
Dokter Amberley dan Viona membawa Alira dan kedua anaknya ke makam Daniel dan Ryan.
Alira tak bisa membendung air matanya, ia hanya bisa diam membisu sembari mengusap nisan sang suami.
Beda halnya dengan kedua anak Alira yang tampaknya sudah terbiasa datang ke makam ayah dan Paman mereka.
Leo dan Leon meletakkan bunga di atas kedua makam itu, bahkan keduanya berceloteh ria, menceritakan tentang hari-hari yang mereka lewati, mereka juga berjanji akan menjaga ibu mereka.
"Kami berdua adalah pria sejati, Papa. Kami akan menjaga Mama," kata Leon.
"Kami? Aku rasa hanya aku, kau selalu sibuk dengan game," tukas Leo dingin.
"Aku main game saat waktu senggang," Balas Leon.
"Semua waktumu senggang," tukas Leo sinis yang berhasil membuat Alira kembali tertawa.
Sementara Viona dan Dokter Amberley hanya mengawasi mereka dari kejauhan.
Selama 6 tahun ini, Alira memang tampak bahagia, tentu dengan khayalannya itu. Sempat terbersit dalam benak Viona untuk membiarkannya saja karena dengan begitu Alira tetap bahagia, namun kemudian Viona teringat dengan Leon dan Leo.
Viona takut keadaan mental mempengaruhi mental Leon dan Leo walaupun sejauh ini, semuanya masih baik-baik saja. Leon dan Leo tahu bahwa ayah mereka sudah meninggal, dan kedua anak itu juga tahu bahwa mama mereka sering berhalusinasi.
"Kedua anak Mama adalah pria sejati," kata Alira, ia merangkul kedua anaknya itu. "Sekarang, ayo pamitan pada Papa dan Om Ryan, kita harus pulang, hari sudah sore." lanjutnya.
"Kami pulang dulu, Papa, Om...." seru kedua anak itu bersamaan.
Alira membawa kedua anaknya itu ke mobil Viona, Alira langsung memeluk Viona dengan erat dan mengucapkan terima kasih padanya.
"Bagaiamana, Al? Merasa lebih baik?" Tanya Dokter Amberley dan Alira mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih," ucap Alira yang kemudian memeluk Dokter Amberley.
"Sama-sama, Alira," jawab dokter kemudian ia mengeluarkan botol obat dan memberikannya pada Alira. "Please, demi Leon, Leo, Daniel juga Ryan." Alira menatap obat itu sejenak kemudian ia menerimanya.
Setelah itu, Alira membawa Leon dan Leo masuk ke dalam mobil mereka sementara Viona pergi bersama Dokter Amberley.
"Apa menurutmu kali ini Alira mau sembuh?" Tanya Dokter Amberley pada Viona.
"Aku tidak yakin, tapi apapun keputusan Alira setelah ini, aku tidak akan mengganggunya lagi, selagi itu baik-baik saja untuk Leon dan Leo."
"Kenapa kamu sangat sayang pada Leon dan Leo, Viona? Mereka berdua bukan anak Ryan, mereka anak-anak Daniel." Viona tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu yang sudah sering di tanyakan oleh siapapun padanya.
"Aku mencintai Ryan, sementara Ryan sangat mencintai Alira, dan aku tahu, jika Ryan hidup, dia akan menjaga Leo dan Leon seperti aku menjaga mereka. Ryan pasti akan mencintai dua keponakannya apalagi dia tahu, dia tidak akan pernah di karunia anak sampai kapanpun. Dan satu hal lagi, Leo mengingatkanku pada Ryan, mereka berdua sama-sama suka melukis."
"Ironis sekali," gumam Dokter Amberley.
"Lalu sampai kapan kau akan seperti ini? Kau harus tetap jadi ibu meskipun bukan ibu dari anak-anak Ryan."
"Aku tidak tahu, aku masih tidak bisa memikirkan lelaki lain selain Ryan."
"Kau sama gilanya dengan Alira."
Viona hanya terkekeh dan ia membenarkan hal itu, bedanya hanya satu, Viona tidak berhalusinasi.
.........
Sementara di mobil Alira, ia menyetir dengan tenang dan sesekali ia melirik kedua anaknya yang duduk di belakang, kedua anaknya itu mengoceh tanpa henti.
"Kau merasa lebih baik?" Alira langsung menoleh saat mendengar suara suaminya itu, ia tersenyum dan mengangguk, kemudian Alira mengambil obat yang di berikan Dokter Amberley dan membuangnya. "Kenapa di buang? Kamu membutuhkannya, Sayang." Daniel berkata dengan lirih.
"Kau memerlukannya, Alira," sambung Ryan dari belakang. Alira melirik adik iparnya itu dari spion.
"Jika aku meminum obat itu, aku tidak akan bisa melihat kalian berdua lagi," tukas Alira yang membuat Leon dan Leo langsung menatap ibunya itu.
"Ma...." seru Leon.
"Apa ada Papa lagi?" tanya Leo.
Alira hanya menjawabnya dengan senyum tipis. "Okay, Mama. Selama kau bahagia," ucap Leon akhirnya.
Alira menatap suaminya itu yang kini membelai pipi Alira dengan lembut.
"Kami selalu di sini, selalu."
"Aku tahu," lirih Alira dan seketika ia kembali menitikan air matanya namun Daniel langsung menghapusnya.
"Maafkan aku, seharusnya aku tahu, there's no beautiful Affair, Daniel. Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku bisa sedikit lebih bersabar dalam pernikahan kita."
"Aku tahu, tidak ada perselingkuhan yang indah. Kita harus membayar sangat mahal, tapi ini bukan hanya salahmu, Sayang. Bukan...."
"Berhenti mengingat masa lalu, Al," sambung Ryan. "Fokuslah pada Leon dan Leo. Lihatlah! mereka sudah cukup untuk menggantikan kami, 'kan?"
"Tidak akan ada yang bisa menggantikan kalian."
Leon dan Leo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ibu mereka yang berbicara sendiri.
Awalnya mereka takut, namun setelah Viona menjelaskan apa yang terjadi, mereka faham dan mereka berjanji akan menjaga ibu mereka sampai kapanpun.
Tbc...