Another Winter

Another Winter
another Winter 31



Tidak ada apapun yang terjadi, selain John memaksa untuk bermalam disana. Akan tetapi saat Hyuji membuka kedua manik, dia sudah tak mendapati John dirumah, hanya sebuah memo tertempel di gorden kamar yang masih tertutup rapat. Mengingatkan tentang kebiasaan John dulu saat tak bisa membangunkan Hyuji dipagi hari, dia selalu meninggalkan memo berisi permintaan maaf.


Terima kasih atas makan malam dan tumpangan tidurnya semalam. Maaf merepotkan dan membuatmu tidak nyaman. Kita bertemu lagi di seoul dua minggu kedepan.


John.


Senyuman mengembang begitu saja dari bibir Hyuji. Hatinya menghangat kala membaca memo tersebut, kemudian menggeser tirai agar matahari masuk kedalam kamar, menyalurkan rasa hangat pada tubuh ringkihnya.


Jika saja itu Hyuji yang dulu, dia akan segera keluar dari kamar untuk melihat keadaan dimeja makan, sebab John pasti akan meninggalkan sarapan yang ia buat disana. Tapi tidak untuk saat ini, tidak ada apa-apa, itu hanya dulu. Karena dia sudah sendirian entah sejak kapan, atau lebih tepatnya, Hyuji tidak tau sejak jam berapa John sudah pergi dari rumah mereka—dulunya.


Kedua manik Hyuji menatap pekarangan kecil dibelakang rumah, sebenarnya tidak ada apapun disana selain rumput liar dan juga kawat tembaga yang dulu dibuat John untuk menjemur pakaian mereka.


Telapak Hyuji terulur untuk mengusap kaca jendela yang ukurannya terbentang lumayan luas. Hatinya mencelos, mengingat bagaimana John memeluk dia semalam. Tak dipungkiri perasaan Hyuji sangat senang, bahagia malahan. Terngiang juga bagaimana suara John meminta ramen yang ia buat untuk dibagi, dimakan berdua dimeja yang masih sama. Semua terekam jelas, tidak ada samar sedikitpun dalam bayangan dimemorinya.


"Kau meninggalkan kenangan yang terlalu Indah sampai aku tidak mungkin bisa melupakan semuanya dalam waktu dekat John?!" gumam Hyuji dengan suara parau.


Hyuji menunduk, memaksa diri untuk kembali dalam batas dan menerima kenyataan. Meskipun menyakitkan, namun begitulah adanya.


***


John sudah duduk di meja kerjanya, dengan pakaian rapi, rambut tertata, dan juga raut wajah yang dipenuhi semangat. Memeriksa laporan yang perlu ia tandatangani, dan juga mengecek e-mail yang dikirim dari berbagai devisi di perusahaan yang ada dibawah pimpinannya itu. Sangat sibuk, dan melelahkan.


Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan telepon masuk. Netra John beralih pada display yang sedang berdenyar-denyar itu, mendapati nama sang ibu terpampang disana.


"Ada apa Mam, aku sedang sibuk! " tuturnya sambil tetap melihat pada pendar layar komputer dihadapannya.


"Pulanglah kerumah mama nanti! Mama dan papa hendak melakukan sesuatu yang perlu melibatkan dirimu sayang! "


"Eummm! Mama ingin aku datang jam berapa?"


"Setelah menyelesaikan pekerjaan, cepatlah datang! Mama menunggumu! "


"Eoh, baiklah! "


Panggilan itu berakhir, John menurunkan perlahan ponsel untuk ia letakkan kembali diatas meja.


John menerka, pasti hal itu berhubungan dengan apa yang dikatakan JiEun padanya tempo hari. Entah mengapa bayangan tentang Hyuji malah muncul didalam kepala. Bagaimana dia mengusap surai Hyuji yang tidur lelap tadi malam. Memandang fitur cantik itu sangat tenang, hatinya terasa sakit dan ngilu bersamaan saat mengingat tubuh Hyuji yang terlihat semakin kurus, tapi dia selalu mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


"Reyna benar! Hyuji memang tidak semudah itu di mengerti! Dia akan selalu bilang dirinya baik-baik saja yang berkebalikan dengan kenyataan!"


John menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, membiarkan kursi itu berputar samar memanjakan dirinya. Memejam lelah, namun dirinya tak bisa berhenti sekarang. Masih banyak hal yang harus ia lakukan untuk sebuah janji yang sudah ia ucapkan. Dimusim dingin kelak, entah musim yang keberapa, dia harus mewujudkan janji itu. Membawa Hyuji kembali, membuat semua orang mengakui bahwa Hyuji adalah wanita yang sangat ia cintai. Sebagai seorang istri—lagi.


***


Pukul tujuh malam tepat, mobil John berhenti dipelataran rumah bak istana milik orang tuanya. Berjalan tanpa ragu melewati belah pintu dan juga sambutan dari para pekerja rumah tangga disana.


John dapat menangkap dua presensi sedang menunggunya disana, duduk dengan penuh Wibawa dalam balutan pakaian mahal dan Classy.


"Ada apa mam? Mengapa mama dan papa memakai pakaian formal seperti itu?"


"Sebaiknya kau membersihkan dirimu dulu John! Mama sudah menyuruh bibi Lee untuk menyiapkan pakaian dikamarmu!"


John memiringkan kepala sejenak, kemudian memberikan anggukan samar dan berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamar yang pernah ia tempati dulu. Ah, tidak tau mengapa, ada sedikit rasa rindu pada kamar itu.


Suara gemericik air hangat yang turun dari shower membuat John merasa nyaman. Lelah yang sedari tadi bergelayut membebani pundak seolah ikut luruh bersama guyuran air hangat yang melewati setiap inci tubuh. Kemudian keluar dengan bathrobe yang membalut tubuh kekarnya setelah menyelesaikan urusan dikamar mandi.


Melihat kearah ranjang, dimana sebuah jas berwarna khaki, kemeja berwarna sedikit lebih gelap dan celana dengan warna senada berada diatas ranjang besar tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Sekarang ya? Baiklah, mari kita mulai!" tuturnya diiringi dengan sebuah seringai pada sudut bibirnya.


John kembali menuruni anakan tangga setelah selesai dengan urusan membersihkan diri. Berdiri dihadapan kedua orang tuanya berada.


"Baiklah, ayo kita berangkat sebelum hari semakin malam!" suara sang ayah menginterupsi.


Sang ibu tersenyum lembut melihat ketampanan putranya itu.


"Aigoo... John ku tumbuh dewasa dan sangat tampan!" pujinya sambil mengusap lengan kokoh John.


"Sebenarnya mama mau mengajakku kemana?" bohongnya berbasa-basi.


"Kau akan tau nanti!" singkat sang ibu.


Ketiganya memasuki mobil mewah dengan seorang supir yang sudah menunggu didalam. John duduk didepan, disamping kursi kemudi.


Hening, tak ada konfersasi sepatah katapun. Hanya deru mesin mobil yang terdengar halus dan sama sekali tidak mengganggu pendengaran.


Setelah menempuh jarak sekitar tiga puluh menit lamanya, mereka sampai didepan sebuah rumah besar berdesign modern, dan dua orang sudah menanti kedatangan mereka didepan rumah.


"Tuan Wilson... " sapa pria berpakaian resmi menjabat tangan dan mengusuk lengan ayahnya. Pria yang sangat John kenali, tuan Choi.


Kemudian tuan Choi beralih melihat John, tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya. John memasang tawa pada birainya dan menyambut pelukan tuan Choi.


Seutas ingatan melintas, membuat John stagnan. Bagaimana dua tahun yang lalu, seorang pria di daegu juga menyambutnya dengan hangat dalam pelukan seperti ini. Sosok renta yang baik dan menghargai dirinya, pria yang memiliki telapak berkerut namun hangat dan penuh kasih. Yang tak lain adalah ayah Hyuji.


"Kau terlihat semakin dewasa dan tampan John!" puji tuan Choi saat melepas rengkuhannya, membuat John kembali ditarik dalam kesadaran bahwa hari ini bukanlah dua tahun yang lalu. Berbeda.


"Terima kasih paman... "


"Paman?? Panggil aku papa seperti kau memanggil papamu sendiri! "


Konyol!


