Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #29 - Di Antara Dua Hati



Alira hendak meninggalkan Ryan namun Ryan langsung menarik tangan Alira, mendorong Alira hingga tubuhnya menabrak dinding dan Ryan langsung memangut bibir Alira yang membuat Alira terkejut dan seluruh tubuhnya langsung menegang sempurna.


Ryan mellumat bibir Alira seperti orang kelaparan, tak ada kelembutan, Ryan seolah ingin melampiaskan amarah di hatinya karena rasa cemburu itu.


Ryan memakasa Alira membuka mulutnya namun Alira menutup bibirnya rapat-rapat, ia menggelengkan kepalanya, mencoba menghindari ciuman Ryan, namun Ryan adalah ahlinya menaklukan kaum hawa.


Alira mendorong dada Ryan sekuat tenaga hingga Ryan menjauh darinya, napas keduanya memburu. Raut wajah Alira tampak sangat marah, matanya memerah, dan seketika Alira meneteskan air mata.


"Hanya karena aku jatu cinta padamu, apakah aku pelacur bagimu?" Lirih Alira dengan berliang air mata, hatinya sakit di perlakuan seperti ini di tempat umum oleh Ryan.


Hati Ryan mencolos, apalagi saat ia menatap mata Alira yang tampak kecewa padanya.


"Alira...." Ryan berusaha menyentuh pundak Alira namun Alira langsung menepis tangan Ryan dengan kasar, membuat hati Ryan terasa di remas.


"Kau telah melecehkanku, Ryan! Dan aku bukan wanita seperti wanita yang kau tiduri itu," desis Alira sembari mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


"Alira, bukan itu maksudku," tukas Ryan dengan perasaan bersalah namun Alira enggan mendengarkan penjelasan Ryan.


Alira kembali masuk ke kamar rawat Daniel dan ia berusaha bersikap biasa saja, Alira juga menyunggingkan senyum pada suaminya itu walaupun hatinya begitu sakit.


Di satu sisi, ia mencintai Ryan, namun di sisi lain, ia harus bersikap layaknya istri yang baik untuk Daniel demi kesembuhan Daniel.


"Ada apa? Ryan terlihat marah," tukas Daniel.


"Tidak apa-apa," jawab Alira.


Sementara di luar, Ryan kembali meninju tembok dengan emosi yang menggebu, dadanya bergemuruh.


"Agh! Sial!" Geram Ryan.


Ponsel Ryan berdering, ia merogoh ponsel itu dari sakunya dan tertera nama managernya disana, dengan kesal Ryan mereject panggilan itu, karena ia tahu sang manager pasti memintanya kembali ke Paris.


"Aku tidak ingin kembali ke Paris, aku ingin bersama Alira."


.........


Keesokan harinya, Tessa menemukan bukti bahwa yang menyebar rekaman cctv itu adalah Calista, ia pun langsung mengabarkan informasi ini pada Alira dan Ryan.


Alira dan Ryan pun langsung pergi ke kantor dan untuk sesaat meraka melupakan masalah pribadi mereka.


Alira terkejut mengetahui Calista sendiri yang menyebarkan video dirinya dan Daniel, ia tak menyangka ternyata benar apa yang di katakan Ryan, ada musuh dalam selimut.


"Sudah seharusnya," sambung Ryan.


"Tidak perlu." sela Alira. "Aku tidak mau memperpanjang masalah ini apalagi Daniel hilang ingatan," ujarnya.


Alira teringat dengan Pita, setelah Pita melakukan konferensi pers, mereka tak lagi menuduh Daniel mabuk saat menyetir, setidaknya satu masalah teratasi dengan mudah.


"Aku rasa, kita harus membuat Calista mau membuka suara dan memberi tahu semua orang bahwa berita itu palsu," tukas Alira.


"Tapi bagaimana caranya, Bu? Saya yakin, orang-orang seperti Calista tidak akan mau di ajak kompromi," ucap Tessa.


"Akan ku fikirkan caranya nanti, Tessa," jawab Alira dan bersamaan dengan itu, ponselnya berdering. Alira langsung menjawab panggilan itu.


"Halo, Daniel!"


Mendengar nama Daniel, Ryan kembali merasakan api cemburu di hatinya. Ryan meminta Tessa keluar dari ruangan itu, kemudian Ryan merebut ponsel Alira yang saat ini sedang berbicara dengan suaminya itu.


"Ryan!" Tegur Alira kesal, ia hendak merebut ponselnya itu namun Ryan justru menangkap tangan Alira dan mengunci tangan Alira di punggungnya.


"Apa yang kau lakukan, Ryan?" Geram Alira.


"Katakan padanya, kau sedang sibuk!" Perintah Ryan yang membuat Alira tercengang.


"Ada apa denganmu?" Desis Alira kesal. Ryan pun melepaskan Alira, kemudian ia mengirim pesan pada Daniel yang mengatakan bahwa Alira sedang sibuk meeting saat ini.


"Ayo kita bicara," lirih Ryan sembari menyerahkan ponsel Alira, dengan kesal Alira menyambar ponsel itu dan ia menampilkan wajah kesalnya pada Ryan.


"Bicara tentang apa, hm?" Ketusnya.


"Tentang kita," jawab Ryan yang membuat Alira kembali tercengang, ia menatap mata Ryan dengan intens.


"Tidak ada kita, Ryan," tukas Alira penuh penekanan. "Lupakan saja apa yang pernah aku nyatakan padamu, lagi pula kau juga tidak percaya dengan cinta, kau hanya percaya pada hasrat semata," ucap Alira tajam.


"Aku percaya pada cinta, Alira!" Tegas Ryan. "Dan bagiku, cinta itu kamu!" Pupil mata Alira langsung melebar, ia terkejut mendengar apa yang di katakan Ryan.


"Jika cinta itu cemburu, maka aku cemburu saat kamu dekat dengan Daniel," tukas Ryan. "Aku mencintaimu, Alira."


Tbc...