
Ryan terus mencium bibir Alira tanpa henti, seolah ia begitu kecanduan akan rasa bibir wanita yang merupakan kakak iparnya itu.
"Emmhhh...." Alira melenguh saat Ryan menghisap dan menarik bibirnya, Alira membusungkan dadanya hingga menempel di dada Ryan. "Oh...." Alira melenguh saat Ryan menyusuri lehernya dengan bibir panasnya itu, Alira mendongak dan menekan kepala Ryan ke ceruk lehernya.
"I love you," bisik Ryan, dengan sengaja ia menghembuskan napas panasnya di ceruk leher Alira.
"I love you," balas Alira. Ia menarik kepala Ryan hingga sejajar dengan wajahnya, ia pun langsung memangut bibir Ryan, mellumat bibir itu dengan mesra Dan lembut.
"Ahh...." Alira kembali melenguh saat Ryan kembali memasukan pusakanya di bawah sana, Ryan pun melenguh, ia mendongak, memejamkan mata, menikmati pijatan di bawah sana yang terasa masih ketat dan sempit.
"Oh, aku akan merindukan ini," racau Ryan sembari memaju mundurkan pinggulnya dengan pelan.
"Emmh, Ryan," racau Alira sembari melingkarkan kakinya di pinggang Ryan.
"Yeah, Sayang. Sebut namaku," tukas Ryan dengan suara beratnya sebelum akhirnya ia bergerak lebih cepat dan menusuk lebih dalam yang membuat Alira menjerit nikmat.
Tanpa memikirkan status, tanpa memikirkan waktu dan tempat, keduanya terus bercinta lagi dan lagi hingga keduanya merasa lemas dan tak lagi memiliki tenaga.
Ryan ambruk di atas tubuh Alira, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alira yang sudah basah karena keringat.
Keduanya terengah setelah kegiatan panas dan terlarang mereka itu, bahkan Ryan merasa, ini adalah percintaannya yang paling hebat. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bosan pada tubuh Alira meskipun ia terus mengulangi percintaan itu. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sampai kehabisan tenaga di atas ranjang dan itu tidak membuatnya merasa cukup, ia masih menginginkannya lagi-lagi.
"Make me yours, Alira," bisik Ryan sembari mengatur napasnya dan Alira mengernyit saat merasakan lehernya basah.
"Ryan...." Alira membuat Ryan mendongak dan ia terkejut karena pria itu menangis. "Ada apa, Sayang?" tanya Alira dan dengan lembut, ia menghapus air mata Ryan yang mengalir di pipinya.
"Aku takut kamu memilih Daniel dan meninggalkanku," lirih Ryan yang membuat Alira terenyuh, ia tidak menyangka seorang Ryan bisa menangis.
Sementara Ryan, ia sendiri tidak tahu kenapa air matanya mengalir begitu saja saat memikirkan Alira akan memilih Daniel di bandingkan dirinya.
"Aku di sini, Ryan. Akan selalu menjadi milikmu," tukas Alira ia mengecup kelopak mata Ryan dengan lembut. "Jangan menangis, itu tidak terlihat seperti dirimu," ucapnya sambil terkekeh.
"Aku tidak tahu," jawab Ryan. "Aku tidak pernah menangis, aku fikir aku sudah tidak punya air mata lagi," ucap Ryan yang kembali membuat Alira terkekeh.
Alira menarik Ryan ke pelukannya, ia mendekap pria itu dengan erat kemudian berkata. "Aku hanya akan menjadi milikmu atau tidak akan ada yang memilikiku."
.........
Ryan menunggu Alira dan Daniel dan di mobil, Ryan tak bisa menyembunyikan kesedihannya karena akan berpisah dengan Alira, wanita yang telah mengalihkan dunianya.
Tak lama kemudian Daniel dan Alira masuk ke dalam mobil setelah memasukan barang-barang mereka ke bagasi.
"Sudah semua?" Tanya Ryan. "Tidak ada yang ketinggalan?"
"Ada," jawab Daniel.
"Apa?" Sambung Alira.
"Ryan," jawab Daniel sambil tertawa kecil, Ryan yang medengar itu ikut tertawa, kesedihannya sedikit berkurang.
"Ryan adalah bagian dari hidupku yang membuat hidupku semakin sempurna," tukas Daniel lagi yang membuat Ryan terdiam. "Tentu juga dirimu, Sayang," tukas Daniel sembari mengecup tangan Alira.
Ryan dan Alira tampak tegang, karena jika Daniel tahu hubungan mereka, maka hidup Daniel pasti akan berakhir.
Tbc...