Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #33 - Love Is Crazy



Ryan kembali bergelut dengan pekerjaannya sebagai model, namun kini ia tampak berbeda, lebih pendiam dan juga tak lagi pergi menemui wanita di club ataupun di hotel.


Tak lagi merayu wanita yang terlihat cantik dan seksi karena fikiran dan hatinya telah di penuhi Alira.


Hal itu tak luput dari perhatian manajer sekaligus temannya yang bernama Nick, dan ia sudah bertanya pada Ryan apa yang terjadi namun Ryan enggan menjawab.


Ryan berusaha keras melupakan Alira, ia mengambil semua tawaran pemotretan yang datang padanya, berharap kesibukannya bisa sedikit mengalihkan fikirannya dari Alira.


Namun, semakin ia berusaha melupakan Alira, semakin ia terus terngiang akan wanita itu.


Ryan juga memantau keadaan Alira lewat Tessa, karena ia takut terjadi sesuatu pada Alira. Namun sejauh ini, Alira terlihat baik-baik saja.


"Mau ke Club?" Tanya Nick pada Ryan yang saat ini sedang uring-uringan.


"Tidak," jawab Ryan malas.


Nick menghela napas berat, ia pun mendekati Ryan yang meringkuk di sofa, seperti anak gadis yang baru putus cinta.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu, Ryan. Tapi apapun itu, jangan sampai berpengaruh pada karirmu. Kau ingat 'kan perjuangan kita untuk sampai di titik ini?"


Ryan berdecak kesal kemudian ia beranjak duduk. "Aku ingin berhenti menjadi model," ucap Ryan tiba-tiba yang tentu saja membuat Nick sangat terkejut.


"Kau bercanda?" Pekik Nick namun Ryan tampak sangat serius. "Kau gila, huh? Mau makan apa kita kalau kamu berhenti jadi model? Kita sudah berada di posisi yang sangat bagus, Ryan," tutur Nick penuh penekanan.


"Entahlah, aku bingung, Nick," lirih Ryan. "Aku seperti tidak punya tujuan dalam hidupku."


"Siapa wanita itu?" Tanya Nick tiba-tiba yang membuat Ryan langsung mengernyit bingung. "Yang bisa membuat seorang pria kehilangan arah hidup atau justru menemukan arah hidup, biasanya adalah cinta dan wanita," tukas Nick dan seketika Ryan tersenyum samar.


"Alira, istri Daniel," jawab Ryan jujur yang membuat Nick melotot terkejut.


"Kau gila?" Pekik Nick lagi.


"Yeah, dia membuatku gila," jawab Ryan sambil terkekeh . "Dan aku rela gila karena dia, gila seumur hidup."


.........


Sementara di sisi lain, Daniel mengintrogasi Alira tentang hubungan mereka sebelum kecelakaan itu terjadi, awalnya Alira tak ingin memberi tahu Daniel karena khawatir dengan kesehatan Daniel, namun Daniel terus mendesak Alira membuat Alira tak bisa lagi mengelak.


Ia pun menceritakan semuanya tanpa terkecuali, hingga penyebab Daniel kecelakaan dan sampai pada masalah Calista yang membuat nama Daniel tercemar.


Daniel tercengang, ia terkejut dan tak percaya dengan cerita Alira.


"Jadi maksudmu, kau ingin bercerai dariku hanya karena aku mabuk dan tanpa sengaja tidur dengan wanita lain?" Tanya Daniel dengan suara rendah dan penuh penekanan.


Alira menggeleng dan berkata. "Kita sudah tidak cocok, Daniel."


Daniel tertawa sinis mendengar apa yang di katakan Alira dan tentu ia masih tidak mempercayai cerita istrinya itu.


Ia menunjukan foto lebam di wajahnya maupun memar di lengannya karena pukulan Daniel, Daniel terkejut melihat hal itu, dan tiba-tiba ia memekik kesakitan sembari memegang kepalanya.


