
"Periksa semua tempat!" Seru polisi itu pada anak buahnya.
Di saat yang bersamaan, para polisi yang membawa Ryan itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres hingga mereka mendengar bau asap.
"Tempat ini akan terbakar...." seru polisi itu, secepat mungkin ia membawa Ryan lari, begitu juga dengan Daniel yang menggendong Alira.
Namun beberapa tangki yang berisi minyak disana tampaknya dengan sengaja di bocorkan sehingga minyak itu kini memenuhi lantai.
Daniel terpeleset karena minyak itu yang menyebabkan ia terjatuh begitu juga dengan Alira.
"Daniel...." pekik Alira, ia berusaha membantu suaminya namun Daniel justru mengerang kesakitan saat ia berusaha berdiri.
"Alira, cepat pergi! Tempat ini akan meledak, Sayang...." pinta Daniel namun Alira menggeleng tegas.
"Tidak mau, ayo kita pergi bersama...." Alira membantu Daniel berdiri namun sepertinya kaki Daniel cidera, hal itu membuat Alira menangis sesegukan.
Ryan kini sudah berada di luar gedung, sementara polisi itu kembali masuk untuk menjemput Daniel dan Alira.
Ryan memaksa ikut namun ia di halangi. "Aku mohon, kakakku ada di dalam..." seru Ryan panik.
"Kami akan menyelamatkannya!"
Ryan hanya bisa menatap polisi-polisi itu yang kini berlari masuk, tak lama kemudian salah satu dari mereka keluar dengan membawa Alira. Ryan bisa sedikit bernapas lega, namun setelah beberapa saat menunggu, ia tak kunjung melihat Daniel.
Ryan menoleh pada Calista yang kini berseringai bak iblis. "Sialan, aku akan menghabisimu setelah ini!" Desis Ryan.
"Daniel...." teriak Alira yang melihat Daniel di di papah oleh dua orang polisi.
Sambil tersenyum miring, Calista kembali menggumam...
"6...5....4...3...."
Ryan langsung berlari sebisa mungkin menghampiri Daniel karena ia tahu, tempat ini akan segera meledak.
Dua polisi itu juga membawa Daniel berlari sebisa mereka meskipun mereka tahu, waktu mereka tidak banyak.
Alira hanya bisa menangis, ia tidak bisa membantu Daniel agar lebih cepat keluar dari gedung, dan ia ia juga tak bisa menghentikan Ryan yang menyusul kakaknya itu.
"Daniel...."
"Ryan...."
Dan di saat yang bersamaan, ledakan besar itu terjadi Calista dan Alira yang berada di luar gedungpun ikut terlempar.
"DANIEL...."
Alira terbangun dari tidurnya, napasnya memburu, keringat dingin membanjiri tubuhnya, jantungnya berdebar kencang dan air mata sudah mengalir deras di pipinya.
Alira menatap ke sekelilingnya sambil sesegukan, tempat itu begitu gelap, membuat Alira semakin ketakutan hingga tirai kamarnya terbuka sehingga cahaya matahari langsung masuk dan menyinari kamar Alira.
"Mama...." panggil Leo sembari merangkak naik ke atas ranjang, ia mengelap air mata sang Mama dengan lembut dan itu membuat hati Alira berangsur kembali tenang. "Mama cuma mimpi, itu cuma mimpi," ucap Leo dengan lembut.
Sementara Leon, ia membuka tirai jendela kamar, begitu juga dengan jendelanya, setelah itu ia mengambilkan air putih untuk Alira dan membantu Alira meminumnya.
"Merasa lebih baik?" Tanya Leon dengan nada bak orang dewasa yang membuat Alira terkekeh. "Mama lebih cantik saat tertawa, kami suka saat Mama tertawa," ucap Leon.
"Aku rasa aku akan menikah dengan wanita seperti Mama," sambung Leo.
"Menikah? Kamu sudah membicarakan pernikahan? Tidur masih sering mengompol sudah membicarakan pernikahan," ejek Leon yang membuat Leo mendelik kesal.
"Mama rasa, sebaiknya sekarang kita mandi dan setelah itu kalian ikut Mama ke kantor, kita bicarakan pernikahan lagi nanti, setelah kalian berhasil membangun perusahaan kalian sendiri."
"Baik, Mama. Aku akan membangun perusahaan yang besar, terbesar di dunia," jawab Leo antusias.
"Mimpi!" ejek Leon
"Semua berawal dari mimpi," balas Leo tak mau kalah.