Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #27 - Dia Kembali



"Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganku, setiap kali dekat dengannya, jantungku berdebar kencang," ucap Ryan pada Viona yang saat ini sedang menikmati makan siangnya. Mereka bertemu di sebuah restaurant karena Ryan ingin mencurahkan isi hatinya, katanya.


Awalnya, Viona senang mendengar hal itu, berfikir Ryan akan mengungkapkan sebuah perasaan yang sangat ia harapkan, namun nyatanya, Ryan justru membicarakan tentang Alira.


Viona sudah menghabiskan setengah makanannya, sementara makanan Ryan masih tidak tersentuh sedikitpun. Sejak kejadian kemarin sore, Ryan seperti orang linglung, bingung dengan perasaannya sendiri dan ia tak bisa mengenyahkan Alira dari benaknya.


"Mungkin kau sudah jatuh cinta padanya," tukas Viona dingin.


"Oh, come on, Honey. Aku tidak percaya dengan cinta atau semacamnya," jawab Ryan kemudian ia meneguk lemon juice yang sejak tadi juga tak tersentuh.


"Aku juga tidak percaya dengan hal seperti itu," ucap Viona kemudian dengan raut wajah masam. "Seharusnya aku tidak pernah percaya, rasanya menyakitkan." lanjutnya dengan suara lirih.


"Bukan cinta yang menyakitkan, tapi kebodohan, bodoh atas nama cinta." Viona terkekeh mendengar ucapan pria itu, dan dari gejala yang di tunjukan Ryan selama ini, jelas pria itu telah jatuh cinta pada Alira sama seperti Alira yang juga jatuh cinta padanya.


.........


Di rumah sakit, dengan bantuan Tessa, Alira memanggil orang-orang dari media karena ia ingin Pita melakukan konferensi pers dan memberi tahu kejadian yang sebenarnya.


Konferensi pers itu berjalan dengan lancar, Pita berkata dengan jujur dan di larang ada sesi pertanyaan dengan alasan Pita harus istirahat.


Setelah konferensi pers selesai, Alira langsung mengucapkan terima kasih pada Pita. "Saya yang terima kasih, Bu Alira. Karena semua ini terjadi karena saya, jika saja saya tidak mencoba bunuh diri, mungkin suamimu tidak akan mengalami kecelakaan. Saya seorang pengecut, kan? Yang berusaha bunuh diri hanya karena merasa kesepian." Pita berkata sambil tertawa mengejek, mengejek dirinya sendiri.


"Aku pun pernah mencoba melakukan hal itu," jawab Alira sambil tersenyum tipis. "Begitu juga dengan suamiku, kami semua pengecut." lanjutnya.


"Tapi kau hebat, tetap setia pada suamimu di tengah gosip yang menerpanya," tukas Pita yang langsung membuat hati Alira mencolos.


Setia?


Alira tak lagi setia, ia telah jatuh cinta pada adik suaminya, bahkan telah mengungkapkan cinta itu dengan tidak tahu malunya. Entah kapan dan bagaimana, cintanya pudar pada Daniel. Dan entah kapan dan bagaimana, Ryan telah mengisi hatinya.


Alira pergi dari ruang rawat Pita setelah sekali lagi mengucapkan terima kasih.


"Kau menganggapku istri atau boneka peliharaan?" Tanya Alira meskipun ia tahu Daniel tak menjawabnya.


"Kau selalu berkuasa atasku, membatasiku dann aku harus patuh padamu. Kenapa, Daniel? Kenapa kau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu? Dan sekarang, aku justru jatuh cinta pada adikmu yang ternyata seorang playboy. Tapi tidak apa-apa, aku belajar dari kesalahan, aku tidak ingin cintanya atau memilikinya."


Alira menghapus air mata yang menetes di sudut matanya, ia menghela napas panjang dan mencoba menguatkan hatinya.


"Setelah kau sembuh nanti, aku ingin kita bercerai karena pernikahan kita hanya mencekik kita. Dan setelah bercerai, aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh, dimana kau tak akan menemukanku."


Alira meletakkan kepalanya di lengan Daniel dan ia kembali meneteskan air matanya yang jatuh di lengan Daniel, dan bersamaan dengan itu, Alira melihat Daniel menggerakkan jari-jemarinya.


Kelopak mata Daniel bergerak-gerak, seolah ia ingin membuka mata namun kesulitan.


"Daniel..."


"Daniel, kau sadar?"


Alira langsung memanggil Dokter dan bersamaan dengan itu Daniel berhasil membuka mata, saat Dokter datang, Alira segera pergi dari ruang rawat Daniel, membiarkan Dokter dan suster memeriksa keadaan Daniel.


Tak berselang lama, suster memanggil Alira dan memintanya masuk.


"Bagaiamana keadaan Daniel, Dokter?" Tanya Alira.


Sementara Daniel, tatapannya kosong, dan saat melihat Alira, ia sedikit mengernyit, seolah bingung melihat keberadaan Alira.


"Kemungkinan besar pak Daniel kehilangan ingatannya, Bu Alira."


"Apa?"