
Hanya karena memiliki gangguan dengan halusinasinya, tidak membuat kinerja Alira sebagai pemimpin perusahaan suaminya di ragukan. Ia berusaha sebaik mungkin untuk menjaga perusahaan itu tetap stabil.
Alira juga sering membawa kedua anaknya ke kantor, agar mereka terbiasa dengan urusan bisnis dan bisa belajar langsung dari lapangan apalagi mengingat dua anaknya itu adalah ahli waris dari kekayaan ayah mereka.
Walaupun begitu, Alira tetap memberikan hak anak-anak mereka, yaitu bermain dan melakukan hobi mereka.
"Tante Tessa, lihat ini...." Leo menyerahkan sebuah kertas pada Tessa dan Tessa sangat terkejut karena itu gambar dirinya.
"Wah, Leo. Kamu pintar sekali, ini sangat indah. Tante suka," tukas Tessa antusias.
"Leo, sudah waktunya pulang!" Teriak Leon yang baru saja keluar dari ruang kerja Mamanya.
"Mama dimana?" Tanya Leo.
"Di dalam, kita di suruh turun duluan," jawab Leon, ia bahkan membawakan tas Alira.
Sementara di ruangannya, Alira membereskan meja kerjanya sebelum ia pulang, dan itu adalah kebiasaan Daniel. Ia takkan pulang sampai meja kerjanya rapi kembali.
"Padahal ada Tessa yang bisa membersihkannya," tukas Daniel dalam halusinasi Alira.
"Lalu, kenapa sendiri punya kebiasaan membersihkan meja kerjamu?" Tanya Alira dan tanpa ia sadari, Tessa kini berdiri di ambang pintu dan ia menatap Alira dengan bingung karena sang boss berbicara sendiri.
"Bu Alira? Ibu bicara dengan siapa?" Tanya Tessa yang membuat Alira terkejut.
"Kenapa kamu tidak mengetuk pintu?" Alira justru balik bertanya yang membuat Tessa mengernyit bingung.
"Saya sudah mengetuk pintu, Bu," jawab Tessa. Alira langsung menoleh dan tak ada lagi bayangan Daniel di sisinya. "Leo dan Leon sudah menunggu di bawah, mereka katanya tidak sabar mau ke panti." lanjutnya dan Alira langsung mengangguk mengerti.
"Oh ya, apa kamu sudah membeli semua barang yang aku pesan?" Tanya Alira kemudian.
"Iya," jawab Alira.
.........
Alira membawa Leon dan Leo ke panti asuhan, dan kedua anak itu tampak sangat bahagia karena disana mereka memiliki banyak teman. Dan yang membuat Leo dan Leon merasa cocok di panti aushan, karena anak-anak disana sama-sama tidak punya ayah bahkan ibu.
Sedangkan teman-teman Leo dan Leon yang lainnya, kadang membandingkan diri mereka yang punya orang tua lengkap dan itu membuat Leon dan Leo sedih.
"Setiap kali kamu kesini, kamu selalu bawa banyak barang, Al. Cepat kaya orang yang punya toko mainan," tukas Bu Linda yang membuat Alira tertawa.
"Biar anak-anak senang, Bu. Aku bahagia kalau melihat mereka bahagia," jawab Alira sembari memperhatikan Leo dan Leon yang kini asyik bermain.
"Anak-anakmu sangat cerdas, baik dan tentu sangat tampan, Al. Kamu beruntung memiliki mereka, kamu wanita yang hebat, bisa menjadi ibu sekaligus ayah mereka."
"Ada Daniel juga yang menjaga mereka, Bu." Bu Linda langsung tercengang mendengar apa yang di katakan.
"Al, kamu...." Bu Linda menggantung kata-katanya, ia menatap wajah Alira yang tampak bahagia dan berseri-seri dan itu membuatnya meringis saat menyadari Alira masih terjebak dalam masa lalunya dan kebahagiaan bersama Daniel yang sekarang hanyalah kebahagiaan yang semu.
Bu Linda pun membiarkannya saja, ia hanya bisa berharap Alira bisa memberikan yang terbaik untuk Leon dan Leo.
"Kamu mau menginap?" Tanya Bu Linda kemudian.
"Tidak, Bu. Sore ini akan ada orang yang mengirim barang-barang Ryan dari Paris ke rumah jadi aku harus pulang." Alira melirik arlojinya kemudian ia memanggil Leon dan Leo.
"Sudah waktunya pulang, barang-barang Om Ryan juga pastis udah di rumah."
Tbc....