Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #58 - She Loves You



"Ali... Aghhh...." Ryan mengerang saat merasakan sebuah pisau yang menusuk punggungnya. Ryan langsung menoleh, penasaran dengan siapa yang melukainya.


Sementara di belakangnya, Calista menarik pisau itu dan saat ia hendak menusukannya lagi, Calista tercengang karena ternyata yang datang bukan orang yang ia harapkan.


"Ryan?" Pekik Calista terkejut. "Dimana Daniel? Kenapa kamu yang datang?" Teriak Calista marah yang membuat Ryan tercengang.


"Apa maksudmu? Dimana Alira?" Desis Ryan yang menahan sakit di punggungnya, bahkan darah kini mulai menetes membasahi lantai gudang itu.


"Apa kau datang untuk menyelamatkan kakak iparmu? Oh Tuhan! Seharusnya Daniel yang datang, aku ingin membunuhnya!" Geram Calista kemudian ia menodongkan pisaunya pada Ryan.


"Calista! Turunkan pisau itu! Kau gila, huh?" Ryan mencoba merebut pisau di tangan Calista namun Calista justru menebaskan pisau itu dengan asal yang langsung melukai lengan Ryan.


Ryan langsung mengerang saat merasakan perih akibat sayatan pisau itu dan kini Ryan tak bisa bergerak karena Calista justru menodongkan pisau itu tepat di leher Ryan.


"Calista...." Ryan mencoba menenangkan wanita itu. "Sebenarnya ada apa? Aku ... aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, kamu mau apa?" Tanya Ryan dengan lembut namun itu tak mengurangi kemarahan di mata Calista.


"Aku ingin membunuhnya!" Desis Calista marah.


"Ryan...." Ryan langsung menoleh saat mendengar suara Alira yang terdengar begitu lemas.


Kedua mata Ryan langsung melotot sempurna saat melihat Alira terikat dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, Alira terlihat sangat lemah.


Saat Ryan hendak berlari untuk menghampiri Alira, tiba-tiba Calista langsung menghantam kepala Ryan dengan kayu yang membuat Ryan langsung tumbang dan tak sadarkan diri.


Alira menjerit histeris, apalagi ia melihat kepala Ryan yang mulai mengeluarkan darah. Alira menangis sambil terus berteriak memanggil Ryan, meminta Ryan bangun.


"Ryan!"


"Aku mohon! Bangun, Ryan!"


"Ryan...! Aku mohon!"


Namun Ryan tak bergeming sementara Calista justru berseringai licik, melihat penderitaan di mata Alira sungguh merupakan kepuasan tersendiri untuknya.


"Calista! Ryan tidak salah, aku mohon tolong dia..." Alira begitu memelas, namun Calista tentu takkan perduli.


.........


Sementara di sisi lain, Daniel meminum alkohol di mobilnya sampai ia setengah mabuk. Daniel tahu, tidak aman bagi Ryan pergi kesana sendirian, tapi Daniel mencoba tak perduli.


Apakah Ryan berhasil membawa Alira keluar dari sana dengan selamat, atau mungkin mereka berdua mati di tempat itu, Daniel tak mau tahu dan tak mau perduli.


"Bagiku mereka sudah mati, sudah seharusnya mereka mati," racau Daniel dengan suara yang bergetar, bahkan air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


Daniel teringat masa-masa kebersamaannya dengan Ryan maupun dengan Alira. Dan harus Daniel akui, Alira pernah menjadi istri yang sempurna, seperti yang Daniel mau, tapi Daniel ingin Alira lebih sempurna lagi dan lagi, ia tidak puas, hingga akhirnya Alira berbelok arah darinya.


Air mata menetes begitu saja dari sudut mata Daniel namun dengan cepat Daniel menghapusnya. "Mereka berdua tidak pantas di tangisi!" Desis Daniel namun ia seolah melihat bayangan Alira yang tersenyum padanya, membuat air mata Daniel semakin deras mengalir di pipinya.


"Meraka sudah pasti, seharusnya mereka sudah mati." Daniel terus meracau, meyakinkan hatinya bahwa ia benar-benar sudah menganggap dua orang itu sudah mati walaupun hati nuraninya menolak hal itu.


"Aku tidak perduli pada mereka!"


"Aku tidak mau perduli!"


Daniel menjerit sambil memukul setir berkali-kali dengan penuh emosi, ia merasa frustasi. Akal dan hatinya bergejolak, ia tak ingin perduli, namun hatinya tak bisa di bohongi.


Alira istrinya, wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Dan Ryan, sang casanova itu adalah adiknya, sahabatnya, yang tumbuh bersamanya.


Dengan kesal, Daniel menyalakan ponselnya dan ia menghubungi polisi, melaporkan penculikan Alira dan mengirimkan lokasinya.


"Aku hanya kasihan pada kalian," gumam Daniel yang masih menolak kepeduliannya pada Alira dan Ryan.


Namun saat Daniel hendak menyimpan ponselnya, ia mendapati notifikasi panggilan tak terjawab yang cukup banyak dari Ryan dan juga satu pesan suara yang di forward.


Daniel pun membuka pesan itu dan seketika ia hanya bisa menahan napas saat mendengar pesan suara dari istrinya itu.


Tbc....