Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #26 - Ternyata Cassanova



"Ada apa?" Tanya Ryan dengan suara yang serak, tatapan Alira begitu berbeda saat ini, membuat hati Ryan bergetar.


"I love you...."


Tubuh Ryan langsung menegang mendengar tiga kata itu terucap dari bibir Alira, bahkan Ryan menahan napas, apalagi ketika Alira menyusuri lengan Ryan.


"As a friend?" Tanya Ryan akhirnya dengan suara yang bahkan ia sendiri hampir tak mendengarnya, Alira tersenyum tipis dan menggeleng.


"As a man," jawabnya dan seketika Ryan langsung menelan ludahnya, ia menatap Alira lekat-lekat, berharap Alira bercanda, namun tatapan wanita itu memberi tahu sebaliknya.


"Alira..."


"Aku tahu mungkin kamu tidak percaya padaku," sela Alira dengan cepat dan ia melepaskan tangannya dari tangan Ryan, kini Alira tertunduk malu, namun ia sungguh merasa telah jatuh cinta pada Ryan.


"Mungkin juga kamu menganggapku wanita murahan, karena bagaimanapun juga statusku masih istri Daniel. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku, Ryan." Alira mendongak, menatap Ryan dengan tatapan yang begitu dalam. "Aku jatuh cinta padamu, Ryan," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ryan tidak tahu harus berkata, ia hanya bisa memandangi wajah sendu Alira.


"Aku tahu ini salah, pernyataan cinta ini juga salah, tapi aku tetap ingin memberi tahumu," ujar Alira lagi.


"Alira...." Ryan duduk di samping Alira, menggenggam tangan Alira dan menatap mata Alira. "Aku bukan pria seperti itu, aku tidak jatuh cinta," ucapnya yang membuat kening Alira berkerut dalam, tak mengerti maksud Ryan.


"Dan aku yakin, yang kamu rasakan padaku itu bukan cinta, mungkin hanya rasa nyaman, semua wanita yang bersamaku akan merasa nyaman, karena memang seperti itulah aku memperlakukan mereka semua dan tidak ada cinta dalam hidupku," tutur Ryan panjang lebar.


"Yeah, lebih tepatnya, teman ranjang," jawab Ryan yang seketika membuat hati Alira seperti tertusuk tombak, baru saja ia merasakan cinta yang indah, namun kini ia di hempaskan begitu saja dengan kenyataan ini.


"Kamu...." lirih Alira yang tak tahu harus berkata.


"Harus aku akui, aku tidak percaya hubungan percintaan, Alira. Yang aku percaya, hanya hubungan dua insan yang memiliki kebutuhan hasrat untuk di lampiaskan," ujar Ryan yang membuat Alira semakin patah hati, bahkan ia meneteskan air matanya tanpa bisa di cegah.


"Jangan menangis," ucap Ryan dengan lembut dan ia menghapus air mata Alira dengan l jarinya yang justru membuat air mata itu semakin deras.


"Kamu pasti berfikir aku wanita yang buruk, 'kan? Karena aku menyatakan cinta padamu," lirih Alira sambil menunduk dalam dan tentu Ryan langsung menggeleng.


"Tidak, Alira. Sama sekali tidak!" Tegas Ryan. "Semua orang bisa saja mencintai orang lain selain pasangannya, kamu bukan orang pertama yang merasa jatuh cinta pada orang lain padahal kamu sudah menikah." Ryan mengapit dagu Alira, membuatnya mendongak.


"Setelah aku kembali ke Paris, pasti rasa cintamu itu hilang," ucap Ryan dengan percaya diri namun Alira yang mengerti apa dan bagaimana itu cinta tentu hanya bisa tersenyum masam. "Sekarang tidurlah! Mungkin saat kamu bangun nanti, perasaan cinta itu akan hilang."


...


Ryan mengusap wajahnya yang basah di guyur air shower, kata-kata cinta Alira terus terngiang di telinganya, tatapan Alira yang sendu tak bisa enyah dari benaknya.


Ryan memang mengatakan mungkin nanti cinta Alira padanya akan hilang saat Ryan kembali ke Paris, Ryan mengatakan itu dengan sangat yakin tadi, tapi sekarang? Ia meragukannya.