Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #34 - The Real Affair



Nick berusaha membantu Ryan untuk melupakan Alira dengan mencoba membawa Ryan pada kebiasaan lamanya, club dan wanita. Namun itu tak berhasil Karena Ryan benar-benar tak lagi menginginkan kepuasan ranjang.


Bahkan, semakin hari Ryan semakin memperlihatkan kegilaan nya pada Alira. Setiap hari ia selalu melukis gambar Alira, bahkan ia membeli canvas yang cukup besar dan untuk pertama kalinya ia melukis di canvas.


Ryan melukis Alira yang sedang tersenyum dengan tatapan yang berbinar, Nick yang melihat gambar itu begitu kagum, ia baru tahu mengetehui bakat modelnya yang satu ini.


Tanpa terasa, satu bulan telah berlalu, Ryan berhasil melewati hari-harinya yang terasa hambar juga menyiksa akibat cinta yang tak kesampaian.


Dan malam ini, Nick membawa Ryan ke sebuah pesta yang di gelar oleh salah seorang pengusaha sukses di bidang kuliner yang berasal dari Indonesia. Pesta ini itu di gelar di sebuah hotel mewar di Paris.


Ryan menikamati pesta itu, dan ia bertemu dengan seorang gadis yang mengajaknya berdansa.


Namun saat Ryan berdansa dengan gadis itu, Ryan tiba-tiba melihat sekelebat bayangan Alira yang membuatnya langsung melepaskan diri dari gadis itu.


"What's wrong?" Tanya wanita itu bingung, Ryan tak menjawabnya, ia mengedarkan pandangannya di ruang pesta itu, mencari keberadaan Alira. Ataukah itu hanya halusinasinya semata?


Ryan mentapa ke sekelilingnya sembari memegang jantungnya yang berdetak cepat. Ryan segera menghampiri Nick dan memberi tahu Nick bahwa ia melihat Alira, namun Nick justru menertawakan Ryan.


"Kamu mabuk, hm?" Tanya Nick.


"Tidak sama sekali!" Tegas Ryan. "Aku benar-benar melihatnya, Nick. Dia memakai gaun berwarna hitam," ucap Ryan yakin.


"Ingat, Dude. Dia istri Kakakmu, mungkin sekarang dia sedang bercinta dengan Kakakmu jadi lupakan gadis itu!" Bisik Nick tajam yang membuat Ryan kesal.


Ia pun meninggalkan Nick dan di saat yang bersamaan, ia kembali melihat bayangan Alira yang saat ini menatapnya kemudian Alira melangkah pergi.


Tanpa fikir panjang Ryan segera berlari mengikuti Alira yang masuk ke sebuah kamar hotel.


Ryan hendak mengetuk pintu namun saat menyadari pintu itu tidak tertutup rapat, Ryan mendorong pintu secara perlahan hingga tiba-tiba ada yang menarik Ryan masuk.


"Alira?" bisik Ryan tak percaya.


Ini sangat nyata baginya, ia melihat Alira berdiri di depannya, tersenyum dan menatapnya penuh cinta. "Apa aku mulai berhalusinasi? Tapi aku tidak mabuk," ucap Ryan sembari menepuk pipinya sendiri.


"Do you miss me?" Tanya Alira, suaranya terdengar jelas di telinga Ryan.


"Alira...."


"Tapi bagaimana bisa?" Tanya Ryan bingung namun tiba-tiba Alira berhambur ke pelukannya, Alira menekan kepalanya di dada Ryan, menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh Ryan.


Sementara Ryan hanya bisa tercengang, masih tak percaya bahwa ini nyata. Hingga tiba-tiba Alira mendongak, menarik wajah Ryan dan memangut bibir Ryan.


"Oh God! Kau nyata," bisik Ryan dan Alira mengangguk.


Ryan pun kembali memeluk Alira dengan sangat erat kemudian mengecup seluruh wajah Alira penuh rindu.


Alira menangis karena ia juga sangat merindukan Ryan, ia meremas lengan Ryan dan membiarkan Ryan mengecupnya tanpa henti.


Ryan menghapus air mata Alira dengan ciumannya dengan lembut. "Ada apa? Bagaimana bisa kau di sini, Alira?" Tanya Ryan lirih.


"Akan aku ceritakan nanti," jawab Alira. "Aku merindukanmu, Ryan," ucapnya.


"Aku juga sangat merindukanmu, Alira. Aku hampir mati karena rindu yang menyiksa ini, aku tersiksa tanpamu," ucap Ryan sembari membelai pipi Alira.


"Apa kau masih mencintaiku?" Tanya Alira dan tentu Ryan mengangguk.


"Aku masih dan akan selalu mencintaimu, Alira. Tidak perduli apakah aku kembali ke Paris atau bahkan pulang ke akhirat, aku akan tetap mencintaimu," tukas Ryan yang membuat hati Alira terenyuh dan ia kembali berhambur ke pelukan Ryan.


Namun bersamaan dengan itu, ponsel Alira yang ada dalam tasnya berdering. Alira merogoh ponselnya dan menjawab panggilan itu.


"Aku di toilet," ucap Alira yang membuat Ryan mengernyitkan keningnya.


"Iya, aku akan kesana sekarang," tukas Alira pada orang dari seberang telfon kemudian ia memutuskan sambungan telfonnya.


"Siapa?" Tanya Ryan.


"Besok kami akan berkunjung ke rumahmu, seharusnya ini menjadi kejutan untukmu besok," ucap Alira penuh teka-teki yang membuat Ryan semakin bingung.


"Maksudnya?" Tanya Ryan.


"Sampai bertemu besok," ucap Alira kemudian ia mengecup bibir Ryan. "I love you, Ryan."


Alira pergi dari kamar itu meninggalkan Ryan yang mematung, bingung.