Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA# 36 - Dark Romance



"Jadi Daniel tidak mau menceraikanmu?" Tanya Ryan setelah Alira menceritakan apa yang telah ia lewati selama ini setelah kepergian Ryan.


Alira menggeleng lemah dan itu membuat Ryan menghela napas berat. "Aku sudah menyewa seorang pengacara untuk mengurus perceraian kami, surat perceraian sudah siap tapi Daniel membeli pengacara itu. Dia tidak membiarkanku memiliki seorang pengacara, tidak membiarkanku membuat surat cerai, karena dia yakin dia bisa membuatku kembali jatuh cinta."


"Apa dia kembali memukulmu?" Tanya Ryan kemudian dan Alira menggeleng.


"Sejak tahu aku ingin bercerai darinya, tidak pernah sekalipun dia memukulku, atau bahkan hanya sekedar membentakku. Dia juga tidak posesif seperti dulu. Dia membiarkan aku berinteraksi dengan siapapun dan dia juga...." Alira menarik napas panjang, mengingat hubungan yang ia jalani bersama Daniel sejak Daniel hilang ingatan.


"Dia juga tak memaksaku untuk melayaninya di ranjang, tidak pernah sekalipun," lirihnya.


Ryan tidak tahu harus berkata apa sekarang, ia mengenal kakak tirinya itu, ia keras kepala dan ambisius, akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang ia mau.


"Bagaiamana dengan masalah Calista?" Tanya Ryan lagi.


Alira berjalan menuju ranjang Ryan dan menjatuhkan diri di tepi ranjang.


"Aku tidak tahu apa yang Daniel lakukan, tapi Calista mengakui perbuatannya dan ia mengatakan melakukan semua itu karena iri pada Daniel dan ingin menghancurkan reputasi Danie."


Ryan terdiam sejenak, karena ia yakin Calista bukanlah orang yang akan mengakui kesalahannya dengan mudah seperti itu, kecuali Daniel melakukan sesuatu.


Tapi bukankah Daniel masih hilang ingatan?


"Lalu bagaimana sekarang?" Tanya Ryan dengan suara rendah.


"Aku tidak tahu," jawab Alira tertunduk sedih, ia tak berdaya di bawah kekuasaan Daniel.


Melihat Alira yang sedih, Ryan langsung menghampirinya dan memeluknya. "Jangan sedih, kita akan cari solusinya bersama," ucapnya dengan sangat lembut, menyemangati Alira seperti biasa.


Alira langsung melingkarkan lengannya di punggung Ryan, memeluknya dengan erat, menghirup aromanya yang tak bisa Alira lupakan itu.


"Aku sangat merindukanmu, aku fikir tadi malam aku berhalusinasi saat melihatmu," lirih Ryan mengeratkan pelukannya.


"Aku juga sangat merindukanmu, dan terkadang berhalusinasi seolah bisa melihatmu," lirih Alira yang membuat Ryan terenyuh.


Ryan mengapit dagu Alira, membuatnya mendongak kemudian ia mengecup bibir lembut Alira. Alira memejamkan mata, membiarkan Ryan mencumbu bibirnya dengan intens, melepaskan kerinduan yang meraka tahan.


Alira mengalungkan lengannya di leher Ryan, ia membalas ciuman Ryan yang membuatnya melayang itu sementara Ryan menekan tengkuk Alira untuk memperdalam ciumanya.


Ryan mengecup, menghisap, dan menggigit bibir Alira yang terasa manis dan bibirnya. Alira membuka bibirnya, mempersilahkan lidah Ryan masuk ke dalam mulutnya dan mengajak lidahnya menari bersama.


Semakin lama ciuman itu semakin intens dan memabukan, hingga keduanya lupa segalanya.


Ryan mendorong tubuh Alira hingga terlentang di ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka, bibir Ryan kini turun mengikuti garis rahang Alira dan berhenti di lehernya.


Alira menddessah tanpa sadar saat Ryan memberikan kecupan basah di lehernya dan bersamaan dengan itu.


Tok tok tok...


"Ryan...."


"Sshhttt...." Ryan meletakkan jarinya di bibir Alira kemudian ia kembali mengecup bibir Alira dengan lembut bahkan kembali menghisap nya dengan kuat hingga Alira meraskaan bibirnya bengkak.


"Ada apa, Daniel?" Tanya Ryan sembari mencium leher Alira,menggodanya dan secara spontan Alira mendongak, memberikan akses lebih pada Ryan untuk meng-eksplor leher jenjengnya itu.


Darahnya berdersir, tubuhnya meremang.


"Apa kau melihat Alira? Tadi dia bilang ingin melihat-lihat rumah tapi aku tidak menemukannya dimana pun," ucap Daniel yang membuat Alira cemas namun tidak dengan Ryan.


"Mungkin Alira di belakang, Daniel!" Teriak Ryan kemudian yang membuat Alira melongo.


"Tidak ada," jawab Daniel


"Di halaman belakang, ada kebun bunga disana," tukas Ryan.


"Okay, akan aku coba cari kesana," ujar Daniel dan terdengar langkah kaki yang menjauh.


"Kau gila?" Seru Alira kemudian namun Ryan justru terkekeh.


"Aku masih merindukanmu," ucapnya sembari merapikan rambut Alira, mengecup kening Alira dengan lembut. "Dan aku tahu kau juga merindukanku." lanjutnya namun hal itu justru membuat Alira kembali terlihat muram mengingat cinta terlarang mereka.


"Jangan sedih." Ryan membelai pipi Alira. "Saat Daniel tahu kau tak mungkin mencintainya lagi, dia akan menceraikanmu. Dan saat itu tiba, kita akan memberi tahunya bahwa kita saling mencintai."


Alira mengangguk setuju, karena ia pun memikirkan hal yang sama. Setelah berpisah dari Ryan, Alira menyadari bahwa ia membutuhkan pria itu dan Alira ingin memilikinya. Alira tak mau memikirkan apakah nanti ia akan bahagia atau tidak, apakah cintanya benar atau salah. Atau apakah ia akan kembali patah hati mengingat Ryan yang seorang casanova, Alira tidak mau berfikir kesana. Ia hanya ingin melangkah begitu saja, mengikuti arus.


Yang pasti, saat ini ia begitu menginginkan Ryan.


"Sekarang Daniel pasti ke kebun bungamu," tukas Alira kemudian.


"Aku tahu, kau bisa turun lewat jendela," jawab Ryan.


"Kau mau aku melompat dari lantai dua?" Pekik Alira yang membuat Ryan terkekeh.


"Tidak, Sayang. Aku tidak mau kau cidera, aku akan membantumu."


Ryan membantu Alira melompat lewat jendela, ia juga mengarahkan Alira menuju kebun bunga miliknya.


Dari jendela, Ryan menatap Alira yang kini berjalan menuju Daniel, raut wajah Ryan langsung muram memikirkan nasib cintanya.


Di satu sisi, ia menginginkan Alira lebih dari apapun di dunia ini. Dan saat ini, saat ia bisa memeluk dan mencium Alira, Ryan merasa sangat bahagia dan ia tak pernah merasakan kebahagiaan yang lebih besar dari ini.


Namun di sisi lain, Ryan tak ingin menyakiti Daniel, satu-satunya keluarga yang ia miliki.


Apalagi Ryan tahu, sama seperti dirinya, Daniel sangat membenci sebuah perselingkuhan.


"Kalau begitu, kau harus menceraikan Alira secepatnya, Daniel. Jika kau tak mau, aku akan memaksamu karena kami saling mencintai."


Tbc...