
"Tinggalkan aku," lirih Alira pada Ryan dengan tatapannya yang kosong, dan itu membuat Ryan merasa khawatir dan tak ingin meninggalkan Alira, namun saat Daniel masuk ke kamar, mau tak mau Ryan harus meninggalkan kamar itu.
"Panggil aku jika kau butuh sesuatu," ucap Ryan sebelum ia pergi, namun Alira tak menanggapi, ia justru menatap Daniel yang berdiri di ambang pintu.
Ryan berjalan keluar kamar melewati Daniel dan sebelum benar-benar pergi, Ryan melemparkan tatapan tajamnya pada Daniel.
Setelah Ryan pergi, Alira turun dari ranjang dan menutup pintu kamarnya. Kemudian Alira menatap Daniel dengan tatapan kekecewaannya yang membuat Daniel merasa bersalah.
"Kenapa kau selalu bersikap egois, Daniel?" Tanya Alira dengan suara serak juga gemetar.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu, Alira." kilah Daniel. "Aku hanya menginginkan kehadiran bayi untuk mempertahankan pernikahan kita," ucapnya membela diri yang membuat Alira tersenyum kecut.
Ia berdiri di depan Daniel dan tanpa Daniel sangka, Alira justru melepaskan seluruh pakaiannya yang membuat Daniel terkejut.
"Kau ingin bercinta denganku untuk mendapatkan bayi, 'kan? Ayo, kita lakukan sekarang," ucap Alira dengan suara rendah, ia menyentuh tangan Daniel dan membawa suaminya itu ke ranjang. "Apa kau ingat? Dulu kau selalu mengingatkanku agar tak lupa meminum pil kontrasepsi karena kau tidak menginginkan adanya bayi, dan sekarang aku tak lagi meminum pil itu." lanjutnya.
"Alira..." lirih Daniel saat Alira membuka pakaian Daniel.
"Kenapa? Kau sampai memberikan obat di minumanku demi ini, kan?" Cibir Alira.
"Jangan salahkan aku," ucap Daniel kemudian dengan kesal. "Karena sudah seharusnya kau melayaniku tapi kau terus menghindar, sudah beberapa bulan, Alira. Kau tidak membiarkanku menyentuhmu sedikitpun," keluh Daniel yang membuat Alira tersenyum sinis.
"Kalau begitu, ayo lakukan sekarang," tantang Alira setelah melepaskan baju dan celana Daniel.
Setelah itu ia menjatuhkan diri di ranjang, terlentang, menunggu Daniel memuaskan hasratnya. "Ayo...." Alira mengulurkan tangannya pada Daniel sementara Daniel justru memiliki keraguan dalam hatinya, namun Alira terus mendesaknya hingga akhirnya Daniel menindih tubuh Alira.
"Apa kau ingat?" Alira berkata sembari menyusuri pipi Daniel dengan jarinya. "Dulu, kau sering memperkosaku saat kau sedang marah karena cemburu, jika aku katakan itu pada orang lain, tidak akan ada yang percaya karena tidak mungkin seorang suami memperkosa istrinya sendiri," tutur Alira dengan mata suara yang bergetar sementara Daniel tak bisa berkata apa-apa. Hati Alira sakit setiap kali mengingat bagaimana Daniel memperlakukannya selama ini, seperti boneka.
"Tapi kau sering memaksaku, saat aku sakit, tidak siap, bahkan kau sering melukaiku. Dan sekarang, kau juga ingin memperkosaku namun dengan cara yang halus, hm?" Alira melingkarkan kakinya di pinggang Daniel. "Kenapa kau tidak masuk?" Tanya Alira karena Daniel tak juga melakukan apa-apa hingga tiba-tiba Daniel langsung berguling, menyingkir dari tubuh Alira.
Ia terlentang di samping Alira yang kini mulai menangis, Alira menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang sebenarnya masih sangat kedinginan itu.
" Apa maumu, Daniel?" lirih Alira dengan air mata yang kembali berlinang.
"Aku hanya ingin memilikimu seperti dulu, Al," jawab Daniel lirih.
"Dulu yang mana?" Tanya Alira. "Kenapa kamu selalu berlaku semaumu tanpa memikirkan perasaanku? Hakku?"
Daniel tak bisa menjawabnya, karena yang ia tahu, ia hanya ingin menjadikan Alira miliknya, selamanya.
Keduanya pun sama-sama terdiam selama beberapa saat namun tiba-tiba Daniel melempar tselimut Alira, ia menindih tubuh Alira dan ia mulai mencumbu tubuh istrinya itu.
Alira diam saja, ia tak melawan, tak membalas dan juga tak bisa menikmati cumbuan suaminya yang dulu pernah membuatnya melayang itu.
Sementara di luar, Ryan hanya duduk termenung memikirkan apa yang mungkin terjadi antara Daniel dan Alira di dalam sana, apalagi tak terdengar suara apapun dari dalam kamar.
Ryan hanya berharap Daniel tak lagi menyakiti Alira secara fisik, karena apa yang tadi Daniel lakukan sudah pasti sangat menyakiti hati Alira yang sudah sakit.