
"Sayang...." Daniel memeluk Alira yang saat ini sedang memunggunginya, Alira tak bergeming dan ia juga tak menolak pelukan itu. "Bagaiamana menurutmu dengan kehadiran seorang anak? Mungkin keberadaannya bisa membuat cinta kita lebih kuat, hidup kita lebih sempurna." Alira hanya bisa menghela napas berat mendengar ucapan Daniel.
Dulu, ia sangat menginginkan seorang anak, tapi Daniel melarangnya hamil, memaksanya pil kontrasepsi setiap hari dengan berbagai macam alasan. Dan sekarang, saat Alira sudah menyerah, Daniel justru menginginkannya?
Daniel menyusuri lengan Alira dengan jarinya, mengecupnya dengan lembut, dan saat ia ingin mencium Alira, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Biar aku yang buka, mungkin itu Ryan," tukas Daniel dan Alira hanya mengangguk.
Daniel segera membuka pintu dan benar saham, ada Ryan disana dengan membawa dua botol wine. "Mau minum?" Tanya Ryan mengangkat dua botol itu.
Daniel menoleh, menatap istrinya seolah minta izin dan Alira hanya menganggukan kepala. Saat Daniel dan Ryan sudah pergi, Alira langsung menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Rasa bersalah pada Daniel menyelimuti hatinya, apalagi Ryan adalah adik sendiri Daniel. Alira menghela napas berat beberapa kali.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?"
Sementara itu, Daniel dan Ryan duduk di sofa sembari menikmati wine yang kata Ryan, adalah wine terbaik yang pernah ia minum.
Keduanya terus minum sembari b berbagi cerita hidup hingga akhirnya Ryan bertanya. "Apa kau percaya pada istrimu?" Tanya Ryan, ia memasang wajah serius sementara Daniel justru terkekeh dan mengangguk.
"Tentu saja, aku percaya pada istriku lebih dari diriku sendiri," jawab Daniel yakin.
"Yeah, dalam pernikahan sebuah kepercayaan memang sangat penting," ucap Ryan dan sekali lagi ia meneguk minumannya. "Aku hanya melihat, istrimu sangat berbeda sekarang, kau tidak takut dia mungkin berselingkuh atau mencintai orang lain?" Tanya Ryan yang membuat Daniel langsung terdiam.
Raut wajahnya langsung berubah dan ia mengingat kembali bagaimana sikap Alira selama ini padanya." Tidak! "Daniel menjawab dengan tegas. "Alira tidak mungkin mencintai orang lain dan jika pun iya...." Daniel tertunduk, menatap gelas wine di tangannya. "Aku akan berusaha merebut cintanya kembali, dia milikku dan akan selalu menjadi milikku."
Ryan tersenyum masam mendengar jawaban penuh keyakinan kakaknya itu, tapi Ryan juga tak mau mengalah sekarang setelah tahu apa yang terjadi di antara dirinya dan Alira.
...
Saat pagi menjelang, Alira keluar dari kamar apalagi ia tak melihat suaminya ada di kamar.
"Astaga...." gumam Alira yang melihat Ryan dan Daniel tidur di sofa dengan dua botol wine yang sudah kosong.
"Daniel...." Alira menepuk pipi Daniel namun Daniel tak bergeming sedikitpun. "Ryan...." kini Alira mencoba membangunkan Ryan namun Ryan hanya melenguh.
"Ryan, bangun! Ini sudah siang," tukas Alira. Namun bukannya bangun, Ryan yang justru menarik Alira hingga Alira jatuh ke atas tubuhnya dan Ryan langsung mengecup bibir Alira.
Alira melotot terkejut dan langsung menjauh, sementara Ryan hanya tersenyum namun matanya masih tertutup rapat. "Dasar gila!" gumam Alira dalam hati, ia segera menoleh pada Daniel dan ia bernapas lega karena Daniel masih tidur.
Alira pun meninggalkan dua pria itu untuk membuat sarapan karena saat ini ia pun sudah sangat kelaparan.
...... ...
Di sisi lain, Viona menemui Nick dan ia bertanya soal Ryan, karena Viona tahu, Ryan tak pernah menyembunyikan apapun dari Nick.
"Aku yakin kau tahu sesuatu, Nick. Ku mohon, beri tahu aku," desak Viona karena sejak tadi Nick terus mengelek. "Kau tahu aku sangat mencintai Ryan, aku rela melakukan apapun untuknya," ucap Viona memelas yang membuat Nick tak tega.
"Oh, Dear. Kenapa cinta membuat orang gila?" keluh Nick. "Ryan gila karena mencintai Alira, kau gila karena mencintai Ryan. Oh Tuhan! Musnahkan saja cinta itu supaya dunia ini aman!"
Viona menganga mendengar ucapan Nick, jadi kecurigaannya selama ini benar? Perhatian Ryan pada Alira bukan karena Alira istri Daniel tapi Ryan mencintainya.
"Permainan cinta ini membuatku pusing," keluh Nick lagi sembari memijit kepalanya. "Ryan bahkan mau berhenti menjadi model karena Alira, ia merasa kehilangan arah hidup karena Alira. Cinta oh cinta!