
Daniel merutuki dirinya sendiri setelah mendengar pesan yang di kirim Ryan beberapa menit yang lalu, pesan suara itu berisi pengakuan Alira yang ternyata sangat mencintainya.
"Seharusnya aku percaya padamu, Alira. Seharusnya aku percaya pada cintamu, tidak mungkin cintamu berpaling begitu saja," gumam Daniel antara marah dan senang.
Ia marah pada dirinya sendiri yang menyerah begitu cepat pada Alira, namun ia juga senang karena ternyata Alira masih sangat mencintainya, ia hanya nyaman bersama Ryan dan Daniel tak bisa menyalahkan Alira hal itu.
Daniel yang mendorong Alira ke pelukan Ryan, sementara Ryan sangat tahu cara memperlakukan wanita.
Daniel menyetir dengan kecepatan tinggi menuju lokasi keberadaan Alira, ia harus menyelamatkan istri dan adiknya itu yang mungkin sekarang dalam bahaya.
...... ...
"Ryan...."
"Ryan, bangun...."
"Aku mohon, Ryan. Ayo bangun...."
Kelopak mata Ryan bergerak-gerak saat mendengar suara Alira yang terus memanggilnya, kesadarannya seperti ada di ujung sana namun karena Alira terus memanggilnya, Ryan berusaha mengembalikan kesadarannya.
"Ryan, kamu baik-baik saja?"
"Ryan, ayo buka matamu!"
Suara Alira seperti magnet yang menarik kesadaran Ryan, perlahan ia membuka matanya dan samar-samar ia melihat Alira yang tampak sangat cemas padanya.
"Oh Tuhan! Syukurlah kau sadar," pekik Alira bernapas lega.
Ryan meringis saat merasakan sakit yang teramat di kepalanya, punggung juga lengannya. Saat ia hendak bergerak, Ryan menyadari dirinya kini terikat di sebuah kursi.
"Ryan...." seru Alira lagi.
"Al, apa yang terjadi?" tanya Ryan lemah.
"Kamu harus pergi dari sini, Ryan," ucap Alira setengah berbisik.
"Bagaiamana? Ada apa sebenarnya? Kenapa Calista melakukan ini padamu? Dan wajahmu... Oh Tuhan!" Ryan memekik saat melihat sayatan di wajah Alira, bahkan darah di pipinya itu sampai mengering, yang artinya itu bukan luka hari ini.
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Ryan cemas.
"Fikirkan bagaimana caranya kau pergi dari sini, Ryan!" Tegas Alira yang enggan memperdulikan dirinya sendiri.
"Ada apa, Al? Calista mengincar Daniel?" Tanya Ryan lagi saat mengingat Calista tadi menyebutkan nama Daniel.
"Iya," jawab Alira lirih.
Alira menceritakan kronologi kejadian penculikannya hingga motif penculikan yang di lakukan Calista, tentu hal itu membuat Ryan terkejut dan tak percaya.
"Tidak mungkin Daniel melakukan itu, Alira. Kamu fikir kakakku seorang kriminal yang akan memotong jari seorang wanita?" desis Ryan tak terima.
"Tapi itu faktanya, Ryan," jawab Alira sedih.
"Aku mohon, pergilah dari sini, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu," lirih Alira namun Ryan menggeleng.
"Kita harus keluar bersama, Alira." tegas Ryan namun Alira menggeleng.
"Aku tidak mau," lirih Alira tertunduk sedih. "Aku mohon, aku sudah memberi tahumu aku akan pergi dari kalian semua."
"Aku sudah memberi tahu Daniel semuanya," tukas Ryan tiba-tiba yang membuat Alira terkejut, detak jantungnya bahkan seolah berhenti. "Maafkan aku, Al," lirihnya namun Alira tersenyum miring.
"Aku rasa itu lebih baik, akan lebih baik jika Daniel membenciku dari pada gila karena mencintaiku dimana itu juga membuatku hampir gila."
"Tapi aku juga sudah memberi tahu Daniel bahwa cintamu hanya untuknya, aku sudah mengirimkan pesanmu padanya."
"Apa? Kau gila?"
"Aku hanya ingin Daniel tahu, dia masih punya cinta dalam hidupnya."
...... ...
Sementara di luar, Calista mengerang kesal karena Daniel tak kunjung datang untuk menyelamatkan Alira. Padahal Calista sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang.
Ia telah dengan sengaja membuat lokasinya terlacak berharap Daniel akan langsung menyelamatkan Alira dan saat Daniel memasuki tempat itu. Calista akan melenyapkannya disana.
Calista juga dengan sengaja tidak menempatkan siapapun untuk menjaga Alira, agar Daniel bisa langsung masuk ke gudang namun yang datang justru Ryan.
"Sekali tepuk 3 nyamuk mati," desis Calista saat melihat mobil Daniel memasuki gudang itu. Calista segera bersembunyi dan bersiap dengan rencana terakhirnya.
Tbc....