Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #32 - Miss You



Dengan berat hati Ryan meninggalkan Daniel yang masih sakit, dan lebih dengan berat hati lagi, ia meninggalkan Alira, wanita yang telah berhasil memporak-porandakan hatinya, yang mengenalkannnya pada cinta.


Ryan kembali ke Paris, kembali pada pekerjaann yang ia geluti selama ini, namun ia takkan kembali pada kebiasaannya yang membawa wanita ke ranjangnya.


Sementara Alira, ia menghabiskan waktunya dengan merawat Daniel dan ia mencari cara membersihkan nama Daniel yang di cemari oleh aksi Calista.


Setelah keadaan Daniel membaik, Dokter memperbolehkan Daniel pulang dan di rawat jalan di rumah.


Tentu saja Daniel sangat senang, ia merasa bahagia meskipun ia juga merasa Kebahagiaan nya tidak sempurna tanpa adanya Ryan.


Bukan hanya Daniel, Alira pun merasakan hal yang sama. Ia merasa kehilangan dan kesepian, bayangan akan wajah Ryan tak bisa ia enyahkan meskipun ia sudah berusaha keras.


Alira merindukan Ryan, rindu saat Ryan menenangkannya, menghiburnya, menguatkannya dan rindu saat Ryan memeluknya ketika Alira merasa tak berdaya.


Alira yang saat ini sedang duduk di meja riasnya tiba-tiba meneteskan air mata begitu saja saat mengingat perpisahannya dengan Ryan.


"Tidak, Alira. Dia hanya pria asing yang kebetulan menjadi adik Daniel," gumam Alira sembari mengusap air mata di pipinya.


"Adikku?" Tanya Daniel yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Ada apa dengan adikku? Ryan?" Tanya Daniel yang tadi sempat mendengar gumaman Alira.


Daniel berjalan mendekati Alira, ia berdiri di belakang istrinya itu, membelai pundak Alira dengan lembut.


"Tidak apa-apa, aku hanya berfikir... Em, apa mungkin dia merindukan kita juga," tukas Alira berbohong.


"Sayang..." Daniel menunduk dan mengecup pundak Alira, tangan Daniel meraba punggung istrinya itu namun Alira tiba-tiba langsung berdiri.


"Ada apa?" Tanya Daniel.


"Aku harus ke kantor, ada pekerjaan penting," kata Alira kemudian ia segera bergegas menuju lemari pakaiannya.


"Aku ingin ke kantor juga, aku rasa aku sudah harus kembali bekerja," tukas Daniel.


"Jangan," seru Alira karena ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Calista lebih dulu.


Daniel pun tak membantah, apalagi ia merasa sedikit pusing.


Alira membawa bajunya ke kamar mandi untuk berganti, hal itu membuat Daniel menghela napas panjang. Saat Alira keluar dengan pakaian formalnya, Daniel langsung mendekatinya.


"Sebenarnya kamu bener-bener istriku atau bukan?" Tentu saja Alira terkejut mendengar pertanyaan itu, ia mengangkat sebelah alisnya. "Kau selalu pergi ke kamar mandi saat berganti baju, ada apa? Kenapa? Bukankah aku suamimu?" Cecar Daniel yang membuat Alira salah tingkah bahwa kini posisinya sebagai istri hanya untuk merawat Daniel sammpai Daniel sembuh dan setelah itu akan meminta cerai pada Daniel.


Melihat Alira yang hanya diam saja membuat kecurigaan Daniel semakin besar apalagi iia memang merasakan Alira yang seolah membatasi dirinya dari Daniel, ia mendekati Alira, mencengkram pundak Alira dengan kuat dan hal itu membuat Alira terkejut.


Bayangan akan kekerasan yang Daniel lakukan selama ini kembali terngiang dalam benaknya, tatapan Daniel begitu tajam. "Apa kau menyembunyikan sesuatu?" Desis Daniel.


"Daniel, kamu... Kamu menyakitiku," lirih Alira berusaha menekan rasa takut dan air matanya, Daniel yang menyadari iia telah menyakiti Alira pun langsung melepaskan Alira.


"Ma-maaf, Sayang. Aku tidak sengaja," ucap Daniel. "Maaf, ya," ia mengecup kening Alira yang hanya diam saja dengan dada yang gemuruh.


...


Alira datang ke kantor Calista untuk menemui wanita itu dan membereskan masalah yang Calista ciptakan. Alira sempat tak di izinkan karena ia belum memiliki janji dengan Calista, namun setelah Alira mengatakan ia datang atas permintaan Daniel, ia langsung di izinkan dan disnilah ia sekarang, di depan Calista.


"Aku dengar, kerja sama perusahaan ayahmu dengan perusahaan Daniel berjalan sangat baik, lalu ada apa? Kenapa kau menusuknya dari belakang dengan menyebarkan fitnah itu?" Tanya Alira yang berusaha bersikap anggun namun tetap menampilkan power nya sebagai istri sang CEO.


"Hanya bayaran atas tamparanmu," jawab Calista dengan tenangnya yang membuat Alira mengernyitkan keningnya namun kemudian ia tertawa sinis saat mengerti apa yang di maksud Calista.


"Kau menghancurkan nama Daniel karena aku menamparmu?" Tanya Alira dan Calista hanya mengedikan bahunya.


"Tadinya aku datang untuk bernegosiasi denganmu, tapi setelah tahu alasanmu...." Alira berdiri dari tempat duduknya, ia menatap Calista dengan sangat tajam. "Sekarang aku ingin memperingatkanmu, kehancuranmu di hitung mundur dari sekarang," desis Alira namun Calista justru tertawa meremahkan.


"Kenapa? Bukankah itu memang faktanya? Suamimu menghabiskan malam bersamaku, dia tidak setia padamu dan aku yakin, ada banyak wanita lain ia bawa ke ranjangnya, lalu apa yang salah jika orang menyebut dia tukang selingkuh? Oh ya, apakah kau menemukan celana dalamku di mobil suamimu? Atau mungkin dia menyimpannya di saku jasnya?"


Hati Alira begitu sesak mendengar apa yang di katakan Calista, namun Alira berusaha menahan perasaannya, ia pun tersenyum miring dan berkata. "Suamiku sedang mabuk, Calista. Jika dia tidak mabuk, dia tidak akan mau menyentuh pelacur gratisan sepertimu."


"Alira!" Calista berteriak marah dan langsung berdiri dari tempat duduknya, ia menatap Alira dengan kemarahan yang meluap.


Alira hanya tersenyum sinis kemudian ia meninggalkan Calista.


Saat di dalam mobil, Alira langsung menarik napas panjang dan kembali air mata jatuh di pipinya.


Alira kembali menangis saat Calista kembali mengingatkan hal menyakitkan itu, apalagi hari ini Daniel kembali memperlihatkan sikap kasarnya padanya. Alira takut itu terjadi lagi nanti.


"Jangan menangis...." Alira menoleh saat mendengar suara Ryan, Alira merasakan tangan Ryan yang menghapus air matanya dengan lembut. "Ada aku disini," ucap Ryan namun saat Alira hendak berhambur ke pelukannya, Ryan hilang begitu saja.


Tangis Alira semakin pecah, ia butuh Ryan sekarang.


"Aku merindukanmu, Ryan."