
Ryan memeluk Alira dari belakang dengan begitu erat, ia juga terus menghujani Alira dengan ciuman mesra nya. Apa yang telah ia dan Alira lakukan malam ini telah menjadi tali ikatan yang sangat kuat untuknya dan Alira.
"Kau menyesal?" Tanya Ryan lirih, Alira menggenggam tangan Ryan dan mengecupnya dengan lembut.
"Yeah," jawab Alira jujur.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Ryan kemudian ia membalik tubuh Alira hingga kini Alira menghadapnya. "Waktu tidak bisa di putar, apa yang sudah terjadi tidak bisa di hentikan lagi." Ryan merapikan rambut Alira yang berantakan dan mengganggu wajahnya. "Tapi apapun itu, aku akan selalu di sini, bersamamu, dan sekarang aku milikmu."
"Aku tahu," tukas Alira tersenyum tipis. "Aku tahu apa yang aku lakukan, aku hanya...." Alira menunduk, ia menjilat bibirnya yang terasa kering, napasnya pun terasa berat. "Aku tidak bisa pergi dari Daniel, dan aku pun tak bisa menghentikan diriku untuk menghindari dirimu," ucap Alira lirih. Ryan kembali menarik Alira ke dalam pelukannya, ia juga mengecup kening Alira dengan lembut.
"Tidurlah, Sayang. Aku akan membangunkanmu sebelum matahari terbit," tukas Ryan yang membuat Alira tersenyum, ia mendesakan tubuhnya ke tubuh Ryan, mencari posisi yang paling nyaman.
Harus Alira akui, Ryan bercinta dengan sangat baik, membuat Alira lupa segalanya, dan tentu Ryan juga sangat lembut. Ryan juga hanya melakukannya sekali, apalagi saat Ryan menyadari terkadang Alira merintih sakit.
Apa yang terjadi malam ini antara dirinya dan Ryan memang membuat Alira sangat bahagia. Namun ia juga merasa menjadi manusia paling buruk di dunia ini, namun keputusan telah Alira ambil dan ia tak bisa melangkah mundur.
.........
Saat matahari terbit, Daniel terbangun dari tidurnya ketika ia menyadari Alira tak ada di sisisnya.
Daniel bangun dan mengusap wajahnya dengan kasar saat mengingat kejadian semalam.
"Semoga dia tidak semakin marah padaku," gumam Daniel.
Ia pun segera mencuci wajahnya untuk menyegarkan diri, setelah itu ia keluar untuk mencari sang istri.
Daniel pergi ke dapur karena mendengar suara dari sana, Daniel langsung tersenyum saat melihat Alira yang sedang sibuk memasak.
Daniel langsung memeluk Alira dari belakang yang membuat Alira tersentak bahkan mangkuk yang ia pegang sampai jatuh. "Maaf, Sayang. Aku mengejutkanmu," ucap Daniel kemudian ia membersihkan pecahan mangkuk itu.
"Tidak apa-apa," jawab Alira dan ia pun membantu Daniel.
"Jangan, Al. Nanti kamu terluka, biar aku yang bersihkan," tukas Daniel dengan cepat dan Alira pun menurut saja. "" Dimana Ryan? "Tanya Daniel kemudian.
"Masih tidur," jawab Alira dan Daniel pun mengangguk mengerti.
Setelah membersihkan lantai dan memastikan tak ada pecahan beling disana, Daniel mencuci tangannya sementara Alira kembali memasak.
"Aku minta maaf," ucap Daniel kemudian yang membuat Alira langsung menghentikan aktivitasnya, ia terdiam sejenak dan merasa enggan menatap Daniel. "Aku tahu aku menyakitimu tadi malam, aku benar-benar minta maaf," ucap Daniel lagi dengan tulus.
Alira tersenyum sinis, entah berapa juta kali permintaan maaf itu keluar setelah entah berapa juta kali juga Daniel menyakitinya.
Daniel mendekati Alira dan kembali ia memeluk Alira dari belakang, namun Alira tak bergeming sedikitpun.
"Kau mau memaafkanku, 'kan?" Tanya Daniel.
"Aku mohon jangan berkata seperti itu, Sayang. Kau bukan objek, tapi istriku," tukas Daniel.
"Yeah, akan selalu seperti itu." Alira menggumam pasrah.
...
Ryan pergi bekerja seperti biasa, dan hari ini ia terlihat lebih semangat karena Alira ikut bersamanya karena Daniel pergi untuk menemui rekan kerjanya.
Sebagai seorang model, Ryan selalu tampil memukai, membuat siapapun terpana padanya termasuk Alira.
Sejak pemotretan itu di mulai, Alira tak mampu mengalihkan pandangannya dari Ryan yang seolah telah menyihirnya. Ryan pun demikian, ini adalah hari paling bahagia di hidupnya.
Setelah melakukan beberapa sesi pemotretan, Ryan mengajak Alira jalan-jalan di kota indah itu.
Nick yang melihat itu merasa sepertinya cinta Ryan tidak bertepuk sebelah tangan, apalagi ia melihat tanpa ragu Alira menggandeng tangan Ryan dengan mesra.
Di dalam mobil, Ryan dan Alira terus berpegangan tangan seolah mereka takut terpisah, karena memang ini satu-satunya kesempatan yang mereka punya untuk bebas bersama.
"Kau tahu, aku punya ide gila sebenarnya," tukas Ryan.
"Benarkah? Ide apa?" Tanya Alira, ia menyenderkan kepalanya di pundak kekasihnya itu.
"Aku ingin Daniel tahu bahwa kau tidur denganku, mungkin dengan begitu dia mau menceraikanmu," tukas Ryan yang membuat Alira menghela napas berat.
"Aku mohon jangan lakukan itu, karena dia pasti akan sangat hancur. Setidaknya, biarkan kami bercerai dengan cara baik-baik. Aku yang akan bicara dengannya bahwa aku mencintaimu."
"Kau yakin?" Pekik Ryan tak percaya namun Alira mengangguk yakin.
"Setelah apa yang terjadi semalam, aku harus melepaskan diri darinya apapun yang terjadi. Aku tidak mau seperti ini terus, Ryan," lirihnya.
"Jika menurutmu itu yang terbaik, aku akan mendukungmu, Sayang."
"Aku akan memberi tahunya saat kami pulang ke Indonesia."
"Kapan kalian akan pulang?"
"Besok."
"Apa?"
Tbc...