Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #41 - Menyedihkan



Ryan yang baru saja sampai di rumah merasa keheranan saat melihat Alira bertingakah sangat aneh.


"Dimana Daniel?" Tanya Ryan sembari melempar kunci mobilnya ke meja. "Astaga! Alira! Ada apa denganmu?" Pekik Ryan saat menyadari Alira yang meringkuk dan meringis, seolah menahan sesuatu.


"Aku... Aku...." Alira mengelap keringat yang mengucur di pelipisnya. "Ryan, please! Tolong aku, Daniel memberikan sesuatu di minumanku," rengek Alira, wajahnya memerah, dan ia terus mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Ya Tuhan! Aku kepanasan," keluh Alira yang membuat Ryan semakin bingung, di luar hujan mulai turun dan cuaca terasa dingin.


Ryan mendekati Alira dan saat ia menyentuh kening Alira, Alira tersentak bahkan mengerang.


"Ah, Ryan! Please...." Alira menatap Ryan dengan sendu, bibirnya terbuka dan napasnya memberat. "Please, tolong aku. Aku tidak tahan," rengeknya bahkan ia sudah akan menangis.


Ryan yang melihat gejala yang di alami Alira mencurigai sesuatu, untuk memastikan kecurigaannya, Ryan menyentuh pipi Alira dengan tangannya, memberikan belaian pelan dan Alira langsung memejamkan mata, seolah inilah yang ia inginkan.


Tak hanya itu, Alira mendesakan tubuhnya ke tubuh Ryan, memeluk tubuh Ryan dan bergerak tak karuan.


"Ya Tuhan! Kau minum obat perangsang?" Tanya Ryan, tentu Alira takkan menjawab karena ia tidak merasa melakukan hal itu. Yang Alira inginkan sekarang hanya sentuhan Ryan, tubuhnya panas dan darahnya terasa mendidih.


"Ryan, please...." Alira kembali merengek, ia tampak tersiksa dan itu membuat Ryan kebingungan.


"Ayo, ikut aku...." Ryan menarik tangan Alira namun Alira justru mulai menangis dan tak mau beranjak dari tempatnya. "Ayo, Alira. Sebelum semuanya terlambat," tukas Ryan namun Alira justru terisak.


"Hiks... Hiks, Ryan! Please, aku tidak tahan," racaunya. Ryan menatap Alira yang semakin tampak tersiksa dan ia pun langsung menggotong tubuh Alira menuju kamarnya.


Ryan membawa Alira ke kamar mandi, memasukannya ke dalam bathtub sementara Alira terus merengek, memohon, bahkan kini ia membuka seluruh pakaiannya sendiri.


Sekuat tenaga Ryan menahan diri saat melihat tubuh polos Alira yang hanya di tutupi kain mungil itu


"Ah, Ryan! Apa yang kau lakukan?" Pekik Alira saat Ryan justru menyiramnya dengan air dingin, Alira langsung menggigil dan menangis. "Dingin, Ryan," rengek Alira di tengah isak tangisnya, Alira hendak keluar dari bathtub namun Ryan menahannya dan memaksa Alira tetap berada di dalam.


"Sabar, Sayang," ucap Ryan dengan lembut, kini Ryan mengisi bathtub dengan air dingin dan itu membuat Alira semakin menggigil.


"Dingin, Ryan. Aku mohon, keluarkan aku," Alira mencoba memberontak namun Ryan kembali memaksanya untuk tetap berada di dalam.


"Kau jahat!" Seru Alira kemudian sambil menangis namun Ryan tak punya pilihan lain, ia menatap Alira dengan lembut, mengusap kepalanya seperti yang biasa ia lakukan.


"Sebentar saja, Al. Ini demi dirimu," ucap Ryan sementara Alira sudah sangat menggigil saat bathtub sudah di penuhi air dingin. "Aku tidak mau menyakitimu, Al. Karena itulah aku terpaksa melakukan ini," lirih Ryan yang membuat tangis Alira semakin pecah karena ia tak mengerti apa yang terjadi.


Ryan membawa Alira ke bawa shower kemudian ia menyiramnya dengan air hangat, Alira diam saja karena ia memang butuh air hangat ini.


"Kau akan baik-baik saja, percaya padaku," ucap Ryan meyakinkan namun Alira tak bisa menjawab, bibirnya gemetar karena ia sangat kedinginan.


Setelah itu Ryan segera mengeringkan tubuh Alira dengan handuk dan ia pun memakaikan baju tebal untuk Alira.


Ryan membawa Alira ke ranjangnya, membungkus tubuh Alira dengan selimut kemudian ia mengecup kening Alira, berharap hal itu bisa menenangkannya. "Aku akan buatkan teh panas untukmu, ya. Tunggu sebentar," tukas Ryan dan lagi-lagi Alira enggan menjawab.


Kini ia mengerti apa yang Daniel lakukan padanya, dan Alira tak bisa menahan kesedihannya saat mengingat betapa egoisnya Daniel selama ini.


...... ...


Sementara itu, Daniel yang baru selesai berbelanja langsung menuju ke dapur dan ia melihat Ryan disana yang sedang membuat teh panas.


Saat melihat gelas itu, Daniel melotot terkejut karena ia baru teringat dengan rencananya. Daniel segera berlari ke ruang tengah dan ia melihat minuman Alira yang berkurang.


"Ya Tuhan! Dia meminumnya," gumam Daniel panik dan saat berbalik, ia di kejutkan oleh Ryan yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya dengan membawa segelas teh panas.


Ryan tampak sangat marah, tatapannya begitu dingin dan tajam, rahangnya mengetat.


"A-Alira, dimana dia?" Tanya Daniel panik.


"Di kamar, baru saja aku merendamnya dengan air dingin untuk menghilangkan obat perangsang yang kau berikan padanya," tukas Ryan dengan dingin yang membuat Daniel tercengang.


"Mungkin dia akan demam beberapa hari tapi itu lebih baik dari pada aku menidurinya yang akan membuatnya hamil 9 bulan kemudian dia akan melahirkan anakku," desis Ryan yang membuat Daniel langsung menggeram marah.


"Ryan!" Serunya.


"Aku kecewa sama kamu, Daniel. Aku tidak menyangka kau bisa bertindak serendah ini, pada istrimu sendiri." Ryan segera meninggalkan Daniel menuju kamar Alira, sementara Daniel hanya bisa mematung di tempatnya.


Ia terpaksa memberikan obat itu pada Alira karena ia sangat menginginkan kehadiran bayi dalam pernikahan mereka, demi membuat Alira tetap berada di sampingnya.


Tbc...