
Setelah kembali dari busan beberapa hari yang lalu, Hyuji sudah memutuskan untuk segera menempati rumah itu. Disamping biaya sewa yang murah, lokasi yang cukup strategis, dan pemilik yang baik, Hyuji juga berencana menata masa depan diri dan anaknya kelak.
Agaknya, satu ucapan lain dari pemilik rumah itu yang masih terngiang di pendengaran Hyuji.
Jika kau bersedia, bantu bibi berjualan dikedai. Kau tidak perlu memikirkan biaya sewa dan makan, bibi juga akan mengupahimu sebagai pegawai kedai! Anggap saja kau membantu bibi merawat tempat itu.
Hyuji sudah mengemas barang-barangnya kemarin malam, sore ini kedua kakak laki-lakinya akan mengantar Hyuji bertolak ke busan. Dan pagi ini, dihari yang sama, Hyuji berencana untuk berkunjung kesebuah tempat dikaki bukit.
Seikat bunga digenggaman, mengenakan dress hitam selutut, dan disambut oleh sapuan udara yang cukup dingin, Hyuji melangkah masuk melewati pagar tinggi sedikit berkarat. Langitnya agak mendung dan pepohonan menjulang tinggi mengelilingi. Langkah Hyuji terhenti pada sebuah pusara yang sudah rata dengan tanah dan ditumbuhi rumput yang terawat dengan baik.
Hyuji membawa dirinya untuk duduk bersimpuh diatas rerumputan hijau, meletakkan buket bunga yang ia bawa tepat disamping nisan, kemudian mengusap bagian ujung teratas nisan dengan lembut.
"Maaf aku baru datang Rey... " sapanya dengan suara lirih terlampau parau. Kedua maniknya mulai memburam saat mendapati tulisan hangul* pada nisan yang tertancap diatas tanah pemakaman tersebut. Jang ReyNa.
Airmata yang selama ini ia bekukan dibalik manik Indah dan hati yang selalu ia coba untuk tetap tegar, mencair seketika saat mengingat semua kenangan suka dan duka saat hidup bersama gadis yang kini telah terbaring tenang itu.
"Kau bahkan tidak pernah muncul dalam mimpiku? Apa kau begitu membenciku Rey?"
Hyuji tergugu dalam tunduk.
"Aku akan mempunyai seorang bayi!" tuturnya sambil mencoba menyematkan senyuman diantara isak. "Tapi John pergi dariku!" lanjutnya sendu.
Dan kini, suara tangis Hyuji pecah bersamaan suara gemerisik angin yang datang dari dedaunan dan ranting yang saling bergesekan. Tubuhnya luruh diatas tanah pemakaman tempat peristirahatan terakhir Reyna. "Dia meninggalkan aku dan bayinya untuk orang lain Rey... "
Hyuji harap, setelah bercerita pada Reyna yang bahkan tak mungkin mendengarnya, dia bisa kembali tenang. "Aku masih mencintainya! Katakan kepadaku, aku harus bagaimana? Aku kecewa tapi aku masih sangat mencintainya! Tolong aku Rey... "
-
Langit tidak begitu memperlihatkan senja yang biasanya akan tampak luar biasa. Hanya beberapa kepulan awan gelap yang siap mengguyur bumi korea. Suji dan Ryujin berada dibangku depan. Mereka sudah setengah jalan menuju tempat yang diinginkan Hyuji. Kabin mobil terasa lebih dingin saat tidak ada konversasi apapun dari ketiga penghuninya kecuali suara musik yang di atur dengan volume rendah dari mesin pemutar lagu pada dashboard mobil. Hingga suara alto tiba-tiba terdengar.
"Kenapa Hyu?" tanya SuJi—kakak kedua Hyuji. Memperhatikan pantulan wajah murung sang adik dari kaca spion tengah mobil.
"Tidak ada apa-apa kak!"
SuJi memang tidak begitu dekat dengan Hyuji, tapi tetap saja, jika melihat adik perempuannya murung seperti itu, ada rasa khawatir yang mengganggu.
"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu!"
Hyuji menggeliat mencari posisi yang lebih nyaman, kemudian mengangguk menyanggupi ucapan sang kakak.
"Jika kau tidak betah disana, hubungi saja kakak, nanti akan aku jemput!"
Sekali lagi Hyuji mengangguk, moodnya sedang tidak baik. Setelah kembali dari makam Reyna, Hyuji menerima pesan dari John yang menanyakan kabar padanya.
"Tidak biasanya kau sebaik ini Su?"
SuJi melirik tajam pada sang kakak pertama, Ryujin.
"Bagaimanapun, aku ini seorang kakak! Mana ada seorang kakak membiarkan adiknya—"
"Kau bahkan tidak pernah membelikan Hyuji celana dalam! " Sahut Ryujin cepat, membuat kedua manik Hyuji membola seketika, kemudian melayangkan pukulan pada lengan sang kakak.
"Kak Ryu bicara apa sih?"
"Itu kenyataan Hyu, aku saja pernah membelikanmu benda keramat itu dengan gaji pertama yang aku terima!"
