
Satu bulan berlalu begitu saja.
Hari ini John dan MinHo ada sebuah pekerjaan yang mengharuskan mereka ke seoul. Mau tidak mau John harus pergi.
"Apa kau sudah berhasil membuat istrimu hamil John? " tanya MinHo tiba-tiba, menarik atensi John begitu saja.
"Kau ini bicara apa sih?" sahut John dengan nada kelewat datar.
"Hei, itu pertanyaan wajar loh?! "
"Sepertinya belum berhasil? "jawab John masih datar, tak mau ambil pusing dan memperpanjang percakapan ambigu yang dibuat MinHo.
"Jadi kau sudah menyentuhnya? Kau bilang tidak berselera! "
"Hei, itu dulu! Jangan bicara sembarangan seperti itu, kau bisa menimbulkan salah faham! "
"Okey! Maaf! "
Mereka masih menyebarkan brosur kepada para pejalan kaki. Berbeda dengan Minho yang menebar pesona pada gadis-gadis, John malah menutupi identitasnya berharap tidak ada yang mengenali dalam satu jam kedepan.
Akan tetapi, sepertinya nasib baik belum berpihak padanya. Seseorang mengenali John. JiEun.
"John? Kau kah itu?! "
John memalingkan wajah menghindari JiEun yang berusaha menemukan fiturnya dibalik masker dan topi yang ia kenakan.
"Pergi saja, kau salah orang! "
JiEun mendekati John dan mengendus, menghirup aroma yang timbul dari balik jaket hitam yang dikenakan John.
"Aku tidak salah! Kau masih menggunakan aroma yang sama! John---"
Karena kesal, John menatap nyalang JiEun dengan manik rusanya yang membulat sempurna. Gadis itu tersenyum. Cantik sekali, masih sama seperti saat John menjadikan gadis itu miliknya dulu.
"Lalu kau mau apa? Aku harus bekerja Ji! Aku mohon jangan membuatku dipecat gara-gara hal sepele! " tutur John sambil berjalan kelain tempat, membagikan satu persatu tumpukan kertas bergambar peralatan rumah tangga diatas lengannya kepada pejalan kaki. JiEun masih mengikuti, mengekor dibelakang.
"Kalau begitu temui saja aku jika kau dipecat! Aku akan membantumu diterima bekerja diperusahaan papaku tanpa syarat! "
"Ji—"
"Panggil aku Eun, seperti dulu! " sahut JiEun cepat. Membuat John terpaksa menautkan manik dengan kesal.
"Maaf, tapi itu dulu! Jadi aku mohon, jangan membangun nuansa masa lalu untuk saat ini! Semua sudah berbeda Ji, aku sudah mempunyai istri dan aku sangat mencintainya! "
"Kau bohong! "
John mengerutkan dahi, kesal bukan main. JiEun masih tak menyerah saat dirinya mengatakan kenyataan bahwa dia sudah menikah dan bahagia.
"Kau... masih memilih wanita yang memiliki fisik menyerupai diriku bukan?"
"Istrimu, aku melihatnya saat kau mengajaknya berbelanja hari itu! Rambut pendek, badan kecil, bukankah itu yang kau sukai dariku dulu?" suara JiEun bergetar dengan manik sedikit berair.
"Kau salah Ji! "
"Lalu apa? John, aku mohon jangan membohongi perasaanmu padaku! "
Stagnan, bibir John terkatup rapat dibalik masker hitam yang masih menyembunyikan wajah. Kepala John tertunduk kecewa karena nyatanya dia masih belum bisa melupakan sosok JiEun sepenuhnya. Mendadak John ingin sekali MinHo datang dan menghancurkan suasana yang sungguh membuatnya tak bisa menggerakkan kaki, bahkan bibir untuk sekedar bicara.
"Mau aku beritau satu hal yang bisa membuatmu semakin membenciku Ji? "
JiEun tertunduk kali ini,
"Aku sedang berusaha menghadirkan sosok anak dalam keluarga kami! Aku melakukannya karena aku benar-benar mencintai istriku! Bukan dirimu! "
Sontak JiEun mengangkat pandangan, mematri pandangan dengan kedua manik indahnya yang berair, menetes semakin deras. Hatinya teriris pilu, bibirnya bergetar dengan sebuah sematan senyum getir.
"A~h jadi kau melakukannya? Tentu saja, kalian pasangan menikah dan wajar jika melakukan itu! " jawabnya sambil mengusap airmata yang jatuh membasahi pipi.
Melihat itu, John ingin sekali meraih pundak JiEun dan memberikan ketenangan karena sudah membut JiEun menangis seperti itu. Tapi, dia punya alasan lain yang lebih kuat untuk tak melakukannya. Dan alasan tersebut adalah Song Hyuji.
"Jadi, berhenti menginginkan aku kembali kemasa lalu! " John menjeda sejenak, memejam guna mempertahankan hati dan perasaan. "Apalagi menginginkan diriku untukmu! Semua sudah menjadi masa lalu, dimana kau sudah menghancurkannya!"
John tak tega melihat JiEun yang semakin tergugu.
"Maaf seperti ini padamu, tapi aku tidak seperti dulu Ji! Jalan kita sudah berbeda! Dan aku harap kau mau menerimanya!" terang John sambil melihat kearah tangannya yang bergerak gelisah.
"Kalau seperti itu, biarkan aku menerima sebuah pelukan yang bisa menenangkanku! Darimu, seperti dulu! "
***
Hyuji mempersiapkan semua bahan jualan yang akan ia bawa ke kedai. Tiba-tiba saja ponselnya diatas meja makan bergetar. Dia pikir John mungkin sangat merindukannya hingga sudah menghubungi saat matahari masih bersinar.
Hyuji mengusap telapak pada apron dan menekan balon pesan.
Bagai dihantam gada yang menghancurkan setiap ensel dan inci tubuhnya. Hyuji membiarkan Ponselnya menghantam meja dengan keras, membawa diri untuk menjauh beberapa langkah dari persegi pintarnya dengan kedua telapak menutup mulut yang terbuka karena kejut. Kedua manik yang memanas secara spontan, mual menyerang perutnya dengan hebat.
"...??"
Hyuji berlari kekamar mandi guna mengeluarkan semua makanan yang ada didalam perutnya, semuanya, tak bersisa.
Lemas, tubuhnya merosot kelantai kamar mandi dengan derai air mata yang tak bisa ditahan. Tergugu dalam sunyi, tubuh bergetar, wajahnya memucat.
"Kau... membohongiku John?" gumamnya disela isak tangis yang tak kunjung mereda.
"Dasar brengs*k! "[]