Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #52 - Tak Memilih Siapapun



Alira menatap Daniel yang saat ini sedang berbicara dengan Dokter, Daniel tampak sangat serius menangani perawatan Ibu Linda. Daniel bukan hanya meminta ibu Linda di berikan perawatan terbaik namun ia juga meminta Dokter dan Suster terbaik.


Setelah kejadian pagi tadi, Alira terus berfikir tentang masa depannya, masa depan Daniel juga Ryan.


Apalagi Alira tahu, sejauh ini Daniel memang tampak sangat berubah, karena itulah Alira tak pernah berfikir sedikitpun bahwa Daniel telah mendapatkan Ingatannya kembali.


Sejauh ini, satu-satunya yang membuat Alira kesal adalah tragedi obat perangsang juga Daniel yang tetap melakukan hubungan dengannya padahal saat itu Alira sangat tidak bergairah bahkan seolah mati rasa.


Alira juga teringat dengan kedekatan Daniel juga Ryan selama ini, seperti Daniel yang merasa Ryan adalah satu-satunya keluarganya, Ryan pun selalu mengatakan hal yang sama, Daniel adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.


"Jika aku memilih salah satunya, maka keduanya akan tetap hancur," gumam Alira sedih.


Saat Daniel pergi untuk mengurus administrasi, Alira langsung ke ruang rawat ibu Linda, ia mencium kening wanita yang telah merawatnya itu dengan penuh kasih sayang.


"Maaf, Bu. Aku tidak bisa menunggu Ibu bangun, aku harus pergi sekarang," lirih Alira dengan suara yang bergetar, bahkan air matanya tak bisa ia bendung lagi.


"Aku sayang sekali sama ibu dan anak-anak panti, aku tidak ingin berpisah dari kalian, tapi sekarang aku harus pergi, Bu. Karena keberadaanku hanya akan menghancurkan hidup dua orang pria sekaligus, sehabat sekaligus saudara."


Alira menghapus air matanya kemudian sekali lagi ia memberikan kecupan di kening Ibu Linda sebelum akhirnya ia pergi dari sana, dan di saat yang bersamaan, Ibu Linda meneteskan air matanya seolah ia mendengar apa yang di katakan Alira dan juga bisa merasakan perasaan Alira.


Alira mengirimkan pesan suara pada Ryan kemudian ia menghapus pesan itu dan meletakkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.


Alira pergi dari rumah sakit lewat pintu belakang, dengan sengaja ia meninggalkan tas, ponsel dan semua yang ia miliki di rumah sakit.


Alira ingin pergi dari hidup Daniel dan Ryan, ingin pergi dari yang namanya cinta dan pernikahan yang hanya membuatnya tercekik.


"Seperti rencanaku semula, aku akan pergi jauh dari kalian semua."


.........


Daniel segera memeriksa ke toilet namun tak ada Alira di sana, ia pun segera mencari Alira keluar namun Alira tak juga terlihat.


Daniel yang panik langsung pulang ke rumah, berharap Alira pulang ke rumah namun sesampainya di rumah, Daniel tak menemukan siapapun.


Daniel pun segera menghubungi Jill yang ada di panti, Daniel menanyakan keberadaan Alira namun Jill mengatakan Alira tak ada disana. Daniel semakin panik dan cemas. Ia langsung menghubungi orang-orangnya dan memerintahkan mereka menemukan Alira secepatnya.


"Ya Tuhan! Kamu kemana, Al? Apa kamu baik-baik saja?" Gumam Daniel panik.


.........


"Aku pergi, Ryan. Aku pergi darimu juga dari Daniel, dan aku tidak akan pernah kembali. Aku minta maaf jika aku melukaimu, tapi aku tak ingin semakin melukaimu dan juga Daniel, karena itulah aku pergi. Dan aku harap, kau merahasiakan apa yang terjadi di antara kita dari Daniel dan juga orang lain. Simpanlah rahasia itu di dalam hatimu, sampai kau mati. Karena jika rahasia itu terungkap, maka kau akan menghancurkan Daniel dan persaudaraan kalian.


Ryan, hari ini aku menyadari sesuatu, Daniel tulus mencintaiku, dia sungguh mencintaiku meskipun caranya mencintai tidak seperti yang aku inginkan. Apa yang dia lakukan karena dia tidak tahu cara mencintai yang benar apalagi dengan masa lalunya yang kelam.


Sama seperti dirimu yang berubah karena mencintaiku, dia pun berusaha berubah karena mencintaiku dan aku bisa merasakan perubahannya itu.


Sementara aku? Aku hanya racun di antara kalian.


Ryan, aku titip Daniel, aku titup suamiku padamu, aku tahu dia akan menggila jika aku pergi darinya, aku mohon sadarkan dia, sebenarnya ... aku pun sangat mencintainya, cinta yang sesungguhnya.


Aku juga baru menyadari hari ini bahwa aku mencintainya, seharusnya aku tahu, saat aku tidak terima Calista mencemarkan namanya, itu karena aku mencintainya. Saat aku tetap bertahan di sisinya dengan segala rasa sakit, itu karena aku mencintainya. Aku mencintainya dalam sakit dan sehat, dalam luka dan senang. Tapi aku telah menodai cinta kami, dengan salah faham bahwa rasa nyaman yang aku rasakan padamu ku anggap cinta.


Aku salah, Ryan. Rasa itu hanya rasa nyaman, pelarian semata. Maafkan aku, dan aku tidak memilih siapapun di antara kalian, karena aku tidak pantas."