
Merasakan bibir lembut Alira, otak Ryan pun menjadi blank dan ia ingin merasakan bibir itu lebih lagi.
Ryan memangut bibir Alira sembari menekan tengkuknya, sebuah perasaan asing menguasai jiwa dan hatinya saat Alira membalas ciuman itu.
Indah, seperti ia berada di tengah taman yang di penuhi kupu-kupu. Mendebarkan, seolah ia telah...
Ryan tersentak saat tiba-tiba Alira menarik diri dan menjauh dari Ryan.
Napas Alira memburu, tatapannya begitu sendu menatap adik iparnya ini dan Alira menyentuh bibirnya sendiri yang sedikit basah karena ciuman Ryan.
Apa yang telah ia lakukan? Alira bingung, bagaimana bisa ia berciuman dengan adik Daniel sementara Daniel sedang koma?
"Alira...." lirih Ryan namun Alira justru langsung berlari ke kamarnya, meninggalkan Ryan yang juga bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya dengan dirinya.
Ryan menunduk, menatap pusakanya yang masih tidur pulas, ia tidak berhasrat pada Alira. Namun, Ryan memegang dadanya yang berdebar kencang, bahkan napasnya terasa begitu berat hanya karena satu ciuman bibir.
Ryan memegang bibirnya yang seolah masih merasakan lembut nya bibir Alira. "Ya Tuhan! Apa yang terjadi denganku?"
Di kamarnya, Alira duduk termenung di tepi ranjang sembari memegang dadanya yang juga berdebar tidak karuan. "Ya Tuhan! Apa yang telah aku lakukan?" Alira bertanya lirih, ia mengusap bibirnya dan mengingat kembali bagaimana lembutnya ciuman Ryan.
"Tidak! Ini hanya kesalahan, ini tidak boleh terulang!"
...
Keesokan harinya, Alira dan Ryan berusaha bersikap biasa saja meskipun ada rasa yang tak biasa di hati mereka.
Alira dan Ryan pergi ke kantor Daniel untuk mengurus kantor yang mulai mengalami kemerosotan setelah banyak gosip tersebar tentang Daniel, bahkan beberapa investor menarik diri yang membuat Alira semakin sedih.
Alira duduk di kursi Daniel, ia memijit pangkal hidungnya sembari memperhatikan beberapa susunan berkas di depannya. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat perusahaan kembali stabil, Bu," tukas Tessa.
"Dalam bisnis ini hal biasa, Al," sambung Ryan mencoba menenangkan Alira. "Musuh bisnis Daniel pasti mengambil kesempatan ini untuk menjatuhkannya, dan untuk mengembalikan nama baik Daniel, kita harus membuktikan bahwa semua itu berita palsu."
"Tessa, aku ingin berbicara berdua dengan Ryan," ujar Alira dan Tessa pun mengangguk mengerti, ia segera meninggalkan Alira dan Ryan.
"Ada apa?" Tanya Ryan setelah Tessa keluar.
"Bagaiamana kita membuktikan itu berita palsu sedangkan faktanya memang seperti itu, Ryan?" Alira setengah berbisik pada Ryan. "Daniel memang membawa Calista ke hotel malam itu, dan Daniel memang menabrak seorang wanita. Itu semua fakta!"
"Aku tahu," jawab Ryan dengan lembut. "Tapi kita pasti bisa menemukan solusi untuk membersihkan nama Daniel, Alira. Kamu jangan menyerah, aku akan membantumu, hm?"
Alira tampak semakin frustasi, berkali-kali ia memijat kepalanya yang terasa sakit hingga kemudian ponselnya berdering. Alira menjawab panggilan itu yang ternyata dari rumah sakit, dan Alira tersenyum lega saat mendengar kabar baik bahwa wanita bernama Pita itu telah siuman.
"Wanita itu sudah sadar, ayo kita ke rumah sakit!"
...
Sesampainya di rumah sakit, Alira dan Ryan langsung menemui Pita di ruang rawatnya.
"Halo, ibu Pita," sapa Alira sambil tersenyum ramah. "Perkenalkan, saya Alira. Istri Daniel, seseorang yang membuat Ibu berada di rumah sakit ini," ucap Alira yang membuat kening Pita langsung berkerut.
Alira menggengam tangan kurus wanita itu, ia menatap matanya dan kembali berkata. "Saya minta maaf atas apa yang suami saya lakukan, Bu. Tapi saya janji, saya akan menanggung semua pengobatan Ibu sampai sembuh total," tukasnya meyakinkan. Karena Alira tidak mau kalau sampai wanita ini menuntut Daniel nantinya.
Pita tersenyum dan mengangguk, kemudian ia mencoba melepaskan oksigen yang terpasang di mulutnya untuk bisa berbicara dengan Alira.
"Jangan di lepas," ucap Ryan namun Pita tetap melepasnya.
"Saya...." Pita berkata dengan sedikit kesulitan. "Saya ada disana karena memang saya ingin mengakhiri hidup saya, Bu," ucapnya yang membuat Ryan dan Alira tercengang, keduanya saling pandang dengan tatapan bingung.
"Maksudnya?" Tanya Alira.
"Saya tidak punya siapa-siapa, kemiskinan mencekik saya, saya memang ingin mati, untuk memnyusul suami saya," ucap Pita dengan suara bergetar dan ia pun menangis.
Alira merasa iba melihatnya, apalagi melihat wanita ini sudah tua, lemah. Alira menggenggam tangan Pita dan berkata. "Semuanya akan baik-baik saja, Bu. Saya juga tidak punya siapa-siapa dulu sampai akhirnya ibu Linda menemukan saya dan merawat saya di panti asuhan, jika ibu mau, ibu bisa tinggal disana."
Ibu Pita kembali menangis mendengar ucapan Alira, ia seperti punya harapan baru dan tentu ia langsung mengangguk setuju.
Sementara Ryan, ia merasa ini adalah solusi yang mereka cari.
" Apa kami boleh minta tolong?" Tanya Ryan pada Pita. "Apa ibu mau memberikan kesaksian pada semua orang tentang Daniel?"
...
Alira dan Ryan keluar dari ruang rawat Pita dengan wajah yang berbinar setelah Pita menyatakan bersedia memberikan kesaksian bahwa kecelakaan itu terjadi bukan karena Daniel mabuk melainkan karena ia memang sengaja ingin menabrakan diri.
"Terima kasih." ucap Alira dengan antusias pada Ryan, bahkan ia langsung memeluk Ryan dengan sangat erat yang membuat tubuh Ryan langsung menegang. "Terima kasih banyak, Ryan."
Dengan ragu, Ryan membalas pelukan Alira, mengusap punggung wanita, sambil tersenyum dia berkata. "Apapun untukmu, Alira."
Tbc....