
Daniel menatap Alira yang saat ini sedang berselonjor di sofa sembari menikmati tayangan telivisi yang terkadang membuatnya tertawa cekikikan.
Daniel pun tersenyum bahagia melihat senyum di bibir tersayangnya, kemudian ia duduk di dekat Alira dan meletakkan kepalanya di pangkuan Alira. Alira sedikit terkejut, namun kemudian ia tersenyum dan membiarkan Daniel tidur dengan nyaman di pangkuannya.
Daniel menarik tangan Alira, menggenggamnya dengan erat seolah ia takut Alira pergi. "Jangan tidur dulu," tukas Alira saat melihat Daniel yang justru memejamkan mata.
"Aku mengantuk, Sayang. Tadi malam aku begadang sama Ryan,"jawab Daniel.
"Siapa suruh kalian mabuk seperti itu?" Daniel hanya tersenyum mendengar keluhan istrinya itu, ia membuka mata dan menatap mata Alira.
"Kamu masih sangat perduli padaku, Sayang. Aku benar-benar senang, bahagia, dan aku janji akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin." tutur Daniel panjang lebar yang membuat Alira hanya bisa terdiam. Apalagi di saat yang bersamaan, Ryan datang dan bergabung dengan mereka.
Melihat Daniel yang tidur di pangkuan Alira membuat api cemburu langsung membara di hati Ryan namun ia tak bisa melakukan apa-apa. Alira yang melihat kecemburuan dimata Ryan menjadi salah tingkah, di satu sisi ia memangku suaminya, namun di sisi lain ia tahu orang yang di cintai sedang terbakar api cemburu.
"Apa kau tidak bekerja hari ini, Ryan?" Tanya Daniel dan seketika Ryan langsung berdiri.
"Iya, aku akan bekerja dan mungkin akan pulang sangat malam," tukas Ryan. Kemudian ia bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian.
"Lalu, apa rencana kita hari ini?" Kini Ryan bertanya Alira.
"Aku tidak tahu, aku ingin di rumah saja," jawab Alira dan Daniel pun mengangguk setuju.
Tak lama kemudian Ryan keluar dari kamar dan ia sudah rapi, Ryan mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi setelah pamitan pada Alira dan Daniel.
Ryan mengendarai mobilnya menuju rumah Nick, karena sebenarnya hari ini ia tidak memiliki pekerjaan apapun.
Saat sampai di rumah Nick, Ryan justru bertemu dengan Viona disana.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ryan mengernyit bingung.
"Ingin memastikan sesuatu," jawab Viona dengan tatapan sedihnya dan Ryan yang melihat itu semakin terlihat bingung.
Tak lama kemudian Nick datang dari dapur dengan membawa beberapa cookies dan minuman segar.
"Wow, sedang apa kau disini?" Tanya Nick.
"Aku hanya bosan karena tidak pekerjaan," jawab Ryan berbohong yang membuat Nick langsung tertawa mengejek.
"Seorang Ryan bisa merasakan bosan juga? Bukankah kau akan punya sejuta cara untuk menyenangkan diri?" Ejeknya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ryan.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi," sambung Viona. "Kau mencintai Alira?" Ryan langsung menatap Viona dengan pupil mata yang melebar, kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Nick yang justru menikmati cookiesnya dengan santai.
"Bagaiamana bisa kau melakukan ini, Ryan?" Desis Viona tak habis fikir. "Dia kakak iparmu sendiri, istri saudaramu. Aku benar-benar tidak menyangka kau tega menusuk Daniel dar belakang," tukas Alira yang tentu saja langsung menyinggung perasaan Ryan.
Ryan langsung berdiri dan menatap Viona dengan tajam. "Kau tidak tahu apapun jadi jaga bicaramu!" Desis Ryan marah.
"Aku melihatmu keluar dari ruang ganti yang sama dengan Alira kemarin, Ryan," seru Viona.
Sementara Nick yang melihat ketegangan di antara kedua orang itu hanya bisa melongo, ia tidak tahu harus melakukan apa sehingga ia hanya bisa menjadi penonton saja.
"Aku hanya perduli padamu, Ryan," ucap Viona dengan suara yang bergetar. "Aku tidak mau kau mendapatkan masalah atau melakukan kesalahan fatal seperti ini." lanjutnya yang membuat Ryan menghela napas berat.
"Ini urusanku, kau tidak perduli padaku," ucap Ryan kemudian ia pergi dari rumah Nick dengan kesal, meninggalkan Nick yang bisa melongo juga Viona yang hanya bisa menangis menatap kepergian Ryan.
"Aku disini, Ryan. Aku mencintaimu dan aku bukan milik siapapun karena aku menuggumu untuk memilikiku, tapi kenapa harus Alira?" lirih Viona yang melihat Ryan pergi semakin menjauh.
...
Hari ini begitu mendung dan sebentar lagi hujan pastu turun, menyadari hal itu, Ryan pun kembali ke rumat hari menjelang sore.
Sementara di rumah, Daniel berencana membuat makan malam untuk ia dan istrinya, namun sebelum itu, ia menyiapkan minuman terlebih dulu dan memasukan sesuatu ke dalamnya sambil tersenyum.
Setelah itu, Daniel membawa minuman itu untuk Alira yang saat ini sedang membaca buku.
"Kau haus?" Tanya Daniel namun Alira menggeleng sambil terus fokus pada bukunya.
"Baiklah, jika kau haus, minum saja ini." Daniel meletakkan minuman itu di meja.
"Terima kasih," ucap Alira sambil tersenyum.
"Sama-sama, Sayang," jawab Daniel. "Aku mau akan menyiapkan makan malam untuk kita, kau mau membantuku memasak?" Tanya Daniel yang langsung di jawab anggukan oleh Alira.
Setelah meletakkan bukunya, Alira segera mengikuti Daniel ke dapur untuk memasak. Namun setelah membuka kulkas, hanya ada beberapa bahan makanan disana.
"Kita masak apa adanya saja," tukas Alira namun sepertinya Daniel tidak setuju.
"Aku akan berbelanja sebentar," ucap Daniel.
"Sepertinya akan turun hujan deras, Daniel. Kita masak yang ada saja," tukas Alira namun Daniel enggan mendengarkan.
"Hanya sebentar, Sayang," ucap Daniel dan Alira pun tak bisa mencegahnya.
Daniel pergi dengan membawa salah satu mobil Ryan, sementara Alira pun kembali ke sofa, ia kembali membaca buku sembari menunggu Daniel pulang. Saat merasa haus, Alira mengambil minuman yang di siapkan Daniel dan ia meminumnya.
Namun tak berselang lama, Alira merasakan sesuatu yang tak biasa. Alira mengipaskan buku itu ke leher dan dadanya karena tiba-tiba ia merasa kepanasan.
Bahkan tubuh Alira mulai berkeringat, ia kebingungan dan merasa seluruh tubuhnya semakin panas.
"Astaga! Apa dia meracuniku." gumam Alira cemas karena ia yakin hal ini terjadi karena minuman Daniel.
"Tapi...." napas Alira memburu, seluruh tubuhnya merasakan sensasi yang tak biasa. "Ya Tuhan! Apa yang terjadi?"