Alira panik dan mencoba menenangkan Daniel namun Daniel enggan di sentuh oleh Alira. "Kau pasti berbohong!" tukas Daniel yang masih merintih kesakitan. "Itu hanya bukti bahwa kau terluka, tidak ada bukti bahwa aku yang meluakaimu,'kan?"


Alira tercengang mendengar apa yang di katakan Daniel, karena sepertinya karakter aslinya akan tetap mendominasi tak perduli apakah dia hilang ingatan atau tidak.


"Untuk apa aku berbohong?" Desis Alira. "Aku selalu memberimu kesempatan, Daniel. Bahkan setelah kau tidur dengan Calista, aku masih memberimu kesempatan," tukas Alira dengan suara yang gemetar.


Daniel menekan kepalanya yang berdentum keras, rasanya sangat sakit, seolah ada seseorang yang menghantamnya.


"Aggghhh!" Daniel menggeram kesakitan dan itu membuat Alira semakin panik.


"Kita ke rumah sakit," ujar Alira sembari mencoba menarik Daniel berdiri namun Daniel tak bergeming. "Daniel, kita harus ke rumah sakit," tukas Alira dengan sangat cemas, apalagi ketika ia merasakan tubuh Daniel yang tiba-tiba terasa sangat panas dan mengucurkan keringat dingin.


.........


Sesampainya di rumah sakit Dokter langsung memeriksa keadaan Daniel dan Alira sangat bersyukur karena Dokter mengatakan tidak ada yang perlu di cemaskan, apa yang terjadi pada Daniel hanya dampak dari Daniel yang memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya.


Mendengar hal itu Alira langsung merasa bersalah, ia pun menemui Daniel yang kini beristirahat setelah di berikan beberapa perawatan oleh Dokter.


Alira duduk di samping Daniel, menatap Daniel dengan sayu. "Maafkan aku," lirih Alira. "Inilah yang aku khawatirkan jika aku memberi tahumu yang sebenarnya, aku hanya ingin kau sembuh, Daniel."


"Supaya kau bisa segera menceraikanku?" Sela Daniel sambil tersenyum masam, Alira tak bisa menjawab, ia hanya bisa tertunduk. Daniel yang melihat itu semakin merasa patah hati, ia membuang muka dan menghela napas berat.


"Apa aku sejahat itu?" Tanyanya lirih tanpa menatap Alira.


"Kita hanya tidak cocok," kilah Alira dan Daniel pun kembali menatapnya.


"Kalau begitu beri aku satu kesempatan terkahir untuk mencocokan diri denganmu," tukasnya yang kembali membuat Alira tercengang, ia menatap Daniel dengan nanar.


"Kita hanya akan saling menyakiti jika pernikahan ini kita paksakan, Daniel. Aku mohon mengertilah."


"Tidak, Alira! Aku yang memohon padamu, tolong beri aku satu kesempatan terkahir!" Daniel memelas pada istrinya itu, ia menatap Alira dengan begitu sayu. "Aku lupa ingatan, Al. Tapi aku bisa merasakan cinta yang begitu besar untukmu di hatiku, aku mohon jangan tinggalkan aku."


"Aku yakin kau juga masih punya cinta untukku, jika tidak, maka kau tidak akan repot-repot berusaha membersihkan namaku."


"Jangan tinggalkan aku, Al. Aku janji tidak akan memukulmu lagi dan jika aku sampai melanggar janji itu, kau boleh melaporkanku pada polisi dan kau bisa pergi dari hidupku."


"Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, Alira. Aku mohon! Hahha satu satu kesempatan terakhir"


Alira meneteskan air matanya, ia tidak tahu harus berkata apa, di satu sisi ia takut akan sikap Daniel nantinya dan ia juga mencintai Ryan, Alira tidak mau menjadi istri Daniel sementara cinta di hatinya untuk Ryan.


Namun di sisi lain, ia merasa tidak tega pada Daniel yang terus memohon padanya.


Tbc...