
Mendengar kabar bahwa Daniel sudah sadar tentu membuat Ryan sangat senang, dan tanpa membuang waktu sedikitpun, ia dan Viona langsung ke rumah sakit.
Sementara di rumah sakit, Dokter melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada Daniel.
Ada kerusakan pada bagian otak yang berfungsi untuk membentuk sistem limbik, maka dari itu, Dokter memastikan bahwa Daniel amnesia.
Alira yang mendengar kabar itu tentu terkejut dan juga bingung. "Apa ini bisa di sembuhkan, Dok?" Tanya Alira.
"Masih ada kemungkinan untuk sembuh, Bu. Walaupun itu pasti tidak mudah, namun Bu Alira bisa sedikit demi sedikit mengingatkan pak Daniel akan masa lalunya, terutama masa-masa yang berkesan untuknya."
Alira mengangguk mengerti, terbersit dalam benaknya untuk pura-pura tak ada hubungan apapun dengan Daniel dan membiarkan Daniel lupa ingatan selamanya agar Alira bisa segera berpisah dari Daniel.
Namun Alira teringat, walaupun menyakitinya, tapi Daniel juga pernah mencintai Alira dan Daniel juga sangat baik pada keluarga yang di panti asuhan.
Alira melangkah lesu di lorong rumah sakit menuju kamar Daniel, dengan fikiran yang berkelana kemana-mana.
"Tidak, aku tidak mungkin lari dari tanggung jawab," gumam Alira. "Aku memulai hubungan kami dengan cinta, maka kami harus pisah secara baik-baik."
Alira masuk ke kamar Daniel dan ia mendapati Daniel yang tampak melamun, Alira duduk di samping suaminya itu.
Daniel menoleh dan ia melirik tangan Alira, di mana ia melihat cincin pernikahan tersemat di jari manis Alira, kemudian ia melihat jari manisnya sendiri yang tersemat cincin pernikahan yang sama, Daniel tersenyum kemudian berkata, "Jadi kita suami istri?"
Alira mengangguk lemah. "Kau cantik sekali," puji Daniel namun wajahnya tampak sedih. "Aku tidak ingat apapun, kepalaku juga sakit. Aku pasti sangat merepotkanmu, ya?"
Alira tersenyum tipis dan menggeleng. "Kata Suster, aku di rawat lebih dari seminggu, apa kau tahu kenapa aku kecelakaan?" Tanya Daniel yang seketika membuat Alira semakin bingung, tak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa kau diam?" Tanya Daniel.
"Aku...." ucapan Alira terhenti saat ia mendengar pintu yang terbuka, Alira menoleh dan melihat Ryan yang datang bersama Viona.
Alira salah tingkah saat Ryan menatapnya, apalagi saat ia mengingat bagaimana dirinya menyatakan cinta pada pria itu kemarin sore.
"Hey, kawan!" Sapa Ryan, ia sudah tahu apa yang terjadi pada Daniel karena Alira sudah mengirimkan pesan padanya tadi.
"Dia Ryan, adikmu," kata Alira yang melihat Daniel tampak sedikit bingung.
"Aku tidak asing denganmu, Ryan," ucap Daniel. "Aku rasa kita pasti sangat dekat, aku bisa merasakan ikatan persaudaraan di antara kita." lanjutnya yang membuat Ryan merasa terharu.
"Kita memang sangat dekat, seperti saudara kembar saja," jawab Ryan.
Sementara Alira kini justru melirik Viona yang berdiri di samping Ryan, api cemburu bergejolak di hati Alira membayangkan Viona adalah salah satu wanitanya Ryan. Namun Alira mencoba menahan rasa itu dan kembali fokus pada Daniel.
"Aku haus sekali," kata Daniel sembari menatap istrinya itu. Alira segera mengambil air, membantu Daniel minum kemudian Alira mengusap bibir Daniel yang basah. "Terima kasih," ucap Daniel.
"Sama-sama, Sayang," jawab Alira sambil tersenyum.
Ryan yang melihat hal itu juga merasakan sesuatu yang bergejolak dalam hatinya, sesak, perih, ia tidak suka melihat perhatian Alira untuk Daniel.
