
Agaknya, bumi terasa berputar lebih cepat. Menurut Hyuji. Bagaimana tidak, seperti baru merasa beberapa hari yang lalu Hyuji mendapat pesan dari John agar hadir di sidang mereka sekitar dua minggu yang lalu. Tapi, kini, kedua tumpun tubuhnya itu sudah berdiri ditempat dimana dia akan menerima putusan tentang status baru yang akan ia sandang. Menjadi orang tua tunggal untuk anak yang masih ada dalam kandungannya saat ini.
Suasana kantor persidangan ternyata lebih riuh dari perkiraan Hyuji, dia melihat beberapa orang sedang duduk menunggu di lobby, dengan kepentingan mereka masing-masing, atau mungkin ada yang sama seperti dirinya?.
Hyuji meletakkan tas selempang berwarna hitam, bergambar kepala kelinci dibagian depannya itu diatas pangkuan. Ia ingat, tas itu adalah pilihan John saat membelinya dulu, dan menjadi tas paling ia sukai sampai sejauh ini.
Ada sebuah jam besar menempel didinding tepat didepan tempatnya bersimpuh. Pukul delapan pagi, sedangkan sidang masih akan dilakukan pukul sembilan nanti.
Hyuji membuka tas itu, dan mengeluarkan sebungkus roti dan juga sekotak susu. Dia berangkat dengan kereta pertama tadi pagi, jadi dia tidak sempat untuk sarapan dan memutuskan untuk membawa roti dan susu sebagai pengganjal lambung.
"Ibu akan membelikanmu makanan enak setelah semuanya selesai nanti sayang! Bersabarlah! " ucapnya bermonolog pada bayi yang sedang ia kandung.
Akan tetapi, suara bisik-bisik dari kursi yang berada tepat disisi kiri menarik seluruh perhatian Hyuji. Ia menoleh, mendapati John sedang berjalan dengan pakaian formal. Poni belah samping yang membuat wajah paripurnanya semakin Wow, menjadikan dia pusat perhatian dan perbincangan banyak orang. Didampingi seorang pria yang terlihat sedikit berusia yang Hyuji yakini adalah sekretaris pribadi John; mengingat John sekarang adalah orang penting, seperti yang sering dilihatnya di drama.
John berhenti tepat dihadapan Hyuji, membungkukkan sedikit badan, kemudian memeluk Hyuji sekilas, membuat Hyuji mendadak menahan nafas. Kedua manik yang semula biasa saja kini membola sempurna.
"Kau sendirian Hyu?!"
Hyuji mengangguk kaku tanpa memutus kontak mata dengan pria yang seharusnya tidak ia rindukan itu. Seandainya saja Hyuji bisa memilih, dia lebih baik menjauh atau menolak pelukan itu jika tadi John meminta persetujuan terlebih dahulu.
Penghirupnya mulai merasakan aroma khas seorang John Wilson, segar dan maskulin dalam waktu bersamaan. Membuat kepala Hyuji terasa sedikit berat. Bukan dalam konteks berat yang sesungguhnya, namun ia takut tidak akan pernah mampu melupakan pria itu dari dalam kepalanya.
John duduk disamping kiri hyuji.
"Kak Jin?"
"Dia di daegu! Dia bukan pengangguran John, dan aku tidak ingin merepotkan dia! Dia sudah berkeluarga! Anak dan istrinya juga perlu makan!"
John mengangguk paham, menyembulkan bibir bawah sedikit tebalnya ke arah depan.
"Kau sudah makan?"
"S-sudah!"
"Kok ragu begitu? Katakan saja sudah makan atau belum?"
"Sudah! Stop! Jangan bertanya padaku lagi!"
Sang sekretaris menatap heran pada atasannya itu, mengapa John hanya diam tak melakukan apapun. Padahal, jika di kantor, dia akan menatap tajam jika ada orang yang mengatur dirinya seperti itu.
