Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA # 21 - Her Touch



Lampu masih mati, hujan masih deras dan petir pun masih menyambar di berbagai arah.


Alira sudah hampir memejamkan mata karena hari sudah malam, namun beda halnya dengan Ryan yang hanya bisa menutup mata namun tak bisa tidur.


Ryan tak bohong saat mengatakan ia tak suka gelap dan ia memang takut hantu, itu adalah bawaan dari kecil.


"Al..." Ryan mencolek pipi Alira yang tidur di sisinya namun jarak mereka terhalang oleh guling.


Tidak ada cara lain, Ryan takut sendirian, dan Alira sudah sangat mengantuk, jadi keduanya sepakat akan tidur di ranjang Alira namun dengan garis batas berapa guling.


"Alira..." Ryan merengek yang membuat Alira berdecak kesal.


"Apa, Ryan?" Ketusnya.


"Kapan lampunya nyala? Aku tidak bisa tidur kalau lampunya gelap," rengek Ryan yang membuat Alira mengerang kesal.


"Ini sudah terang, Ryan. 'kan ada lilin," tukasnya sembari mengucek matanya yang sudah sangat berat itu.


Napas Ryan memberat, ini sangat memalukan untuknya karena ada orang yang tahu kelemahannya. Ryan pun berbalik dan memunggungi Alira, namun tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan yang menyentuh lengannya. Ryan terkejut dan langsung beranjak duduk.


"Ini aku, Ryan. Astaga!" Alira sungguh tak menyangka dengan reaksi Ryan.


Keduanya pun tidur berhadapan, saling menatap di bawah cahaya tamaram dari satu lilin itu. "Jadi, bagaimana bisa orang yang tinggal di luar negeri sepertimu takut hantu?" Tanya Alira sambil terkekeh.


Ryan memposisikan tidurnya dengan lebih nyaman, kemudian ia menceritakan masa kecilnya saat ia nonton film horor kemudian listrik tiba-tiba mati, saat itu Ryan merasa ada yang menarik kakinya, dia berteriak histeris dan jatuh pingsan. Setelah itu, ia phobia terhadap kegelapan.


Alira yang mendengar itu justru terkekeh, bukannya tak mempercayai cerita Ryan, namun ia merasa hal itu biasa terjadi pada anak-anak.


Setelah bercerita, Ryan menguap, ia pun tampak mengantuk dan perlahan matanya terpejam.


Alira menatap wajah Ryan, dan ia merasakan beberapa persamaan dalam diri Ryan dan Daniel. Kedua pria itu seperti memiliki power yang luar biasa namun dalam waktu yang bersamaan, mereka memiliki kekurangan yang tak terduga.


.........


Ryan menguap dan ia menggeliat malas saat terbangun di pagi hari, malam ini ia merasa nyenyak sekali, bahkan ia juga bermimpi indah.


Saat Ryan membuka mata, ia menyadari itu bukan kamarnya dan Ryan mengulum senyum saat mengingat kejadian semalam yang begitu memalukan.


Ryan hendak bangun namun ia merasakan lengan mungil di perutnya, ia pun menoleh dan Ryan kembali mengulum senyum saat melihat Alira yang tidur memeluknya, mulut wanita itu sedikit terbuka dan terdapat sedikit air liur di sudut bibirnya.


Ryan mengerutkan keningnya kemudian ia melirik juniornya di bawah sana yang masih tertidur lemas. "Aneh, biasanya dia langsung bangun kalau bertemu dengan mangsa. Tapi kenapa malam ini dia tetap tidur?" Gumam Ryan heran, karena yang bereaksi pada sentuhan dan pelukan Alira hanya jantung dan hatinya.


Namun, bukannya ingin mencumbu seperti yang biasa ia lakukan pada setiap wanita yang berada di atas ranjangnya, Ryan justru kembali tersenyum dan ia menyelimuti Alira dengan benar.


Tak berselang lama Alira pun terbangun dan ia melihat Ryan yang hendak pergi dari kamarnya, Alira langsung memanggilnya. "Apa kamu tidak mau mandi dulu?" Tanya Alira sembari mengucek matanya dan ia menguap.


"Aku akan mandi di rumah saja," jawab Ryan.


"Sarapan di sini saja dulu, kalau kamu mau mandi, ada baju Daniel di lemari sana!" Alira menunjuk lemari pakaiannya.


Daniel?


Raut wajah Ryan berubah saat mendengar nama Daniel, kenapa ia lupa bahwa wanita yang tadi malam satu ranjang dengannya adalah istri dari kakaknya?


" Ada apa?" Tanya Alira dan Ryan menggeleng pelan.


" Mandilah! Aku akan mandi di kamar mandi ibu Linda."


...


Setelah semua anak-anak sarapan, kini Alira mengajak Ryan sarapan bersama di taman panti asuhan.


"Apa kau tahu? Tadi kau memelukku," kata Ryan yang membuat pupil mata Alira langsung melebar.


"A-apa?" Tanya Alira bingung karena ia tak ingat memeluk Ryan.


"Tadi, saat bangun tidur, tanganmu ada di atas perutku," tukas Ryan yang membuat wajah Alira langsung tersipu malu.


"Benarkah? Ma-maaf," lirih Alira.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Sentuhan mu juga tidak berarti apa-apa bagiku," ucap Ryan kemudian sambil mencebikkan bibirnya. Alira menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum miring.


"Benarkah?" Tanya Alira dan Ryan mengangguk sembari kembali menikmati makanannya. "Hebat sekali, kamu tidak tergoda oleh sentuhan wanita," tukas Alira dan Ryan kembali mengangguk.


Alira berdiri dan tiba-tiba menangkup pipi Ryan. "Apa sekarang kau merasakan sentuhanku?" Tanya Alira. Ryan menahan napas dan menggeleng, namun jelas ia merasakan sentuhan Alira, bahkan rasa itu menyentuh sampai ke relung hatinya.


Alira menatap mata Ryan yang tajam, dan tanpa di sangka, Alira mengusap bibir Ryan dengan jarinya yang membuat kedua mata Ryan langsung melebar dan ia semakin menahan napas.


"Apa kau merasakan sentuhanku?" Alira bertanya dengan lirih, dengan susah payah, Ryan menggelengkan kepalanya meskipun jantungnya berdebar kencang.


Alira terkekeh, dan ia mengacak rambut Ryan seperti anak-anak kemudian berkata. "Good boy."