Another Winter

Another Winter
another Winter 12



Berlari cukup jauh, Hyuji merasa lelah, memutuskan untuk menghentikan langkah dibawah sebuah pohon Ginkgo yang sudah mulai menumbuhkan daun. Sapuan udara yang masih terasa dingin menyapa setiap inci wajahnya yang memerah karena tangis. Hyuji tergugu, bahkan terisak.


Meremat pakaian yang ia kenakan tepat didada, merasakan betapa sakit hatinya saat ini.


Tiba-tiba saja seseorang memeluk dirinya dari arah belakang dengan nafas tak kalah terengah.


"Jangan pergi dariku Hyu! Aku mohon jangan tinggalkan aku!"


Hyuji masih menangis dengan suara sedih yang tak bisa ia sembunyikan. John membalikkan tubuh Hyuji untuk ia peluk. Mengecup keningnya berkali-kali, penuh kasih sayang dan Cinta dari dalam lubuk hati.


"Aku memang tidak pantas bersanding dengan pria sepertimu John! Kembalilah pada ibumu! "


Tidak! John tidak ingin lagi mendengar Hyuji memintanya untuk meninggalkan dia.


"Tidak! Aku tidak akan melakukannya! Aku akan tetap bersamamu, bagaimanapun keadaannya! "


Tangisan Hyuji semakin menjadi, diraihnya pinggang John untuk ia peluk seerat mungkin. Menangis tergugu dalam dekapan dada bidang John.


"Aku harus bagaimana John?! Katakan padaku! "


"Tidak! Aku mencintaimu yang seperti ini Hyu! Jangan pernah berubah menjadi siapapun! "


"Ibumu, ibumu---"


"Sssst... Cukup!" ucap John sambil mengusap surai Hyuji.


"Aku rindu keluargaku John, aku juga rindu pada Reyna! "


"Hyu, aku mohon... " suara John mulai parau, tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang ia pendam beberapa hari ini saat Hyuji menjauhinya.


"Andai saja Reyna tidak pergi karena keegoisanku, dia pasti masih disini untuk menenangkan aku! Rey... " panggilnya untuk reyna dengan suara yang tersengal.


"Ssss... "


John menjauhkan tubuh Hyuji dan menangkup kedua pipi istrinya tersebut dengan tatapan sendu. Kemudian menautkan bibirnya pada Hyuji yang masih terisak, memberikan Luma**n lembut. Tak peduli jika sekitar melihat tak suka. John hanya ingin meluapkan rasa Cinta tulusnya untuk Hyuji. Gadis yang mampu membuatnya tegar dan kuat hanya dengan sebuah kesederhanaan dan kehangatan sebuah keluarga yang sesungguhnya. Jemari pada telapak besar itu menyusup ke tengkuk leher Hyuji saat merasakan gadis itu membalas ciuman yang ia berikan.


***


John menyodorkan sebuah cup minuman dingin kesukaan Hyuji. Americano. Pandangan Hyuji berpendar bebas pada bentangan luas sungai terbesar di Seoul itu. Mata dan hidungnya masih memerah. Bahkan wajah Hyuji terlihat sedikit bulat karena sembab.


"Kau ingin makan sesuatu?! "


"Aku memang bodoh! "


John mengerut kening, tak tau maksud ucapan Hyuji.


"Harusnya kita makan dulu disana sebelum aku membuat ulah! Haaah... aku memang bodoh..."


"Kau ingin makan disana? Ayo kita kembali! Aku yang akan mentraktirmu! "


"Tidak, ayo pulang saja! "


Senyuman secerah sinar matahari merangkak menghiasi bibir John. "Baiklah! Ayo pulang kerumah kita! "


***


Tepat pukul sepuluh malam, mereka sampai di kediaman mereka di Yangcheon. Hyuji masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti pakaiannya, setelah itu melangkah keluar hendak kedapur karena perutnya yang terasa melilit.


Namun pemandangan punggung lebar John sedang berkutat disana membuat Hyuji nyaris menyulam senyum. Tergambar jelas bagaimana pria yang lebih muda darinya itu mencium dengan lembut dan penuh perasaan tadi. Hyuji meraih bibirnya untuk ia usap. Diikuti gelengan samar saat dia sadar jika sudah melakukan hal diluar akal sehat,dan jelas sangat...memalukan jika John tiba-tiba berbalik dan melihat apa yang sedang ia lakukan.


