Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #65- The Truth



Ledakan yang di sengaja di gedung penyimpanan minyak milik keluarga Calista itu memakan banyak korban, 4 di antaranya meninggal di tempat, Daniel, Ryan, dan dua petugas polisi lainnya.


Sementara Calista, Alira dan satu petugas polisi yang menjaga mereka di luar gedung mengalami luka serius dan di rawat di rumah sakit.


Di saat yang bersamaan, Bu Linda terbangun dari komanya, dan kini ia yang bergantian menjaga Alira yang koma selama beberapa hari.


Saat Alira sadar, ia begitu histeris, apalagi setelah menerima kabar bahwa Daniel dan Ryan sudah meninggal. Bahkan, beberapa kali Dokter harus memberikan obat penenang pada Alira.


Alira mengalami trauma hebat, dan bahkan beberapa kali ia melakukan percobaan bunuh diri.


Hingga dua minggu kemudian, Dokter memberikan hasil pemeriksaan bahwa Alira hamil. Alira tidak tahu, haruskah dia bahagia atau senang saat itu. Karena Alira sendiri tidak tahu, apakah itu anak dari suaminya atau anak dari adik iparnya, selingkuhannya.


Hingga Viona datang, memberi tahu tentang Ryan, bahwa Ryan sebenarnya mandul. Kabar yang sangat mengejutkan, dan sulit Alira percaya. Namun setelah beberapa hari, Viona kembali datang bersama pengacara Ryan, yang membuat Alira justru merasa sangat bingung.


"Sejak tuan Ryan mengetahui dirinya mandul, dia memutuskan tidak akan pernah berkeluarga, dan karena itulah, dia telah memutuskan bahwa ahli waris dari seluruh harta yang dia miliki akan dia berikan pada satu-satunya keluarga yang dia miliki, dan itu adalah tuan Daniel, suami Anda, Ibu Alira. Surat ini di buat dua tahun yang lalu."


Alira tercengang, ia sulit percaya akan semua itu, bahkan ketika Viona menunjukkan bukti dari Dokter yang menyatakan Ryan memang mandul, dan itu di ketahui dua tahun yang lalu.


"Kamu pasti bercanda," tukas Alira dingin pada Viona.


"Aku mengenal Ryan, luar dan dalam, aku sudah bersamanya selama bertahun-tahun, Alira," tegas Viona.


Alira menatap mata Viona yang terlihat bengkak, tampak seperti selalu menangis. "Aku pun berharap, itu tidak benar, tapi itu faktanya," lirih Viona. "Aku pun tidak bisa berhenti menangisi kepergiannya, dia pergi membawa segalanya dan tidak meninggalkan apapun untukku."


Alira menghela napas berat, ia mengusap perutnya yang masih rata itu, ada janin di dalam rahimnya, anak yang selama ini ia impikan, dan juga Daniel impikan.


Alira kembali menitikan air matanya, seandainya Daniel masih hidup, mungkin kehamilannya bisa menjadi penebus dosanya pada Daniel.


"Sekarang, kamu harus hidup dengan baik untuk anak-anakmu, Alira," sambung Ibu Linda yang selalu senantiasa menemani Alira.


"Dan karena tuan Daniel sudah pergi, maka secara otomatis, hak atas seluruh harta tuan Ryan akan jatuh pada anak tuan Daniel," imbuh sang pengacara Ryan.


.........


"Mama, kenapa kita kesini?" Tanya Leon sembari memperhatikan ke sekelilingnya, meraka ada di luar penjara, dan ini pertama kalinya Alira membawa kedua anaknya ke tempat seperti ini.


"Iya, Mama. Tempat apa ini?" Tanya Leo penasaran.


Alira masuk ke tempat itu dengan dada yang bergemuruh, kemudian ia berbicara dengan sipir penjara dan tak lama kemudian seorang wanita dengan penampilan yang sangat memprihatinkan datang.


Alira mendekati wanita itu, menyibak rambut yang menutupi wajah wanita itu dan Alira meringis melihat wajahnya yang rusak, bekas luka bakar.


"Calista...." gumam Alira tak percaya.


"Puas kamu? Kenapa kamu tidak membunuhku saja, huh?" geram Calista yang membuat Alira tersenyum sinis.


"Tidak," jawab Alira tenang. "Aku akan lebih puas kalau kamu mati perlahan di tempat ini," desis Alira tajam.


"Mau apa kamu datang ke tempat ini?" Tanya Calista kemudian.


"Hanya untuk memastikan, apakah kamu masih hidup atau sudah mati," jawab Alira santai kemudian ia segera pergi dari sana, tak perduli pada teriakan Calista yang begitu marah pada Alira.


Apalagi setelah kecelakaan hebat itu, tubuh Alira kini baik-baik saja, tentu pasti karena Alira mendapatkan perawatan terbaik, beda halnya dengan Calista yang setelah sadar dariku koma, justru langsung di giring ke penjara.


Alira berjalan dengan anggun menuju mobil, ia memakai kaca mata hitamnya dan tersenyum pada penjaga penjara sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil.


"Mama, apa nama tempat ini penjara?" Tanya Leo dengan polosnya.


"Iya, Sayang."


"Kenapa Mama pergi ke penjara?" Leon ikut bertanya.


"Ada sedikit urusan," jawab Alira.


"Dia sudah membayar semuanya...." Alira menoleh dan melihat Daniel yang kini duduk di sampingnya. "Kau tidak perlu menemuinya lagi, fokuslah pada hidupmu sendiri, Sayang."


"Aku merindukanmu...." Alira membelai pipi Daniel.


Sementara anak-anaknya itu kembali hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Ayo, Ma. Ini sudah siang, katanya Mama ada meeting hari ini."


Tbc....