
"Aku ingin memberi tahumu, sebenarnya... sebenarnya ingatanku sudah kembali sejak aku masuk rumah sakit lagi."
"A-apa?" Alira terperangah mendengar pengakuan Daniel, ia menatap suaminya itu dengan dalam, berharap Daniel hanya bercanda namun yang terlihat di matanya hanya kejujuran.
"Maaf, Al. Aku terpaksa tidak memberi tahumu," lirih Daniel penuh penyesalan, ia menatap Alira dengan begitu sendu sementara Alira tak bisa berkata-kata.
"Aku terpaksa berbohong, aku melakukan ini berharap kamu mau menerimaku kembali, memulai hubungan kita dari awal lagi," tukas Daniel yang membuat Alira hanya bisa melongo.
"Dengan cara seperti ini?" Tanya Alira dengan suara yang tercekat di tenggorokannya.
"Aku tahu, ini salah. Karena itulah aku minta maaf, Al." Alira sungguh tidak tahu harus berkata apa lagi, dulu ia selalu menerima kata maaf dari Daniel karena segala perlakuan semena-menanya, sekarang ia juga menerima kata maaf karena tentara ia di bohongi?
"Sebenarnya ... sebenarnya kapan kamu benar-benar ingin minta maaf sama aku? huh?" Desis Alira dengan kening yang berkerut dalam dan tatapan yang sudah penuh dengan luka. "Kapan maaf kamu bukan hanya ucapan di bibir kamu?"
"Aku mohon, Al. Kasih aku kesempatan sekali lagi," lirih Daniel memelas. "Setelah kecelakaan itu, aku sadar, aku bisa mati kapan saja, aku hanya hidup sekali. Karena itulah aku ingin memperbaiki hidupku, aku ingin memperbaiki pernikahan kita, Al. Aku ingin membuat kamu bahagia."
Alira hanya bisa memijit pelipisnya, ia tidak menyangka ternyata selama ini Daniel menipunya. Dan apa katanya? Untuk memperbaiki segalanya?
"Aku terpaksa berbohong, karena kalau kamu tahu aku sudah ingat semaunya, kamu pasti akan meninggalkanku."
"Jadi kamu tidak mau aku meninggalkanmu?" Tanya Alira tajam dan tentu Daniel langsung mengangguk. "Kenapa?" Tanya Alira.
"Karena aku sangat mencintaimu, Alira. Aku tidak bisa kehilanganmu," jawab Daniel yang membuat Alira tertawa sinis.
"Kamu tidak mencintaiku, Daniel. Kamu hanya mencintai diri kamu sendiri," desis Alira tajam kemudian ia pun segera turun dari ranjang dan hendak pergi dari kamar namun Daniel mencegahnya.
"Please!" Daniel memelas, bahkan ia berlutut di depan Alira. "Please, Alira! Kasih aku kesempatan sekali lagi, aku juga ingin memperbaiki diri."
"Janji itu terus terucap dari bibir kamu, Daniel. Tapi hanya sampai di bibir kamu karena kamu tidak pernah berubah dan tidak akan pernah berubah!" Jerit Alira emosi.
"Selama beberapa bulan ini, apa menurutmu uang aku lakukan bukan sebuah perubahan?" Tanya Daniel tiba-tiba. "selama beberapa bulan ini, aku tidak bertindak posesif padamu, aku membiarkanmu lebih bebas, Alira. Dan apa kau tahu betapa sulitnya mencoba mengubah diriku? Apalagi aku selalu terbayang dengan perselingkuhan orang tuaku. Sangat sulit, tapi aku terus berusaha, agar kamu nyaman berada di sisi ku. Dan apa kau tahu? Saat aku marah padamu, bukan karena aku tidak percaya padamu, tapi aku tidak percaya pada diriku sendiri, Al. Aku takut, selalu takut. Dan aku sedang berusaha melawan ketakutanku, aku tahu kamu tidak sama seperti ibuku, atau yang lainnya. Aku tahu, kamu setiap sama aku. "
Alira hanya bisa tercengang mendengar ungkapan hati Daniel, apalagi memang benar, selama beberapa bulan ini, sejak Daniel mengalami kecelakaan, Daniel banyak berubah, bersikap lebih manusiawi pada Alira.
Dan hati Alira mencolos saat mendengar kata-kata terakhir Daniel, setia? Ia percaya Alira setia padanya?
"Aku mohon, Al. Jika setelah ini aku kasar lagi padamu, jika aku mengekangmu lagi, kau boleh pergi, karena itu artinya aku gagal berubah."
Alira masih membisu, tak tahu harus berkata apa dan melakukan apa. Ia menatap mata Daniel, ia melihat kejujuran dan harapan yang begitu besar di sana.
Namun di sisi lain, tak perduli apakah sekarang Daniel sudah berubah menjadi malaikat yang sesungguhnya, hati Alira tak mungkin kembali padanya, karena hatinya telah ia serahkan pada Ryan.
"Aku mohon, Al. Hanya satu kesempatan terakhir..."
Tbc....