Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #38 - Ternyata....



"Alira, kau di dalam 'kan, Sayang? Aku punya gaun cantik untukmu, mungkin kau ingin mencobanya."


Alira melotot pada Ryan namun Ryan justru tersenyum manis kemudian mengecup pipi Alira dengan lembut baru setelah itu ia melepaskan tangannya dari mulut Alira.


"Ambil gaun itu, Al," bisik Ryan dengan tenang.


"Tapi bagaimana?" Alira berbisik cemas.


"Buka pintunya sedikit saja," tukas Ryan dan Alira pun langsung melakukan apa yang Ryan katakan.


"Gaun apa?" Tanya Alira yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Ini, aku rasa ini cocok untukmu," Daniel memberikan sebuah gaun mewah yang berwarna putih, Alira yang melihat gaun itu langsung menunjukan ketertarikannya pada gaun itu.


"Terima kasih, aku menyukainya," kata Alira senang, Daniel hanya menanggapinya dengan senyum kemudian ia meninggalkan Alira.


Saat Alira kembali menutup pintu, Ryan langsung mendesak tubuh Alira ke dinding, mengungkung tubuh mungil itu di antara kedua kedua lengannya, menatap mata Alira dengan dalam.


"Apa?" Ketus Alira yang kembali kesal setelah mengingat Viona.


"Ada apa? Kau cemburu?" Tanya Ryan sambil terkekeh namun Alira enggan menjawab, ia bahkan membuang muka dari Ryan dan itu membuat Ryan merasa gemas.


"Kau cantik sekali saat cemburu seperti ini, Sayang," tukas Ryan namun Alira justru memukul pipi Ryan dengan kesal.


Ryan pun langsung menangkup pipi Alira kemudian memangut bibir Alira, menciumnya dengan begitu intens dan menggebu yang membuat Alira terkejut namun setelah itu Alira membalas ciuman Ryan.


Keduanya saling memangut, saling menghisap dan saling menggigit, dan ciuman intens itu membuat keduanya melayang hingga dengan terpaksa ciuman itu harus di hentikan saat Alira dan Ryan merasa kehabisan napas.


Ryan menempelkan keningnya di kening Alira, menatap Alira dengan hasrat yang mulai terpancing, napas keduanya memburu.


"Aku pun cemburu, Sayang." Ryan berbisik di bibir Alira. "Aku cemburu membayangkan setiap malam kau tidur satu ranjang dengan Daniel, aku cemburu melihat kebersamaan kalian, rasanya sakit sekali di sini." Ryan membawa tangan Alira ke dadanya.


"Aku ingin kau segera bercerai dengan Daniel, Al. Aku ingin memilikimu seutuhnya, tidak mau membagimu seperti ini," tukas Ryan dengan suara rendah dan penuh harap.


"Aku pun begitu, Ryan," jawab Alira sedih.


"Kalau begitu, cobalah gaun ini. Aku akan menunggu di luar," ucap Ryan dan Alira mengangguk sambil tersenyum tipis.


Ryan pun segera keluar dari ruang ganti itu, dan tanpa ia sadari, Viona melihatnya.


Viona mengernyit bingung karena Ryan keluar dari ruang ganti namun ia tidak membawa apapun, saat Viona hendak menghampiri Ryan, ia justru melihat Alira yang keluar dari ruangan yang sama.


Viona melotot terkejut, segala fikiran buruk berkelebat dalam benaknya. Mengingat Ryan adalah seorang playboy, Viona tidak heran bahkan jika Ryan keluar dari kamar istri seseorang, tapi ia keluar dari ruangan yang sama dengan istri Kakaknya sendiri?


Bagaiamana bisa?


.........


"Tidak..."


"Jangan...."


"Jangan sentuh aku...."


Jared yang mendengar teriakan dari kamar putrinya itu langsung masuk dan ia melihat Calista yang tampak bermimpi buruk dalam tidurnya.


"Calista...." Jared menepuk pipi Calista beberapa kali hingga anaknya itu bangun. "Ada apa?" Tanya Jared heran, apalagi melihat anaknya yang tampak ketakutan, matanya memerah, tubuhnya terlihat gemetar dan keringat dingin mengucur di pelipisnya.


"Ada apa? Kamu mimpi buruk?" Tanya Jared namun Calista hanya diam. "Kamu sakit, Sayang?" Tanyanya lagi. Calista menggelengkan kepalanya.


"Papa, seberapa baik Papa mengenal Daniel?" Tanya Calista kemudian.


"Aku mengenalnya dengan sangat baik, dia tipe orang yang keras kepala dan ambisius. Tapi di sisi lain, ia juga orang yang ramah pada orang lain dan sangat baik pada semua karyawannya," jawab Jared.


"Tapi ada apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu masih menaruh dendam karena istrinya pernah menamparmu?"


"Aku ingin menghancurkan mereka," desis Calista penuh dendam.


Tbc....