"Menyingkirlah, biar aku yang membuat ramennya! " ucap Hyuji sambil berusaha menggeser tempat John.


"Tidak perlu! Duduklah disana, ramennya hampir matang! "


Hyuji menurut saja, dia duduk bertumpu dagu di meja makan. Memperhatikan John yang saat ini sibuk mencicipi rasa ramen buatannya sendiri.


"Pas! "


Hyuji tersenyum mendengar John yang bermonolog, dia sangat mengagumkan. Sesaat kemudian, dia melihat John mengangkat panci panas itu kearahnya. Hyuji menarik sebuah kayu tatakan untuk menopang panci panas yang sedang dibawa John.


"Selamat makan.... " ucap John penuh antusias sambil mengaduk ramen dengan sumpit dan mengambil secapit besar untuk ia bawa pada mangkuknya.


Sungguh pemandangan yang menyenangkan saat melihat John makan dengan lahap seperti saat ini. Dan sepertinya itulah alasan yang membuat Hyuji betah berlama-lama dimeja makan.


"Ayo cepat makan sebelum mienya lembek Hyu! " titah John dengan kedua manik rusa yang bulat menggemaskan saat meniup ramen.


"Eung... "


Hyuji meraih sumpitnya, mengambil sedikit demi sedikit ramen dari panci yang sama dan ramen buatan John memang bisa diandalkan. Sangat enak.


"Makan yang banyak! Agar kau cepat gemuk! Aku tidak suka melihatmu kurus begitu! "


Hyuji mengerucutkan bibir kesal.


"Bercanda! Cepat makan yang banyak! "


Setelah mencuci piring dan membersihkan rumah bersama, kini tubuh lelah mereka sudah terbaring nyaman diatas tempat tidur berukuran sedang yang selama ini menjadi pelabuhan akhir mereka saat melepas penat.


John tiba-tiba saja memiringkan tubuh dan memainkan surai Hyuji sambil sesekali mengusap pipi chubby istrinya itu.


"Maafkan mamaku sudah menyakitimu... "


Tentu saja, inilah John yang ia kenal selama ini. Dia akan selalu mewakili ibunya untuk meminta maaf meskipun hubungan John dengan ibunya tidak baik.


"Lupakan saja John! Aku yang salah, aku sudah menyakiti perasaan ibumu karena meninggalkan meja makan dengan sikap kurang terpuji! "


John menggeleng, dia malah menatap langit-langit kamar sekarang.


"Aku masih ingat saat mama adalah wanita yang hangat dan penyayang dulu! "


Hyuji tercekat, dia baru mendengarnya.


"Entah sejak kapan dan karena apa dia menjadi orang yang otoriter dan juga egois! Dan aku menyesal karena baru sadar mama berubah saat aku masih belum mengerti apapun tentang kehidupan! "


Seolah menyelam jauh kedasar perasaan John, Hyuji juga baru menyadari jika John memendam perasaan yang terlihat menyakitkan.


"Jangan pergi dariku Hyu! Aku mohon! " ucapnya dengan suara parau dan tatapan kosong masih pada langit-langit kamar. "Hanya dirimu yang menjadi tempat terakhirku kembali saat ini!"


Hyuji bergerak mendekat, menyandarkan kepalanya pada dada berbalut kaos tanpa lengan milik John. Pria tersebut nampak terkejut saat Hyuji melingkarkan lengannya.


"Aku tidak akan pergi jika bukan kau yang memintanya sendiri padaku John!"


John kembali membawa dirinya menghadap Hyuji, membalas pelukan hangat untuk Hyuji.


"Jangan pernah berfikir aku akan melepasmu Song Hyuji-ah... " jawabnya dengan suara dibuat-buat. "Tidak akan semudah yang kau pikirkan! Paham! "[]


Jangan lupa tinggalkan Like dan komentar yang membangun sebagai apresiasi terhadap karya Vi's. Vote juga jika berkenan. Terima kasih.


Salam Hati Warna Ungu,


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


Vizca.