
6 tahun kemudian...
"Good morning, Sayang...."
"Emmh..." Alira melenguh malas dalam tidurnya.
"Sayang, meraka sudah lapar, ayo bangun...." suara Daniel terdengar begitu lembut di telinganya, Alira menarik baju Daniel hingga Daniel jatuh ke sampingnya kemudian Alira mendesakan tubuhnya ke tubuh Daniel, menghirup aroma suaminya itu dalam-dalam.
"Baiklah, tidurlah, hem..." Daniel membelai pipi Alira dengan lembut, mendaratkan kecupan hangat di keningnya dan Alira pun kembali tidur dengan nyenyak di pelukan sang suami.
Alira bergerak gelisah dalam tidurnya saat ia melihat kobaran api yang sangat menakutkan dalam mimpinya, Alira menggigil ketakutan, keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya.
"Sshshttt, tenanglah, Sayang. Itu hanya mimpi," Daniel berbisik lembut di telinganya. "Aku di sini, Sayang. Kami di sini, semuanya baik-baik saja." mendengarkan bisikan sang suami, perlahan Alira kembali tenang, bahkan ia tersenyum dalam tidurnya saat merasakan pelukan Daniel.
Alira bergerak gelisah saat merasakan sinar mentari menyentuh wajahnya, perlahan ia membuka mata dan ia melihat Daniel yang membuka tirai jendela.
"Maaf menganggu, tapi ini sudah siang," kata Daniel sambil tersenyum, ia mendekati Alira, memberikan kecupan hangat di bibir sang istri. "Mandilah, anak-anak pasti sudah lapar."
Alira menarik baju Daniel kemudian ia memangut bibir Daniel dengan intens, memberikan ciuman yang luar biasa, yang membuat Daniel mengerang lirih. Alira terkekeh, ia melompat dari ranjang kemudian bergegas ke kamar mandi sementara Daniel hanya menatapnya dengan nanar.
...... ...
"Good morning, Baby boy...." sapa Alira dengan senyum lebarnya pada sepasang anak kembar yang kini duduk di lantai, yang satu bermain game di gadgetnya, yang satu lagi melukis.
"Good morning, Mama. Apa kau tidur nyenyak tadi malam?"
"Sangat nyenyak, Leon," jawab Alira kemudian ia memberikan kecupan selamat pagi di kening putranya yang bernama Leon.
"Aku harap kau tidak bermimpi buruk, Mama," sambung adiknya Leon yang bernama Leo.
"Tidak, Leo. Mama bermimpi sangat indah," jawab Alira setelah memberikan kecupan selamat pagi juga untuk Leo. "Jadi, kalian ingin sarapan apa pagi ini?" Tanya Alira sambil menatap Kedua anaknya itu bergantian.
"Sarapan siap, Kakak ipar..." Alira menoleh dan ia tersenyum geli saat melihat Ryan datang dengan wajah yang di penuhi tepung, jangan lupakan juga apron berwarna pink dengan motif hati.
"Terima kasih, kau Paman yang baik, adik ipar," tukas Alira kemudian.
Ryan mendekati Alira, dan ia membersihkan tangan Alira yang juga di penuhi tepung, Ryan mencium punggung tangan Alira, sambil mengernyit ia berkata, "Hem, masih bau bawang. Kau harusnya cuci tangan yang bener."
"Iya, ini juga membuatku terganggu," kata Alira malas.
Saat ia menyusun makanan di meja makan, terdengar suara bel pintu, Leo dan Leon berebut ingin membuka pintu.
"Jangan berebut, kalian bisa membuka pintu bersama...." teriak Alira dari dapur.
"Baik, Mama," jawab kedua anak kembar itu bersamaan.
"Apa kau bawakan buku gambar dari Paris untukku?" Tanya Leo antusias.
"Di Indonesia banyak buku gambar, kenapa kau minta yang dari Paris?" Tanya Leon sinis.
"Aku lebih suka barang branded," jawab Leo cuek yang membuat Viona terkekeh.
"Baiklah, Tante bawakan oleh-oleh untuk kalian semua. Sekarang ayo kita masuk," ajak Viona.
Viona meletakkan mainan dan buku gambar Leo di meja tengah, kedua anak itu pun kembali berebut ingin melihat oleh-oleh Viona.
Sementara Viona kini pergi ke dapur dengan membawa roti.
"Selamat pagi, Alira...." sapa Viona sembari meletakkan paper bag yang berisi roti di meja makan. "Aku beli roti untuk sarapan, aku fikir kamu tidak akan masak karena kemarin kamu bilang tidak enak badan," tukas Viona.
"Aku baik-baik saja, Ryan membantuku memasak," jawab Alira sambil tersenyum yang membuat Viona mengernyitkan keningnya.
"Al, kamu...."
"Mama, Leo lapar...."
"Leon juga...."
Ucapan Viona harus terhenti saat kedatangan dua anak itu, Alira pun membantu mereka duduk di kursinya masing-masing kemudian mereka sarapan bersama, begitu juga dengan Viona.
Setelan sarapan, Viona pamit pulang karena ia masih ada banyak pekerjaan."Terima kasih oleh-olehnya, Tante," ucap Leo dan Leon.
"Sama-sama, Sayang. Tante pulang dulu, jaga Mama, ya."
"Pasti, Tante...."
...... ...
"Sesuai janjiku, aku menjaganya sebaik mungkin, Ryan...." lirih Viona dengan suara bergetar sembari meletakkan sebuket bunga di atas makam dimana nisannya tertulis nama Ryan Reiner.
"Keponakanmu dan kekasih hatimu baik-baik saja," ucap Viona dan seketika ia menitikan air mata yang sejak tadi coba ia bendung.
"Aku sudah membawa istrimu ke psikiater terbaik, Daniel. Tapi sepertinya dia sendiri yang tak ingin sembuh...." Viona juga meletakkan sebuket bunga di atas makam Daniel yang bersebelahan dengan Ryan. Viona mengusap makam bertuliskan Daniel Agra itu. "Apa yang harus aku lakukan? Membiarkannya saja? Aku takut halusinasi Alira menganggu mental anak-anak kalian."
Viona menghapus air matanya, ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Kami merindukan kalian...."
Tbc....