Another Winter

Another Winter
another Winter 18



Rabu,


Tidak ada matahari menyapa wajahnya pagi ini, hanya sebuah memo yang tertempel di gorden berwarna crem yang masih tertutup rapat. Hyuji mengerjap, berusaha bangkit diantara tubuh lelahnya yang masih terbalut selimut putih nan tebal.


Hyuji melirik jam pada ekor matanya—pukul delapan pagi. Meletakkan telapaknya pada kening dengan senyuman merekah dan suara parau.


"Ah, kenapa dia tidak membangunkanku?"


Hyuji meraih pakaiannya, mengenakan satu persatu kemudian berjalan menuju gorden dan mengambil memo yang sudah ia tau, pastinya berasal dari John.


Selamat pagi sayang,


Maaf tidak membangunkanmu. Aku harus pergi lebih awal dari biasanya karena ada satu hal yang harus aku lakukan.


Cepat mandi dan beristirahatlah kembali. Kau pasti sangat lelah karena aku.


Hyu Hubby's, John.


Pipi Hyuji seketika memerah, kata penutup yang menyebut John adalah suaminya benar-benar membuat hati Hyuji serasa ingin melompat dari tempatnya, karena kegirangan. Dia bahkan menyimpan memo tersebut didalam laci pribadi yang biasa ia gunakan untuk menyimpan uang.


"Semoga saja tidak akan ada lagi kesalah pahaman antara aku dan John! "


***


John tidak bisa tidur semalaman, sebab memikirkan apa yang dibicarakan Hyuji dan mamanya saat bertemu, Hyuji tidak mau membuka suara untuk bercerita. Setelah melihat Hyuji tertidur dalam pelukannya, ia kecup lembut kening Hyuji beberapa kali. Kemudian meraih ponsel dan memesan tiket kereta pertama dipagi hari menuju seoul.


Dan disinilah dirinya sekarang, duduk di istana megah yang pernah menjadi huniannya dulu, menunggu sang ibu turun dari singgasan, John menanti dengan sabar demi tujuannya mengatakan sesuatu.


Hingga suara ketukan sepatu mahal yang menggema dari arah anak tangga menyergah seluruh lamunan John. Presensi sang ibu dengan pakaian mewah menuruni satu persatu anakan tangga itu.


"Ada perlu apa kau datang sepagi ini menemui mama sayang?! "


John tak bergeming, dia tetap pada posisinya hingga sang ibu sampai di anakan tangga terakhir dan berjalan mendekatinya. Tatapan nyalang John layangkan ketika ibunya sudah duduk dikursi seberang.


"Mama pasti tau tujuanku datang kemari!"


"Apa, mama tidak mengerti maksudmu?"


Diam sejenak, John menatap sang ibu dengan ekspresi datar.


"Mam, tolong jangan ganggu Hyuji! "


"Kapan—" ucapan sang ibu terjeda, kemudian tersenyum sarkas. "A~h, dia mengatakan itu padamu? "


John hanya diam tak memberi penjelasan lebih jauh.


"Sayang, mama hanya ingin menemuinya! Mengobrol sedikit dengannya! "


"Apa yang mama bicarakan dengannya? "


Joana meraih kupingan cangkir dan menyesap teh hijau yang baru saja dihidangkan pengurus rumah.


John mengeratkan rahang,


"Apa mau mama! "


"Kau yakin ingin mendengarnya?! "


Kesal, tentu saja. John tidak suka basa-basi. Melihat ekspresi putranya yang tidak suka, Joana tertawa senang.


"Mama hanya menyuruhnya untuk meninggalkan dirimu! "


"Apa? Teganya mama—"


"Mama tidak suka dia sejak pertama melihatnya! Kau bahkan tau akan hal itu!"


Sekali lagi John dihadapkan dengan sebuah gemuruh dalam benaknya yang meluap, meletup bak lava gunung yang hendak meletus.


"Mama tidak bisa seperti itu padanya! Dia istriku! "


"Lalu kenapa? Mama juga berhak atas dirimu John?! "


"Mam! Tolong hentikan semua ini! "


"Tidak, sampai kau meninggalkan wanita itu! "


Menatap wajah sang ibu yang memiliki fitur tegas, John nyaris membawa dirinya bangkit dan berniat untuk pergi tanpa mengindahkan titah sang ibu. Namun langkahnya kembali terhenti kala suara sang ibu kembali mengudara, mengucapkan sesuatu yang membuat John mau tidak mau harus mendengarkan.


"Jika dirimu tidak mau meninggalkan wanita itu, biar ibu—"


"Mam! Hentikan skenario ini, dan jangan ganggu hidupku bersama Hyuji! "


"Atau kau akan melihat wanita itu menderita didepan kedua matamu sendiri!" lanjut Joana cepat dengan kedua manik membola dan rahang mengerat, tanpa peduli perasaan putranya sendiri.


Sontak, John membalik badan untuk menatap sengit atas ancaman yang dilontarkan sang ibu. Dia bahkan tidak percaya wanita yang sebenarnya masih sangat ia hargai itu memberikan ancaman yang sangat tidak memiliki hati seperti itu.


"Mam—!"


"Tinggalkan dia dan menikah dengan JiEun! Atau tetap bersama wanita itu dan melihatnya menderita didepan matamu! "


Tanpa ia sadari, airmatanya menetes. Hal yang tidak masuk akal terus membuatnya ingin meluapkan segala amarah yang sedari tadi ia tahan.


John mengerjap, tak tau harus bagaimna lagi. Menghembus nafas frustasi sambil menjambak surainya sendiri, hingga lelehan airmata itu kembali luruh dari sudut mata.


"Mam, please... Aku sama sekali tidak ingin pergi dari Hyuji! "


"Mama tidak punya pilihan lain! Jika kamu tetap tidak mau berpisah, mama yang akan memisahkan kalian! "


Kaki yang biasa berdiri kokoh, seperti tak memiliki tulang. Keras kepala yang selama ini menjadi tameng pun ikut hancur saat ibunya menjadikan Hyuji sebagai senjata untuk menyerang dan membuat dirinya lemah. John terpojok, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali, "Baiklah! Aku akan meninggalkan Hyuji!"[]