Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #48 - Pengkhianatan Yang Tersembunyi



Calista menatap foto Daniel dan Alira yang berada di koran, pria itu sungguh sangat sukses dan kaya raya sehingga hanya karena baru pulang dari Paris pun sudah menjadi berita yang di minati oleh publik.


"Kau...." Calista menusuk foto Alira tepat di wajahnya menggunakan dengan sebuah pisau buah. "Kau yang paling berarti bagi Daniel, bukan? Maka kau adalah harga yang harus Daniel bayar atas apa yang sudah di lakukan," geram Calista. Kemudian ia mengangkat tangan kirinya dan menatap jari tengahnya yang telah hilang, terpotong, karena Daniel .


Calista menggeram marah, rahangnya mengetat sempurna, giginya menyatu dan ia kembali menusuk-nusukan pisau ke foto Alira.


" Kau harus membayar semuanya, Daniel. Dasar psycho!" Geram Calista dengan dada yang gemuruh.


Tak akan ada yang percaya jika Calista bercerita bahwa Daniel telah memotong jari tengahnya, memaksa Calista mengaku pada media bahwa ia sengaja mencemarkan nama Daniel karena iri. Padahal, Calista membuat reputasi Daniel hancur karena dendamnya pada Alira yang telah menampar nya.


Namun, Daniel justru memotong jarinya dengan alasan Calista telah membuat Alira sedih dengan gosip tentang dirinya juga karena Calista telah memberi tahu Alira tentang malam yang mereka lewati.


Calista masih ingat dengan jelas apa yang di katakan Daniel saat itu. "Alira adalah jiwaku, bayanganku, jika kau mengusiknya, maka kau mengusikku."


Calista tersenyum miring mengingat kata-kata itu. "Sungguh suami istri yang saling mencintai, saling menjaga, mengesankan sekali. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan pada kalian, akan aku buat kalian menyesal telah berurusan dengan ku."


Namun Calista tahu, kali ini ia harus hati-hati, karena sekarang ia tahu, Daniel punya sisi gelap yang tak akan pernah di sangka oleh siapapun.


Daniel menyimpan kegilaan dalam dirinya yang bisa sangat mengerikan pada seseorang yang telah mengusik hidupnya.


.........


"Welcome home...."


Daniel memeluk Alira yang baru saja membuka tirai kamarnya.


"Daniel, aku mau mandi," ucap Alira yang berusaha menghindari Daniel.


"Mau mandi bersamaku?" Tawar Daniel.


"Tidak, aku sangat lelah," ucap Alira dan Daniel pun mengangguk saja.


Alira langsung bergegas ke kamar mandi sementara Daniel mengeluarkan barang-barang mereka dari koper dan menyusunnya kembali ke lemari.


Setelah itu, ia menyiapkan baju rumahan untuk Alira, meletakkannya di ranjang sebelum akhirnya Danile bergegas pergi ke kantor.


Selama dalam perjalanan, Daniel terus berbicara dengan Tessa, meminta Tessa menyiapkan beberapa berkas karena Daniel akan menemui rekan bisnisnya untuk mengatasi masalah perusahaan yang sedang terjadi.


Sementara di rumah, Alira menghela napas berat saat melihat pakaiannnya di atas ranjang.


"Bukan ini yang aku mau dari kamu, Daniel," gumam Alira sedih. "Aku hanya ingin kamu menganggapku sebagai istri, atau setidaknya sebagai manusia yang punya perasaan," geramnya namun ia tetap memakai baju itu dengan kesal. "Dan aku menginginkannya dulu, sekarang sudah terlambat," lirih Alira.


Alira mengambil ponselnya dan ia langsung menghubungi Ryan, tak lama kemudian terdengar suara Ryan dari seberang telfon yang membuat Alira merasa senang.


"Halo, Sayang," Sapa Ryan bahkan suaranya itu terdengar merengek.


"Tidak ada, setelah kau pergi, aku seperti kehilangan semangatku," jawab Daniel yang membuat Alira tersenyum.


"Kau perayu ulung, hm...."


"Yeah, aku memang perayu ulung, aku takkan mengelak fakta itu. Tapi asal kau tahu saja, aku tidak sedang marayumu, dan aku tidak perlu merayumu."


"Karena aku sudah dengan suka rela menyerahkan diriku padamu? "


" Bukan, tapi karena aku punya cinta untukmu, jadi rayuan dan semacamnya sudah tidak aku perlukan lagi."


Alira kembali tersipu mendengar ucapan Ryan yang selalu membuatnya merasa senang dan tenang itu."Oh ya, dimana Daniel? Apa dia tidak curiga jika kau menelfonku seperti ini?"


"Aku rasa dia pergi ke kantor," jawab Alira.


"Apa? Secepat ini? Aku rasa sebaiknya dia istirahat setelah melakukan penerbangan yang cukup lama." tukas Ryan dan ia terdengar men cemaskan Daniel.


"Aku tidak bisa mencegahnya, Ryan. Karena Daniel mencintai pekerjaanya seperti dia mencintai egonya sendiri, takkan perduli apakah itu akan menyakiti orang ataupun dirinya sendiri." Alira berkata dengan sarkastik.


"Yeah, aku mengenalnya dengan baik," ucap Ryan. "Baiklah, Sayang. Aku akan menghubungi Daniel dulu." lanjutnya, Alira hanya menjawabnya dengan gumaman.


Setelah Ryan memutuskan sambungan telfonnya, Alira menatap foto Ryan yang ada di ponselnya. "Kau sangat perduli padanya, Ryan. Tapi itu takkan berarti apa-apa jika Daniel tahu tentang kita."


^^^...^^^


Sementara di sisi lain, Daniel menemui rekan kerjanya untuk membicarakan masalah yang sedang di alami perusahaan Daniel. Bahkan masalah itu bisa mengancam harga saham di perusahaannya, dan jika itu terjadi, sudah di pastikan Daniel akan rugi besar.


Di tengah seriusnya Obrolan itu, ponsel Daniel terus bergetar, Daniel mengabaikannya. Kemudian ia mendapatkan pesan dari Ryan yang memintanya tidak terlalu terobesi pada pekerjaannnya.


"Istrimu?" Tanya rekan kerja Daniel.


"Bukan, Ryan, adikku," jawab Daniel.


"Oh, si tampan model itu. Ada apa?" Tanyanya lagi.


"Dia memintaku tidak terobesi pada pekerjaan, apalagi aku baru saja mendarat setelah beberapa jam melakukan penerbangan," tukas Daniel.


"Baik sekali adikmu, kau beruntung memilikinya. Jarang sekali ada saudara yang masih perduli pada suadaranya yang lain apalagi jika mereka sama-sama dewasa dan mandiri."


"Aku dan Ryan sama-sama saling menjaga, kami berdua sama-sama tidak punya siapapun.


"Tapi kau lebih beruntung, kau punya seorang istri yang sangat cantik."


"Tentu saja."