
Ryan memandangi foto pernikahan Daniel dan Alira yang di panjang di ruang keluarga, Ryan bisa melihat kebagiaan yang begitu besar di mata Alira dan Daniel saat itu. Kebahagiaan yang tak pernah lagi ia lihat di mata mereka sekarang.
Sementara Ryan saat itu sengaja tidak pulang untuk menghadiri pernikahan Daniel karena ia merasa itu tidak penting, Ryan bahkan pernah mengingatkan Daniel agar Dia tidak menikah karena pernikahan hanya sebuah musibah, sama seperti yang terjadi pada orang tua mereka. Namun saat itu Daniel bersikeras akan menikahi Alira dan ia yakin, pernikahannya dan Alira akan baik-baik saja, akan berbeda dari kedua orang tua meraka.
Bahkan Daniel berkata pada Ryan, ia akan memastikan Alira setia padanya, karena itu lah ia begitu posesif selama ini.
Ryan mengusap wajahnya dengan kasar, hidupnya dan hidup Daniel sudah hancur sejak kedua orang tua mereka mulai selingkuh. Dan seharusnya hidup Daniel kambeli bisa di perbaiki dengan adanya Alira, apalagi Alira telah mengakui pada Ryan bahwa sebenarnya ia sangat mencintai Daniel, namun Ryan menghancurkan segalanya.
"Sial!"
"Sial!"
Geram Ryan bahkan ia meninju dinding beberapa kali, melampiaskan segala perasaan yang bercampur aduk dalam hatinya.
.........
Sementara di sisi lain, Daniel berusaha mencari keberadaan Calista ke semua tempat yang kemungkinan di gunakan Calista menahan Alira. Daniel merasa kesulitan karena ia tidak mengenal Calista cukup dekat, ia tidak begitu mengenal gadis itu.
"Dimana kamu Calista?" gumam Daniel yang saat ini sedang berada dalam mobilnya yang melaju entah kemana. "Apa kamu melakukan semua ini karena dendam padaku? Kenapa justru manargetkan Alira? Kenapa harus Alira?"
Daniel terus melajukan mobilnya hingga tak lama kemudian ia mendapatkan telfon dari anak buahnya yang memberi tahu Daniel bahwa mereka berhasil melacak ponsel Calista dan mereka segera mengirimkan lokasinya pada Daniel.
"Sial...." geram Daniel saat melihat lokasi itu adalah gudang penyimpanan minyak milik keluarga Calista. Daniel tahu tempat itu, karena ia pernah berencana akan membelinya dari Jared.
Daniel langsung melajukan mobilbya menuju gudang itu namun tiba-tiba ia teringat dengan Ryan.
Daniel langsung menghentikan mobilnya, kemudian ia mengirim lokasi keberadaan Calista pada Ryan dan mengirim pesan adiknya itu yang memintanya untuk menjemput Alira disana.
"Jemput Alira disana, setelah itu pergilah dari hidupku dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku atau aku akan membunuh kalian berdua!"
.........
Tanpa membuang waktu, Ryan pun pergi ke kantor Daniel untuk mencari pria itu namun sesampainya di kantor, Daniel justru tidak ada disana. Bahkan Tessa mengatakan Daniel tidak ada sejak pagi tadi.
"Memangnya ada apa?" Tanya Tessa yang melihat Ryan tampak cemas.
Namun tanpa menjawab, Ryan segera bergegas pergi dari sana untuk mencari Alira di lokasi yang sudah Daniel kirimkan.
Ryan pergi sendirian dengan perasaan cemas, khawatir, dan juga takut. Ia bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi, dan Ryan tercengang saat ia sampai di lokasi tujuannya.
Sebuah pabrik minyak.
"Apa Daniel menjebakku?" Gumam Ryan penuh tanda tanya.
Ia pun mencoba memasuki gedung itu yang sangat sepi, tidak terlihat tanda-tanda keberadaan seseorang dari sana.
Ryan memasuki gudang itu sendirian sembari memanggil nama Alira.
"Alira...."
"Al...."
"Kamu di sini?"
"Ali... Aghhh...." Ryan mengerang saat merasakan sebuah pisau yang menusuk punggungnya.