Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #50 - Kejujuran



"Al, biar aku saja yang menjaga ibu Linda, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat," tukas Jill apalagi ia melihat Alira yang tampak sangat pucat.


"Justru kamu saja yang pulang, Jill. Di panti pasti kamu di butuhkan apalagi tidak ada Ibu Linda disana," balas Alira.


"Iya, biar aku dan Alira yang menjaga ibu Linda, Jill," sambung Daniel meyakinkan.


"Tapi Alira sepertinya sakit, dia pucat," kata Jill. Daniel langsung menatap istrinya itu dengan cemas.


"Iya, Sayang. Kamu pucat, apa kamu sakit?" Tanya Daniel.


"Tidak, aku baik-baik saja, Daniel," jawab Alira dengan cepat. "Aku akan menjaganya malam ini, Jill. Besok baru kamu, kita gantian," bujuk Alira dan Jill pun akhirnya mengalah.


"Telfon aku jika ada sesuatu," tukas Jill sebelum pulang dan Alira hanya mengangguk.


Setelah Jill pulang, Daniel langsung menyentuh kening Alira dengan punggung tangannya yang membuat Alira sedikit terkejut.


"Ada apa?" tanya Alira.


"Badanmu hangat, Al. Kamu yakin kamu baik-baik saja saja?" Tanya Daniel cemas.


"Mungkin hanya sedikit lelah," jawab Alira lemas.


"Kamu istirahat saja, Sayang. Aku tidak mau kamu juga sakit."


.........


"Kamu mau pulang ke Indonesia hanya demi Alira, 'kan?" Tanya Viona yang saat ini sedang mengikuti Ryan setelah bekerja.


"Please, Viona! Ini bukan urusan kamu, ini urusan pribadiku," jawab Ryan kesal karena sudah beberapa hari ini Viona seolah terus mengusiknya.


"Aku tidak bermaksud ikut campur urusan pribadi kamu, Ryan. Aku hanya perduli sama kamu," tukas Viona penuh penekanan.


"Aku tidak pernah memintamu perduli sama aku," jawab Ryan dengan dingin yang membuat hati Viona mencolos, bahkan matanya sudah berkaca-kaca, setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Ryan, inikah yang dia dapatkan?


"Setelah semua yang aku lakukan untukmu, apa aku tidak berhak untuk perduli padamu?" Tanya Viona dengan lirih dengan yang membuat Ryan hanya bisa terdiam. "Kamu tahu aku mencintaimu, Ryan. Tapi kenapa kamu mengabaikanku?" Tanya Viona dengan sedih.


Ryan menatap Viona dengan sendu, ia pun mendekati gadis itu, memegang pundaknya dan menatap matanya dengan dalam.


"Jangan menangis," tukas Ryan sembari menghapus air mata Viona dengan lembut. "Aku akan selalu ada di sisi kamu, tapi hanya sebagai teman, Viona. Aku yakin, di luar sana pasti ada pria yang sangat mencintaimu dan akan membuatmu bahagia."


Viona memeluk Ryan dan kembali menangis di pelukan pria yang sangat di cintainya itu. "Tapi aku hanya mencintaimu, Ryan. Aku memberikan segalanya untukmu, jiwa dan ragaku," lirihnya.


"Aku tahu, Viona. Maafkan aku karena aku sempat tidak menghormatimu, tapi semua sudah berakhir. Sekarang, kamu tidak perlu memberikan tubuhmu lagi padaku, sekarang kau temanku, bukan lagi teman ranjangku."


Viona terdiam mendengar ucapan Ryan, apalagi Nick juga memberi tahunya bahwa sejak Ryan kembali dari Indonesia, Ryan tak pernah lagi terlihat bersama seorang wanita dan semua itu pasti karena Alira.


"Kamu berubah untuk Alira?" tanya Viona.


"Tidak, aku berubah karena Alira."


.........


Alira terbangun dari tidurnya dan ia terkejut karena kini Alira berada di kamarnya, saat Alira hendak turun dari ranjang, Daniel datang dengan membawa sarapan untuk istrinya itu.


"Kenapa aku bisa ada di rumah?" Tanya Alira bingung karena tadi malam ia tidur di rumah sakit.


"Aku membawamu pulang saat kamu tidur, aku hanya ingin kamu tidur dengan nyaman, Sayang." Daniel meletakkan nampan yang berisi roti dan segelas susu hangat di depan Alira. "Makanlah, setelah ini kita ke rumah sakit," ucap Daniel lagi.


"Al, ada yang ingin aku bicarakan sebenarnya sama kamu," kata Daniel sembari menatap Alira lekat-lekat.


"Tentang apa?" tanya Alira sembari menikmati rotinya.


"Tentang diriku sendiri," jawab Daniel yang membuat kening Alira berkerut.


"Maksudnya?"


"Aku ingin memberi tahumu, sebenarnya... sebenarnya ingatanku sudah kembali sejak aku masuk rumah sakit lagi."


"A-apa?"


Tbc....