Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #25 - I Love You, But...



Seperti biasa, Alira akan mengambil alih perusahaan selama Daniel koma, tentu dengan Ryan yang bak bodyguard, selalu ada di sisinya.


Saat ini Ryan sedang melakukan rapat dengan staf penting perusahaannya, mereka mencari solusi bersama untuk membuat perusahaan normal kembali.


Disini, Alira tampak gugup, karena ini pertama kalinya ia memimpin meeting di perusahaan yang tak kecil. Namun berkat dukungan Ryan dan Tessa, Alira bisa melakukannya dengan baik.


"Perusahaan akan sangat membaik jika kita berhasil membersihkan nama pak Daniel."


"Itu benar, orang-orang meragukan perusahaan kita karena mengira pak Daniel telah berselingkuh, mabuk dan menabrak seseorang."


"Kita harus mencari wanita yang ada di rekaman cctv itu dan memaksa wanita itu mengatakan pada media bahwa berita yang tersebar adalah palsu."


Alira mendengarkan dengan seksama saran-saran mereka semua, kemudian ia melirik Ryan yang duduk di sampingnya.


"Kau punya pendapat sendiri?" Tanya Ryan yang membuat Alira terkekeh, karena Ryan seolah bisa membaca fikirannya. Alira memang punya pendapat sendiri namun ia masih ragu untuk mengatakannya.


"Bu Alira, jika kau punya pendapat sendiri, katakanlah! Kau istrinya pak Daniel, pemimpin kedua di perusahaan ini," tukas Tessa.


"Iya, katakan saja," sambung Ryan yang akhirnya membuat rasa percaya diri Alira meningkat.


"Aku yakin, yang membuat investor menarik diri dari perusahaan kita, yang membuat orang meragukan perusahaan kita bukan hanya gosip yang beredar, namun pasti ada seseorang yang menjadi provokator, yang mengambil kesempatan dalam musibah ini untuk menjatuhkan Daniel," tutur Alira dengan keyakinan penuh.


"Maksudnya, apakah ada orang yang sengaja membesar-besarkan masalah ini?" tanya Tessa dan Alira mengangguk yakin.


"Kamu sudah bekerja dengan suamiku sangat lama, Tessa. Menurutmu , siapa yang akan mengambil kesempatan ini?" Tanya Alira sembari melipat tangannya di atas meja.


Tessa terdiam sembari memikirkan beberapa orang yang menjadi musuh dalam bisnis Daniel, namun Tessa tak yakin siapa yang menjadi pelakunya.


"Saya tidak tahu, Bu. Karena selama ini, persaingan bisnis pak Daniel sangat sehat dan tidak melibatkan urusan pribadi," jawab Tessa.


"Apa mungkin ada musuh dalam selimut? Yang ingin menghancurkan Daniel dari dalam?" Tanya Ryan yang membuat Alira kembali berfikir.


Musuh dalam selimut?


.........


"Hari ini sangat melelahkan," ucap Alira sembari melepas outer yang ia kenakan.


Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil setelah melakukan berbagai pekerjaan di kantor, Alira pun merasakan lelahnya memimpin sebuah perusahaan.


Alira tidur dengan nyenyak di mobil, sementara Ryan fokus menyetir sembari sesekali melirik Alira.


Ponsel bergetar di sakunya, ia pun merogoh ponsel itu dan melihat notifikasi pesan masuk dari Viona. Ryan membuka pesan itu dan terpampanglah foto Viona yang tak mengenakan apapun sedang berbaring di tengah ranjang.


Ryan terkekeh dan hanya menggeleng, dulu, saat ia melihat foto seperti ini, Ryan tentu akan bergairah dan tanpa membuang waktu akan mendatangi Viona kemudian bercinta dengannya sampai lemas.


Namun, sekarang berbeda. Entah kenapa Ryan merasa itu hal lucu dan hasratnya tidak terpancing. Ryan menghubungi Viona, dan hanya beberapa detik kemudian terdengar suara lembut wanita itu yang bahkan terkesan mendesah.


"Ada apa? Apa kau tidak punya pekerjaan?" Ryan bertanya sambil tertawa kecil.


"Apa ini Ryan?" Tanya Viona dari seberang telfon.


"Tentu saja, manis. Menurutmu siapa lagi?" Tanya Ryan sambil tertawa.


"Benarkah? Setelah melihat foto seksiku, apa itu tanggapanmu? Aku sedang di hotel, menunggumu." Ryan tahu, Viona menggodanya saat ini, namun Ryan tak bisa merasakan godaan itu.


"Aku sedang dalam perjalanan pulang bersama Alira, dia terlihat sangat lelah jadi kami akan pulang, apalagi nanti malam kami harus kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Daniel," jawab Ryan panjang lebar yang sudah pasti membuat Viona tercengang, bahkan tak terdengar suara gadis itu sedikitpun.


"Viona? Kau mendengarku?" Tanya Ryan.


"Baiklah, selamat mengurus kakak iparmu," tukas Viona dengan dingin kemudian ia memutuskan sambungan telfonnya sementara Ryan hanya mengernyitkan keningnya.


Sementara Alira, sebenarnya ia terbangun dan ia mendengar apa yang di katakan Ryan, hati Alira begitu tersentuh.


Sesampainya di rumah, Ryan menggendong Alira turun dari mobil karena Alira masih memejamkan mata dan Ryan yang berfikir Alira masih tidur pun tak tega untuk membangunkan nya.


Ryan membawa Alira ke kamarnya, melepas sepatunya, kemudian menyelimutinya.


Perlakuan lembut itu kembali membuat Alira tersentuh dan ia menginginkan perhatian itu selamanya.


Saat Ryan hendak pergi, Alira mencekal tangannya. "Kau bangun?" Tanya Ryan.


Alira pun beranjak duduk, ia mendongak demi menatap mata Ryan yang berdiri di depannya.


"Ada apa?" Tanya Ryan dengan suara yang serak, tatapan Alira begitu berbeda saat ini, membuat hati Ryan bergetar.


"I love you...."