya bisa menelan ludah tanpa tahu harus menjawab apa.
"Aku rasa dia tidak akan setuju," sela Ryan yang membuat Alira merasa tidak nyaman.
"Setelah ini, kita mau kemana?" Tanya Alira kemudian untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Kau mau belanja?" Tanya Ryan dengan cepat.
"Belanja? Ide bagus," sambung Daniel.
"Okay," ucap Alira akhirnya.
Mereka pun menikmati makan siang mereka sembari membicarakn beberapa hal, Ryan juga memberi tahu Daniel kenangan mereka di kota yang di sebut city of love itu, menceritakan tentang persaudaraan mereka yang sangat indah.
Daniel tampak senang mendengar cerita Ryan, ia juga mengajukan beberapa pertanyaan tentang masa lalunya yang di jawab sangat baik oleh Ryan.
Ketiganya bersenang-senang disana hingga akhirnya pandangan Ryan tertuju pada seorang wanita yang baru saja memasuki toko itu.
"Viona?" Gumam Ryan tak percaya melihat Vioa juga berada di Paris.
Sementara Viona yang melihat keberadaan Ryan tentu tampak senang, ia melambaikan tangan pada Ryan dan segera mendekatinya.
"Hai, Ryan," sapa Viona yang menarik perhatian Alira. Viona langsung memeluk Ryan bahkan mengecup bibirnya yang membuat Ryan terkejut dan ia langsung menoleh pada Alira yang tampak kesal dan cemburu.
Dulu, interaksi seperti ini adalah hal biasa bagi Ryan, namun tidak sekarang setelah ada Alira di hatinya.
"Jangan kaget, Sayang," ucap Daniel pada Alira. "Di sini, hal seperti itu sudah biasa." lanjutnya sambil terkekeh.
"Benar, sudah biasa," jawab Alira dingin namun tatapannya tertuju pada Ryan yang juga menatapnya.
"Aku baru sampai tadi malam, Ryan. Aku juga sudah mengirim pesan padamu tapi kau tak membacanya, syukurlah kita bertemu disini, tadinya malam ini aku ingin datang ke rumahmu," ucap Viona panjang lebar namun Ryan seolah tak mendengarnya, karena fokus nya hanya pada Alira yang tampak sangat kesal.
"Apa menurutmu ini bagus?" Tanya Alira sembari menunjukan sebuah gaun pada Daniel.
"Yeah, itu cantik sekali, Sayang," jawab Daniel.
"Aku akan mencobanya lebih dulu," tukas Alira kemudian ia segera bergegas ke ruang ganti.
"Ryan...." panggil Viona karena Ryan tak menanggapinya.
"Emm, kamu mau belanja? Aku rasa...." Ryan membawa Viona melihat beberapa gaun disana, menyibukkannya. "Silahkan kau pilih, aku juga mau mencari celana," ucap Ryan sembari melirik Daniel yang kini juga sibuk melihat-lihat barang di sana.
Ryan mengambil kesempatan itu untuk pergi ke ruang ganti dan menyusul Alira.
Ryan langsung masuk ke ruang ganti yang membuat Alira sangat terkejut apalagi ia baru saja membuka bajunya.
"Ryan... Emmp" Alira memekik namun Ryan langsung membekap mulut Alira.
"Kau marah?" Tanya Ryan dengan tatapan rasa bersalahnya sembari melepaskan tangannya dari mulut Alira.
"Oh, tidak! Itu sudah biasa," sindir Alira cuek. "Lagi pula kau adalah Ryan Reiner, jangankan hanya ciuman bibir, wanita itu juga pasti sering kau... Emmppp" Ryan kembali membekap mulut Alira.
Dan bersamaan dengan itu, terdengar suara Daniel yang memanggil Alira. membuat keduanya terkejut.
"Alira, kau di dalam 'kan, Sayang? Aku punya gaun cantik untukmu, mungkin kau ingin mencobanya."
Tbc....