Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #31- Cassanova's Love



"Sial!"


"Sial!"


"Sial...!"


Ryan terus menggeram dan ia meninju kaca di kamar mandinya berkali-kali tak perduli dengan punggung tangannya yang terluka dan mengucurkan darah.


"Aku tidak mau menjadi milik seorang casanova yang telah meniduri banyak wanita."


Kata-kata Alira yang menohok itu terus terngiang dalam benak Ryan, ia tidak marah pada Alira, melainkan pada dirinya sendiri.


Ryan menatap pantulan dirinya di pecahan cermin itu, menatap wajahnya sendiri dan mengingat masa-masa yang ia lewati bersama Alira. Dan Ryan juga teringat, semenjak dekat dengan Alira, Ryan tak pernah lagi ingin bercinta dengan wanita lain dan tak pernah juga terbersit untuk bercinta, padahal Viona pernah mengirimkan foto dirinya yang telanjang saat itu.


Kening Ryan berkerut dalam, alisnya menyatu dan ia menyadari sesuatu.


Ryan langsung berlari menemui Alira yang saat ini sedang di kamarnya, Ryan langsunn masuk ke kamar Alira tanpa permisi.


Alira yang saat ini sedang berganti pakaian langsung memekik terkejut saat Ryan masuk ke kamarnya.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Alira, ia langsung menutupi tubuhnya dengan baju yang masih ia pegang.


"Aku jatuh cinta padamu," ucap Ryan dengan napas terengah, Alira tercengang, keningnya mengernyit. "Aku tahu, aku seorang playboy," ucap Ryan lagi sembari mendekati Alira yang sontak membuat Alira langsung melangkah mundur.


"Lalu apa? Kau akan berubah untukku?" Cibir Alira sambil tersenyum miring, mengejek Ryan, namun Ryan menggeleng.


"Kau bilang, cinta itu menghormati, menghargai, merasa memiliki, dan semua rasa itu aku rasakan padamu," ucapnya lagi sementara Alira mencoba mencerna apa yang di maksud Ryan.


"Aku menghormati rasa cinta yang aku miliki padamu karena itulah, meskipun Viona mengirimkan foto telanjangnya padaku, aku bisa mengabaikannya dengan mudah. Aku juga merasa memilikimu, bukan sebagai objek, tapi sebagai wanita. Saat aku melihatmu menangis, hatiku sakit, sesak, seandainya bisa, aku ingin mengambil semua penderitaan dan rasa sakit yang membuatmu menangis."


"Kata-katamu manis sekali," sindir Alira sambil tersenyum miring. "Pantas saja semua wanita rela melemparkan diri padamu," sinisnya yang membuat Ryan menghela napas berat.


"Aku berkata apa adanya, Alira. Dan bukan seperti ini caraku merayu wanita di luar sana, karena aku tidak merasakan perasaan seperti ini pada mereka," jawab Ryan.


"Lalu, apa yang kau harapkan dariku?" Tanya Alira kemudian.


"Aku tidak tahu," jawab Ryan sembari tertunduk lemas dan saat itulah Alira menyadari tangan Ryan yang terluka dan berdarah.


"Tanganmu terluka dan berdarah." pekik Alira terkejut.


"Tapi tidak sesakit hatiku," jawab Ryan kemudian ia meninggalkan Alira begitu saja. Alira hanya terdiam, menatap Ryan dengan nanar hingga akhirnya Ryan menoleh, membalas tatapan Alira dengan sendu.


"Mungkin kau benar, tidak akan ada wanita yang mau menerima pria sepertiku, yang telah membawa banyak wanita ke ranjangku. Tapi aku bersumpah, Alira. Saat aku tahu ada cinta di hati ini untukmu....." Ryan meletakkan tangannya yang berdarah di dadanya. "Saat itulah aku meninggalkan semua kehidupan bebasku, saat itulah aku tidak memikirkan wanita lain, apalagi sampai menyentuh wanita lain. Karena seperti kata mu, saat seseorang sungguh mencintai, maka dia tidak akan berbagi hati apalagi tubuhnya untuk orang lain."


Alira tersentuh mendengar kata-kata Ryan, namun Alira berusaha pada pertahanannya, setelah apa yang Daniel lakukan padanya, Alira tidak mau mengalami hal yang sama dalam cinta Ryan.


"Aku akan kembali ke Paris, dan aku tahu, cinta itu tidak akan hilang meskipun aku kembali ke Paris. Aku menerima bahwa aku salah soal cinta."


Tbc....