
Sudah tiga hari sejak Alira pergi, dan sudah tiga hari Daniel mencari namun masih tak ada petunjuk apapun tentang keberadaan Alira.
"Apa Alira masih belum di temukan?" tanya Jill pada Daniel, dan Jill tampak sedih juga cemas saat Daniel menggeleng lemah.
"Aku rasa dia memang sengaja pergi," kata Jill kemudian.
"Apa maksudmu? Apa kamu tahu sesuatu tentang Alira?" Tanya Daniel, ia menatap Jill dengan penasaran.
"Aku tidak tahu apapun, selama ini Alira tertutup tentang kehidupan pribadinya pada kami. Tapi tidak pada ibu Linda, dia pasti tahu sesuatu."
"Mungkin karena Alira memang sangat membenciku, aku rasa dia sengaja pergi untuk meningalkanku," lirih Daniel sedih. Ia pun menghubungi anak buahnya, meminta mereka menghentikan pencarian.
"Kenapa kamu menghentikan pencarian?" Tanya Jill heran.
"Aku rasa Alira sengaja pergi, Jill. Biarkan saja dia pergi, mungkin sudah saatnya aku mengalah pada Alira." Daniel berkata dengan pasrah, ia pun sudah lelah berusaha mempertahankan Alira di sisinya dimana itu tidak memberikan kebahagiaan untuk siapapun. Apalagi Daniel tahu, semua berawal dan karena dirinya.
"Aku akan kembali ke kantor, Jill. Telfon aku jika ada apa-apa," tukas Daniel dan Jill pun hanya mengangguk.
Daniel keluar dari rumah sakit sembari memegang ponsel Alira, bibirnya tersenyum tipis namun luka tampak jelas di sorot matanya yang tajam itu. Daniel mematikan ponsel Alira kemudian memasukkannya ke dalam saku jasnya.
.........
Sementara itu, tanpa Daniel ketahui, Ryan pulang dari Paris dan kini ia sudah berada di hotel yang tak jauh dari tempat tinggal Daniel.
Kedatangan Ryan hanya untuk menemui Alira, untuk memastikan pesan yang di kirim Alira padanya. Karena Ryan masih tidak bisa menerima dirinya hanya di jadikan pelampiasan selama ini, sementara Ryan begitu tulus mencintai Alira.
Sudah tiga hari ini ponsel Alira tetap tidak bisa di hubungi, dan itu membuat Ryan bingung harus menghubungi siapa lagi.
"Tessa..." gumam Ryan kemdian. "Astaga, kenapa aku sampai lupa untuk bertanya sama dia, padahal selama ini aku selalu bertanya tentang Alira padanya."
"Bagaiamana bisa kau tidak tahu?" Tanya Ryan dengan kening yang berkerut dalam.
"Dia hilang, Pak. Sudah tiga hari," jawab Tessa yang membuat Ryan sangat terkejut.
"Hilang? Hilang bagaimana?" Pekik Ryan.
"Saya juga tidak tahu, Pak. Tapi sudah tiga hari ini pak Daniel mencari bu Alira yang katanya hilang," jawab Tessa yang membuat Ryan langsung duduk lemas di tepi ranjang.
"Jadi ini yang kamu maksud pergi, Al? Kamu kabur?" Desis Ryan.
"Lalu apa yang kamu dan kami dapatkan dengan kamu kabur, Alira? Kamu mau membuatku dan Daniel menunggu dan mencarimu seperti orang bodoh? Atau ini hanya akal-akalan kamu saja? Sialan!"
Ryan tidak tahu bagaimana harus mengendalikan amarahnya saat ini, namun Alira benar-benar sudah membuatnya gila.
.........
Saat hari sudah malam, Daniel pulang ke rumah dan ia sangat terkejut saat melihat Ryan berada di depan rumahnya sambil merokok juga minum alkohol.
Daniel segera turun dari mobil dan menghampiri adiknya itu. "Ryan! Bagaimana bisa kamu ada di sini?" Tanya Daniel namun Ryan hanya tersenyum miring dan menatap Daniel dengan sinis, ia tampak sudah sangat mabuk.
"Astaga, Ryan...." Daniel mencoba membawa Ryan masuk ke dalam rumah namun Ryan mendorong tubuh Daniel hingga menjauh darinya.
"Ryan! Ayo masuk! Kamu mabuk!" Geram Daniel kesal. "Dan sejak kapan kamu berada di sini? Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu mau pulang?"
"Aku pulang hanya untuk menjemput Alira, Daniel!"
Tbc....