Bukankah dia juga tau jika John sudah menikah? maksudnya, masih terikat pernikahan dan belum resmi berpisah. Tapi dia malah menerima lamaran dari orang tuanya! Benar-benar memuakkan!


Ingin sekali John tertawa lantang untuk itu, namun menahan kuat-kuat, untuk menjaga sebuah kata yang mengatas namakan kedua orang tuanya. Sebuah Kehormatan.


"Benarkah? Wah, saya merasa terhormat!" sahut John. "Tapi, bukankah lebih tepat jika saya memanggil paman saja! Ada orang lain yang masih berhak saya sebut dengan ayah selain papa saya sendiri!"


Skak mat!!


Semua terdiam karena jawaban sarkas yang dilontarkan John. Semua menjadi kaku, bahkan tatapan JiEun berubah kesal pada sosok John. Hingga suara mama John terdengar memecah keheningan.


"Ahahaha...sudahlah! Lebih baik kita bicarakan didalam saja!"


Papa John menatap tajam dengan kedua tangan mengepal, mengisyaratkan sebuah amarah. Seolah tak mau mempersoalkan hal itu, John hanya tertawa kecil dalam seringai, sekali lagi.


Suasana menjadi sedikit canggung, hanya terdengar bunyi dari sendok dan piring yang beradu diatas meja makan luas yang berisi berbagai macam menu makanan itu.


"Tuan Wilson, apa rencana perjodohan ini masih akan berlanjut?"


"Tentu saja! " sahut ibu John lebih cepat sebelum tuan Wilson berhasil membuka mulut untuk memberikan jawaban. "Bagaimana kalau pesta pertunangan kita lakukan setelah John menyelesaikan proses sidang terakhir perceraiannya! Dua minggu lagi!"


"Mam—"


"Diam kamu John!" bentak sang ibu memberi dominasi. Membuat John harus kembali menutup mulut dan berpura-pura menurut, seperti yang sudah ia rencanakan.


"Tentu saja! Saya rasa JiEun juga tidak keberatan! Benar kan sayang?" tutur tuan Choi sambil melihat pada Putri semata wayangnya.


"Iya pa... "


"Kalau perlu kita undang salah satu media ternama untuk meliput acara pertunangan mereka!"


"Mam! Itu berlebihan!" sanggah John tidak setuju dengan usul dari sang ibu.


John memang tak suka jika media ikut andil dalam pesta yang seharusnya dilakukan secara tertutup itu. Mengingat karir JiEun bisa hancur seketika. Dan tentunya, dia tidak ingin Hyuji mendengar berita tersebut dan menorehkan luka baru dihati Hyuji.


"Kau tidak masalah kan sayang?" Tanya ibu John dengan senyuman lembut pada JiEun. Tak peduli dengan perkataan John.


"Tidak ibu, saya sudah mengantongi izin dari manager dan juga agency!"


John meletakkan sendok perlahan diatas meja, mengusap sisa makanan dibibirnya, menyudahi jamuan makan malam, kemudian menatap nyalang pada sosok JiEun yang terlihat juga memiliki sebuah rencana. Semuanya terjadi diluar ekspektasi John.


"Jadi kau sudah mendapat izin dari agencymu Noona?"


"Tentu saja!"


John kembali diam untuk beberapa saat, menata senyuman yang terlihat lebih mengerikan dari sebelumnya. Mengambil resiko untuk semakin dibenci Hyuji, John membuka suara. "Ayo kita lakukan! Kita buat pesta mewah untuk acara pertunangan itu! Agar seluruh penjuru negeri ini tau tentang kita, tentang hubungan keluarga kita!"


Suara yang tegas namun mengandung banyak makna kepedihan didalamnya. Tatapannya lurus, John tau dia tak bisa berbuat apapun saat ini selain membuat keputusan untuk semakin dibenci oleh sekitar, orang tuanya sendiri, atau bahkan wanita yang sangat ia cintai. Song Hyuji.[]


-


Panjang kan?


Iya, ini part terpanjang yang pernah Vi's buat. Terlanjur terbawa konflik! 😣


Tinggalkan Like dan juga komentarnya jika berkenan.


Terima kasih.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.