Beautiful Affair

Beautiful Affair
BA #56 -



Daniel mengucek matanya yang terasa panas, air mata yang coba ia bendung kini mengalir begitu saja membasahi pipinya.


"Seharusnya kalian bunuh saja aku dari pada menikamku seperti ini," geram Daniel marah.


Saat ini ia sedang dalam perjalanan ke kantor dan Daniel tak mau lagi perduli pada Ryan ataupun Alira.


Pengkhianatan yang mereka lakukan sudah membunuh Daniel. "Aku benar-benar ingin membunuh kalian semua, tapi aku...." Daniel kembali mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya. "Aku menyayangi kalian," lirihnya.


Tak berselang lama ponsel Daniel berdering, ia segera menghentikan mobilnya kemudian menjawab panggilan itu.


"Halo..."


"Apa?!"


"Sialan! Awasi mereka, aku akan kesana sekarang!"


...


Suara langkah kaki yang mendekat membuat Alira terbangun dari tidurnya, perlahan ia membuka matanya yang terasa berat, panas dan perih.


"Wow, aku tidak tahu, apakah aku yang pandai menyembunyikanmu, atau memang tidak ada yang mencarimu, Alira?" Calista berkata sembari tersenyum licik.


Alira hanya bisa tersenyum masam, karena ia pun tidak berharap di selamatkan oleh siapapun. Sudah tiga hari, Alira di sekap oleh Calista dengan kondisi tubuh yang terikat, Calista bahkan tidak memberinya minum atau makan, membuat Alira merasa sekarat.


"Tidak akan yang mencariku, Calista. Jadi, kau bunuh saja aku," Tantang Alira dengan suara yang begitu lirih.


"Tidak, aku tidak akan membunuhmu, akan aku buat kau mati pelan-pelan," tukas Calista


dengan seringai licik nya.


"Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dengan Daniel, hm? Kenapa dia tidak mencarimu? Atau, mungkinkah dia sudah melupakanmu dan menemukan wanita lain?" Calista duduk di sebuah kursi yang ada di depan Alira.


"Kami akan bercerai," jawab Alira dengan tenang, pupil mata Calista langsung melebar mendengar ucapan Alira.


"Daniel bukan tipe orang seperti itu, Calista. Apa yang terjadi di antara kalian malam itu hanya sebuah kesalahan semata."


"Lalu apa yang membuat kamu ingin bercerai darinya?"


Alira hanya bisa diam, ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Seluruh tubuhnya sudah sakit karena berada dalam kondisi yang sama-sama selama beberapa hari ini, sepertinya Calista memang benar-benar ingin membunuhnya pelan-pelan.


"Karena kami sudah tidak saling mencintai."


...


Sementara itu, Daniel dan beberapa anak buahnya mendatangi rumah orang tua Calista, Daniel tampak sangat marah dan itu membuat Jared dan istrinya keheranan.


"Dimana kalian menyembunyikan Alira?" Desis Daniel tajam.


"Apa maksudmu?" Tanya Jared bingung.


"Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu Calista yang membawa Alira!" Seru Daniel marah. "Sekarang katakan padaku, dimana istriku?" desisnya.


"Aku tidak tahu, Daniel. Aku tidak apa yang terjadi!" seru Jared yang juga merasa marah. Daniel tak mau tinggal diam, ia menyuruh anak buahnya untuk menggeledah rumah Jared.


Namun tak satupun dari mereka yang menemukan keberadaan Alira maupun Calista.


"Aku bisa melaporkanmu ke polisi, Daniel!" Ancam Jared namun Daniel tak gentar.


Ia justru menemukan sebuah rekaman cctv dimana disana terlihat Calista membawa Alira dalam keadaan terikat dalam sebuah mobil. Rekaman cctv itu terlihat di sekitar rumah sakit dan Daniel baru mendapatkannya sekarang.


Sementara Jared dan istrinya sangat terkejut melihat rekaman cctv itu.


"Aku akan membuat anak kalian membusuk di penajara!"