Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #53 - Kehilangan



Ryan hanya bisa terduduk lemas setelah mendengar pesan suara Alira, ia merasa marah, benci, di permainkan dan juga, ia merasa kehilangan.


Bagaiamana mungkin Alira tidak mencintainya? Kenapa? Setelah semua yang mereka lewati? Dengan marah, Ryan melempar ponselnya itu ke dinding kamarnya hingga ponselnya rusak.


"Kau memilih Daniel, Alira. Kamu sudah berjanji akan memilihku, kenapa kamu lakukan ini?" Desis Ryan marah. "Dan sekarang kau memintaku menjaga suamimu? Kau fikir aku apa? Saat kau membutuhkanku, kau lari padaku, tapi saat kau tidak lagi membutuhkanku, kau mendorong suamimu pada ku? Sialan! Kau benar-benar sialan, Alira!" Jerit Ryan dengan dada yang bergemuruh.


Ia sangat marah, cinta yang baru ia rasakan kini harus di hancurkan begitu saja oleh pengakuan Alira yang mengatakan tak mencintainya.


"Apa kau tak mencintaiku setelah menghabiskan dua malam bersamaku? Sialan!"


...


Daniel begitu frustasi karena ia tak menemukan Alira dimanapun, dari rekaman cctv, terakhir ia terlihat di belakang rumah sakit, namun setelah itu, Alira menghilang seperti di telan bumi.


Sudah hampir 24 jam Alira menghilang, namun masih tak ada petunjuk apapun tentang keberadaannya.


" Ya Tuhan! Apa yang terjadi Alira? Kenapa kamu pergi seperti ini..." geram Daniel marah.


"Apa kalian sudah mencari ke semua tempat?" Teriak Daniel pada semua anak buahnya.


"Sudah, Pak. Tapi bu Alira memang tidak terlihat dimana pun, di semua halte bus, kereta, bahkan bandara, dia tidak ada."


"Berarti dia tidak pergi kemana-mana, dia berada di sekitar sini," gumam Daniel.


"Pak, jangan-jangan...." salah satu anak buah Daniel tiba-tiba bersuara. "Apa mungkin ini ada hubungannya dengan salah satu musuhmu, Pak?"


Daniel langsung terperangah mendengar ucapan anak buahnya itu, ia baru terfikirkan kesana.


Semua anak buah Daniel langsung bergegas melaksanakan perintah itu.


"Jika ada yang membawamu pergi, akan aku penggal kepala mereka, Al!" Desis Daniel tajam. "Tapi, jika kau pergi sendiri karena tak ingin bersamaku..." Daniel tertunduk sedih. "Silakan, aku tidak ingin menghalangimu lagi, kau berhak bahagia, aku hanya sedih karena aku tidak bisa membuatmu bahagia."


.........


"Wow..." seru Calista dengan seringai licik di bibirnya juga tatapan sinis dan tajam di matanya. Ia berjalan mendekati Alira yang terikat di sebuah kursi dengan mulut yang di sumpal.


"Ada apa denganmu, Mrs Agra? Aku rasa kau melarikan diri dari suamimu, hm?" Calista menunduk, ia memegang pisau yang tampak sangat tajam. Calista menyusuri pipi Alira dengan pisau itu yang membuat Alira harus menahan napas.


"Apa kau tahu? Selama beberapa bulan ini aku terus memikirkan cara bagaimana menculikmu, bagaimana membawamu pergi dari sisi suami psikopatmu itu, tapi kau justru datang dengan sendirinya padaku." Calista tertawa puas, sementara Alira tampak bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Saat ia hendak naik taksi di luar rumah sakit, tiba-tiba ada dua orang yang datang dan langsung membiusnya, setelah itu ia tidak ingat apapun. Dan saat tersadar, di sinilah dirinya berada sekarang.


"Aku tidak menyangka, Alira. Suamimu yang tampan, gagah, ternyata seorang psycho!" Geram Calista penuh kebencian. "Apa kau lihat ini?" Calista mengangkat tangan kirinya dimana jari tengahnya telah hilang. Alira melotot terkejut. "Aku tidak akan melupakan hari itu, Alira. Hari dimana Daniel menculikku, kemudian menyekapku selama 48 jam, tidak memberikanku makan dan minum kemudian memotong jariku hanya karena aku membuatmu sedih!"


Alira langsung mengerutkan keningnya mendengar apa yang di katakan Calista." Dia bilang, aku telah membuatmu sedih dan terluka dengan menyebarkan gosip itu, dia melakukan ini karena cintamu, Huh?"


Alira terperangah mendengar ucapan Calista, ia tahu Daniel memang kasar tapi.... Alira tidak pernah tahu ternyata Daniel bisa bertindak kriminal dan mengerikan.


Calista menatap mata Alira dan sambil tersenyum licik, ia menggores pipi Alira yang membuat Alira menggeram kesakitan merasakan perih nya sayatan pisau itu, air mata Alira mengalir deras namun itu justru menjadi tontonan yang sempurna untuk Calista.


Calista melepaskan sumpalan mulut Alira dan membiarkan Alira menangis kesakitan dimana itu justru membuat Calista tertawa senang.


"Hanya karena kau membuatku kesal, Daniel memotong jari mu, Calista!" Geram Alira. "Apa kau bisa membayangkan bagaimana jika Daniel tahu kau melukaiku? Dia akan memotong tanganmu atau bahkan mungkin kepalamu!"