"Imutnya... " puji John sambil tersenyum manis dihadapan wajah Hyuji. Membuat pak Lee tersentak, juga tersipu. Dia juga menahan senyum yang hendak muncul dari bibirnya mati-matian didalam kerongkongan saat melihat sang boss memuji seorang wanita. Selama mengabdi pada perusahaan, Pak Lee tidak pernah melihat John melakukan itu. Jadi terasa aneh dan canggung untuk pria seusia pak Lee.
Hyuji melirik tajam pada sudut mata.
"Kau bukan sedang memuji gadis labil—" protesnya, "Jadi jangan harap aku akan tersipu dan memberikan ciuman untukmu!"
—
Perih menyergah seluruh bagian diri, mungkin itulah yang sedang dirasakan Song Hyuji. Sebab, dulu, dia dan John berdiri didepan seseorang yang membuat janji suci mengikat mereka. Namun sekarang, dirinya harus sekali lagi berhadapan dengan seseorang, untuk memutus janji suci yang terjadi dua tahun yang lalu itu.
Selembar surat resmi berstempel berada ditelapak tangan, Hyuji menatapnya lekat-lekat dengan pupil sedikit bergetar. Ada sedikit rasa sesal terpercik didalam hati, tentang dia yang begitu saja melepaskan John.
Namun seperti merutuki diri, penyesalan semakin menjalar kala dia kini berada didalam mobil mewah yang akan membawanya ke suatu tempat.
Tidak ada percakapan apapun antara dia dan John. Pria itu sibuk dengan tablet yang sedang ia pegang, sesekali mengerutkan dahi, memasang wajah kesal, dan kemudian kembali tenang. Hyuji kembali menatap keluar kaca mobil.
"Eummm... " jawab Hyuji singkat, tak ingin menambahkan kalimat apapun setelahnya.
"Kau masih pusing? Perlu aku antar ke rumah sakit?"
"Tidak! Aku hanya perlu istirahat, setelah itu aku akan kembali ke Yangcheon!"
"Aku antar nanti!"
Hyuji tau ini semua tidak benar. Disaat semua sudah diputuskan oleh ketukan Palu, John masih saja memberikan harapan yang bisa membuat Hyuji menginginkan pria itu lebih.
Sialan memang.
—
Ruangannya seluas lapangan sepak bola, jika saja Hyuji mau, dia ingin berlari mengelilingi apartemen John yang mewah itu. Ruangannya bersih dan harum, nuansa rumah itu hanya abu-abu dan putih sebagai kombinasi.
"Uwaaah... rumah di Yangcheon tidak ada apa-apanya dibanding tempat ini!" gerutu Hyuji sambil menilik setiap sudut ruangan tengah apartemen tersebut.
Tidak ada suara riuh, tenang. Bahkan Hyuji bertanya-tanya, "Apakah tempat ini juga kedap suara? Mengapa tidak terdengar apapun?"
Dulu sekali, saat John masih muda dan baru memulai karir. Dia memutuskan untuk hidup terpisah dari kedua orang tuanya, suka ketenangan karena ia rasa akan membuat dirinya nyaman tanpa gangguan siapapun.
Hyuji kembali menapaki ruangan lain dan terlihat satu ruangan yang menarik perhatiannya, dapur yang sempurna. Hyuji tersenyum, membayangkan jika dia bisa memasak dengan leluasa didapur luas itu.
Hingga suara bel mengejutkannya.
"Aduh... Mengagetkan saja! Kenapa dia kembali lagi? Apa ada yang tertinggal?"
Hyuji mempercepat langkahnya. Satu kebiasaan yang sering Hyuji lupakan, membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu pada layar intercom.
Meraih kenop pintu segera, seraya melayangkan sebuah pertanyaan pada sosok yang menekan bel pintu rumah. "Ada apa kembali lagi? Ada yang terting—" semua kalimat Hyuji berhenti disana. Maniknya membola saat tau bukan John yang berdiri didepan pintu.
Seorang wanita. Menatap sama terkejutnya dengan Hyuji.
"Kau— mengapa ada disini?"[]
•
•
Hayo...
Siapa kira-kira?
Terima kasih sudah membaca. Tinggalkan apresiasinya jika berkenan.😃
Salam Hati Warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.