"Apa dia kekasihmu?" Tanya Daniel sembari melirik Viona.
"Hanya teman," jawab Ryan yang tentu saja membuat hati Viona seperti tercubit.
"Kau akan menemaniku?" Tanya Daniel dan Alira mengangguk.
...***...
Semakin hari kondisi Daniel semakin membaik, apalagi ia memiliki keinginan yang kuat untuk sembuh setelah Alira memberi tahu bahwa Daniel adalah seorang CEO sekaligus pemilik perusahaan yang sangat besar, dan perusahaan itu membutuhkan Daniel secepatnya,
Selain itu, Ryan dan Alira berusaha mengembalikan ingatan Daniel dengan terus menceritakan masa-masa mereka yang begitu berkesan setiap hari.
Daniel yang sekarang seperti Daniel saat pertama kali Alira mengenalnya, begitu lembut, manis, dan hangat, dan Alira merasa nyaman berada di dekat suaminya itu, ia bernostalgia pada masa-masa pacaran mereka dulu.
Alira dan Daniel kembali dekat, bahkan mereka terlihat romantis bagaimana layaknya suami istri yang saling mencintai.
Sementara Ryan, semakin hari rasa sesak di dadanya semakin kuat setiap kali ia melihat kedekatan Alira dan Daniel.
Ryan ingin marah, namun ia tidak tahu harus marah pada siapa. Ryan tidak lagi mengenali dirinya sendiri, dan perlahan ia mulai menyadari, bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Alira.
Saat ini Ryan sedang berjalan di rumah sakit menuju kamar Daniel dengan membawa sekeranjang buah.
Saat membuka pintu kamar Daniel, Ryan terkejut melihat Daniel dan Alira yang berciuman. Hati Ryan terasa panas, sakit, sesak, bahkan ia kesulitan bernapas.
"A-Alira...." panggil Ryan dengan suara yang tercekat.
Alira yang terkejut mendengar suara Ryan langsung melepaskan diri dari ciuman suaminya itu dan menoleh pada Ryan. "Oh, hai, Ryan!" Alira mengusap bibirnya yang basah.
"Ada yang ingin aku bicarakan," ujar Ryan. Ia segera meletakkan keranjang buah di atas meja kemudian ia menarik tangan Alira. Daniel yang melihat itu hanya bisa mengernyit bingung, apalagi ia melihat kemarahan di wajah Ryan.
Ryan membawa Alira keluar dari kamar Daniel dan mendesak tubuh Alira ke dinding."Kenapa kamu mau menciumnya, Alira?" Geram Ryan bahkan ia meninju tembok di belakang Alira dengan penuh emosi yang membuat Alira terlonjak.
Alira menahan napas, ia hanya bisa menatap Ryan dengan bingung. "Kamu ingin bercerai darinya, 'kan? Kenapa sekarang kamu bersikap mesra padanya, huh?" Desis Ryan tepat di depan wajah Alira.
"Apa maksudmu, Ryan?" dengan susah payah Alira melontarkan pertanyaan itu.
Ryan melangkah mundur, tatapannya begitu tajam, rahangnya mengetat, ia menyugar rambutnya dengan frutasi.
"Astaga! Demi Tuhan, Alira! Aku tidak suka melihat kau menciumnya!" Desis Ryan tajam.
"Dia suamiku," jawab Alira dengan kening yang berkerut dalam.
"Tapi kau mencintaiku!" Seru Ryan tanpa perduli bahwa bisa saja orang lain mendengar hal itu.
Alira terdiam, ia menatap Ryan dengan bingung, apalagi akhir-akhir ini sikap Ryan memang sangat berbeda, lebih dingin, lebih acuh.
"Lalu? Hanya karena aku mencintaimu, itu tidak merubah kenyataan bahwa aku istri Daniel!" Balas Alira juga mendesis tajam.
Alira hendak meninggalkan Ryan namun Ryan langsung menarik tangan Alira, mendorong Alira hingga tubuhnya menabrak dinding dan Ryan langsung memangut bibir Alira yang membuat Alira terkejut dan seluruh tubuhnya langsung menegang sempurna.
Tbc...