
Karena ini adalah malam terkahir Alira dan Daniel di Paris, Ryan membawa hendak membawa mereka makan malam di luar namun Aira menolak, ia lebih memilih memasak di rumah, lebh tepatnya, ia ingin memasak makanan untuk Ryan untuk terkahir kalinya.
Ryan pun membantu Alira memasak begitu juga dengan Daniel, sesaat, ketiganya bersenang-senang, bahkan bercanda satu sama lain dan melupakan masalah yang sedang mereka simpan.
"Bagaiamana jika ini asin?" Tanya Ryan sembari menambahkan sedikit garam ke dalam panci yang berisi sup.
"Jika asin, berarti kelebihan garam," jawab Daniel. "Jika hambar, berarti kurang garam." lanjutnya yang membuat Ryan terkekeh.
"Jawabannya memang selalu seperti itu," sambung Alira.
"Lalu mana yang kau suka, Sayang?" Tanya Daniel. "Hambar atau asin?"
"Tentu saja aku suka rasa yang pas," jawab Alira.
"Itu pertanyaan bodoh, Daniel," tukas Ryan sambil tertawa.
"Yeah, benar juga," gumam Daniel.
Setelah semua makanan siap, mereka pun menatanya di meja makan.
Setelah itu, mereka bertiga duduk di kursi masing-masing karena ketiganya sudah merasa sangat kelaparan.
"Hem, enak," seru Ryan saat mencicipi masakan Alira. "Sepertinya aku akan merindukan masakanmu ini," tukasnya sembari menatap Alira penuh arti.
"Pulang saja ke Indonesia jika kau rindu masakan kakak iparmu ini," sambung Daniel yang membuat raut wajah Alira berubah, begitu juga dengan Ryan. "Kenapa diam?" Tanya Daniel karena kedua orang di depannya ini tiba-tiba membisu dengan raut wajah yang tak biasa.
"Tidak apa-apa," jawab Ryan memaksakan bibirnya tersenyum.
Kini Daniel raut wajah Daniel yang berubah, ia menatap istrinya yang mulai menikmati hidangan makan malam ini dengan lahap.
"Kenapa?" Tanya Alira karena Daniel hanya menatapnya.
"Tidak apa-apa," jawab Daniel yang juga memaksakan diri untuk tersenyum.
Ketiganya pun makan malam sembari membicarakan beberapa hal yang tak penting agar suasana tidak tegang karena ketiganya menyimpan kebohongan yang sama-sama, yang pasti akan mengecewakan saat kebohongan itu terungkap.
Setelah memastikan dapur bersih, kini mereka berkumpul di ruang keluarga sembari di tempat wine untuk menghangatkan tubuh mereka, karena cuaca begitu dingin.
Saat hari mulai semakin larut, Daniel mengajak Alira tidur, Ryan pun juga bergegas ke kamarnya karena ia pun merasa mengantuk.
"Al...." seperti biasa, Daniel memeluk Alira dan mencium kepala wanita itu dengan lembut. "Maaf ya, karena kita harus pulang tiba-tiba seperti ini," ucapnya.
"Tidak apa-apa," jawab Alira singkat.
"Lain kali kita akan merencanakan liburan lagi, aku janji," ujar Daniel meyakinkan namun sepertinya bukan itu yang di harapkan Alira, karena ia tak yakin akan ada lain kali.
Tanpa menjawab ucapan Daniel, Alira memejamkan dan mencoba tidur walaupun sebenernya ia tidak mengantuk sedikitpun. Terlalu banyak yang menjadi beban Alira, terlalu banyak yang harus ia hadapi, terlalu banyak yang harus korbankan dan lakukan dalam hidupnya yang seolah takkan pernah lepas dari penderitaan ini.
Sementara Daniel perlahan mulai tertidur, terdengar dengkuran halus darinya.
.........
Ryan sangat mengantuk, apalagi ia merasa lelah setelah seharian bekerja. Namun entah kenapa matanya seolah tak mau terpejam. "Ah! Sial...." geram Ryan kesal.
Karena tak juga bisa tidur, akhirnya Ryan pun keluar dari kamarnya, ia kembali ke ruang keluarga, menyalakan tv dan menikmati wine.
Ryan teringat dengan apa yang di katakan Daniel, pria itu kembali menipu Alira, namun kini Alira juga menipunya. Dan sialnya, Ryan adalah kunci dari kebohongan suami istri.
"Aku harus bagaimana? Memberi tahu Alira?" gumam Ryan bingung, di satu sisi, ia tidak tega Alira di bohongi, namun di sisi lain, Alira dan dirinya juga berbohong pada Daniel, bahkan kebohongan mereka jauh lebih besar.
"Ryan...." Ryan mendongak saat mendengar suara Alira, ia melihat Alira yang berjalan ke arahnya dengan tubuh yang di bungkus selimut. "Kenapa kamu masih disini?" Tanya Alira kemudian ia duduk di samping Ryan.
"Aku tidak bisa tidur, Al. Kamu sendiri kenapa tidak tidur?" Tanya Ryan, ia menarik wanita yang di cintainya itu agar meletakkan kepalanya di pangkuan Ryan.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Alira. "Besok kita akan berpisah," lirihnya.
"Hanya sebentar," jawab Ryan kemudian ia mengecup kening Alira. "Tidurlah denganku malam ini, Al. Aku pasti akan sangat merindukanmu."
Tbc.