Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA # 55 - Di Balik Sebuah Kesalahan



"Aku pulang hanya untuk menjemput Alira, Daniel!" racau Ryan sembari menarik kerah kemeja Daniel.


"Aku tahu," jawab Daniel lirih kemudian ia memaksa Ryan masuk ke dalam.


"Aku mencintainya, Daniel. Aku sungguh mencintainya, hatiku ini...." Ryan memegang dadanya kemudian ia meringis. "Sakit setiap kali melihatmu dengannya, dia juga mencintaiku, apa kau tahu itu?" Ryan terus meracau sementara Daniel enggan menganggapi meskipun sorot matanya memperlihatkan luka yang begitu dalam.


"Daniel, aku mohon. Berikan saja Alira padaku, dia tidak bahagia bersamamu."


"Alira nyaman bersamaku, dia mencintaiku, dia bahagia bersamaku."


Daniel memapah Ryan hingga ke kamar sementara Ryan terus mengoceh tentang Alira yang membuat Daniel merasa begitu sesak, sedih, marah, kecewa, namun ia tak bisa melakukan apa-apa.


Daniel menidurkan Ryan yang sudah sangat mabuk ke ranjangnya, Daniel bahkan melepaskan sepatu Ryan sebelum akhirnya ia meninggalkan adik tirinya yang masih terus meracau itu.


Daniel pergi ke kamarnya sendiri dan tatapannya langsung tertuju pada foto pernikahannya dengan Alira.


"Ini salahku, Al. Aku mengerti sekarang, apa yang sebenarnya terjadi pada orang tua ku."


.........


Ryan terbangun saat merasakan cahaya mentari yang menyinari wajahnya, sambil memegang kepalanya yang terasa sakit, Ryan beranjak duduk dan memperhatikan sekitarnya.


"Sialan!" Geram Ryan saat menyadari ia berada di rumah Daniel, Ryan teringat dengan kejadian tadi malam, dimana ia yang patah hati mencoba mencari hiburan dengan alkohol namun entah bagaimana ia bisa berakhir di rumah Daniel.


Samar-samar Ryan juga mengingat apa yang sudah ia katakan pada Daniel tadi malam, hal itu membuat Ryan panik.


Setelah mencuci wajahnya, Ryan segera keluar dari kamar dan ia mendapati Daniel yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.


Ryan merasa canggung, perlahan ia mendekati Daniel dan saat menyadari kehadirannya, Daniel pun menoleh.


"Silakan makan, aku mau ke kantor," tukas Daniel tanpa memperlihatkan sikap yang berbeda.


"Kamu...." Ryan tidak tahu harus berbicara apa, apalagi Daniel bersikap biasa saja sementara Ryan sudah menduga Daniel pasti akan sangat marah padanya.


"Apa aku mengatakan sesuatu tadi malam?" Tanya Ryan kemudian.


Daniel menatap Ryan dengan dalam, ia tersenyum miring dan berkata. "Iya, kamu mengakui hubunganmu dengan Alira," jawabnya yang membuat Ryan melotot terkejut bahkan ia sampai menahan napas.


Ryan hanya bisa tertunduk, ia merasa bersalah, namun saat mengingat perlakuan Daniel selama ini pada Alira, Ryan kembali mendongak dan berkata. "Jangan salahkan aku ataupun Alira, Daniel. Aku rasa...."


"Aku tahu ini salahku," sela Daniel dengan cepat namun kemudian ia menarik baju Ryan, menatap Ryan dengan penuh amarah. "Tapi apa begini caranya, huh?"


"Semua terjadi begitu saja!" Seru Ryan sembari melepaskan tangan Daniel dari bajunya. "Dan aku datang tidak untuk meminta maaf atau mengaku bersalah, aku datang untuk membawa Aira!" Tegas Ryan yang membuat Daniel tersenyum kecut.


"Dia pergi, aku tidak tahu kemana," jawab Daniel dengan dingin.


"Kamu pasti bohong!" tuding Ryan. "Kamu terobsesi padanya, kamu pasti menyembunyikannya, kan?"


"Dulu, iya," jawab Daniel. "Tapi tidak sekarang, aku sudah lelah mencintai dengan cara seperti ini, Ryan. Aku membiarkan Alira pergi karena aku fikir dia sengaja kabur dariku untukmu!" Ryan terdiam sejenak mendengar ucapan Daniel, karena sepertinya Daniel mengetahui perselingkuhannya dengan Alira sebelum Ryan mengakuinya.


"Kenapa?" Tanya Daniel pada Ryan yang diam saja.


"Kapan kamu tahu?" Tanya Ryan.


"Kemarin," jawab Daniel dan kini ia tampak rapuh.


"Saat aku mencari Alira, aku mencari segala sesuatu tentangnya hingga Tessa memberi tahuku bahwa selama ini kamu selalu menanyakan tentang Alira. Awalnya, aku fikir kamu hanya perduli karena dia istriku, tapi ternyata...." Daniel mengeluarkan ponsel Alira.


"Kalian berbicara sangat banyak dan sangat sering!" Desis Daniel sembari menunjukkan list panggilan dari ponsel Alira. "Dan aku menyadarinya sangat terlambat, Ryan. Kamu tahu apa yang aku sesali? Kenapa harus kamu, Ryan? Adikku sendiri?"


Ryan terhenyak, ia tak mampu berkata-kata lagi, apalagi saat melihat sorot luka yang begitu dalam di mata Daniel. Namun Ryan juga terkejut, karena Daniel tidak menghajarnya.


"Jangan kamu fikir aku tidak marah, Ryan! Demi Tuhan aku sangat marah sampai membuatku ingin membunuh kalian berdua!" Desis Daniel lagi dengan mata yang kini memerah. Rasa sakit, kecewa, amarah, semua bercampur menjadi satu.


"Tapi kemudian aku mengingat bagaimana pernikahan kami berjalan selama ini, dia salah, mengkhianati pernikahan kami dengan adikku itu akan menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya, aku ingin mengutuk Alira, namun kemudian aku teringat, aku lah yang memberinya kesempatan dan alasan hingga dia melakukan kesalahan ini."


Ryan hanya bisa membisu, dan hatinya seperti di remas saat melihat Daniel meneteskan air mata.


"Tapi, jika kalian memang saling mencintai. Silakan pergi dari hidupku dan akan aku anggap kalian berdua sudah mati!"


Tbc...