Hyuji mendesis kesal. "Tapi kakak membeli ukuran yang salah! Benda itu sama sekali tidak pas untukku!" kesal Hyuji ngotot, mengenang akan hadiah pemberian ryujin yang tidak berguna. "Pasti saat itu kakak terbayang ukuran milik kak GiNa kan?!"
RyuJin dan SuJi saling tatap tanpa ekspresi. Tentu saja SuJi yang lebih terkejut, dia bahkan ternganga.
"Benarkah? Waaah... aku tidak menyangka kak Ryu melakukan hal keji itu pada adiknya sendiri! Ckckck!" tutur SuJi mematik suasana.
Benar kata ibu mereka, jika mereka sudah berkumpul bersama, pasti si Ryu yang akan menjadi korban persekongkolan antara Hyuji dan SuJi. Hingga terdengar kekehan Hyuji yang kembali membuat suasana kabin menghangat.
Dan ternyata, itu hanya akal-akalan Ryujin untuk mengalihkan beban fikiran Hyuji yang terlihat menekan batin sang adik. Ryujin tau betul seperti apa seorang Song Hyuji.
***
New York,
Waktu yang sangat bertolak belakang dengan negara kelahirannya. Pagi ini, John berharap menerima balasan dari pesan yang ia kirim pada Hyuji beberapa jam yang lalu. Manik sembabnya mengerjap kala ponsel diatas nakas kamar berputar dengan getar yang cukup kuat.
Nama JiEun terpampang pada display layar. Membiarkannya beberapa detik, kemudian berdecak terang-terangan saat John menggeser tombol hijau yang melompat-lompat untuk menjawab panggilan tersebut.
"Eung... "Ucap John dengan suara parau.
Apa? Mengapa JiEun datang tanpa memberitaunya terlebih dahulu?
"Kenapa tidak memberitau? Aku bisa menjemputmu!"
"Tidak! Aku ingin memberi kejutan untukmu!"
Kejutan? Bahkan John seperti tak menginginkan hal itu. John menggaruk dan mengacak kasar surainya. Kesal sekali, karena hari ini dia berencana menghabiskan waktu dengan beristirahat.
"Baiklah, aku harus bangun dan mandi terlebih dahulu!"
Bisa dikatakan, John juga tipikal pria yang tidak suka berbasa basi. Dia akan berkata dan berekspresi apa adanya. Jika tidak suka, dia tidak akan pura-pura memasang wajah manis dan tersenyum. Tapi dia akan memandang dengan tatapan mengintimidasi luar biasa.
Dan hal itu ia lakukan pada JiEun saat gadis itu sudah berada didalam apartemen pribadinya. John menatap tak suka dengan wajah ditekuk kesal.
"Kau sepertinya tidak suka aku datang kesini John?"
"Jika sudah tau kenapa bertanya?!"
Sontak raut JiEun berubah masam. Bagaimana tidak, dia rela menempuh perjalanan lebih dari dua belas jam untuk menemui pria yang akan menjadi pendamping hidupnya itu.
"John, tidak bisakah kau menutupi sedikit saja rasa tak sukamu terhadap diriku?"
John menatap nyalang, dahinya berkerut, bahkan alisnya terlihat hampir menyatu.
"Untuk apa?" sarkasnya tanpa berpikir dua kali.
JiEun berdiri kasar, bibir mungil bergincu merah itu tak lagi memperlihatkan senyum ber-ramah tamah sedikitpun.
"John—"
"Noona, aku tidak suka kau datang kesini!"
"Kenapa? Beri aku alasan!"
Tak menjawab, John hanya mengalihkan pandangan dan berjalan melebarkan jarak dengan sosok JiEun.
"Cihhh... Apa jangan-jangan kau pergi dari korea untuk menghindari pernikahan kita?"
John menjentikkan jari, tersenyum diujung bibir sebagai tanda setuju. "Aku sudah pernah mengatakan padamu jika aku tidak ada perasaan apapun kan? Jadi untuk apa aku memaksa diri menikah dengan orang yang tidak aku cintai?!"
"John kau keterlaluan?!"
John tersenyum mencibik, seolah menertawakan apa yang baru saja diucapkan JiEun.
"Kau menyesal dan kecewa dengan aku yang sekarang Noona?"
"Sangat!!" jawab JiEun tegas sembari mengeratkan rahang. "Kau sangat mengecewakan John!"
John kembali tertawa kaku. "Mengecewakan ya? Kalau begitu tanyakan kembali pada dirimu, mengapa aku bisa menjadi se-mengecewakan ini?"
JiEun hanya mampu meremat kedua sisi telapak tangannya kesal.
"Atau, kau bisa memilih opsi kedua yang pernah aku tawarkan!" John menjeda sejenak, melempar tatapan tajam dengan kedua manik rusanya. Kemudian melanjutkan. "Tinggalkan aku, bersama rasa muak dan benci! Aku akan menerimanya dengan senang hati!"[]
•
•
*Hangul*) \= Alfabet/abjad yang digunakan untuk kegiatan tulis menulis di negara korea*.
Kira-kira apa yang akan terjadi antara John dan JiEun?
Bisa disimak di bab selanjutnya...
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa untuk selalu mengapresiasi another Winter.
Sekali lagi terimakasih Vi's ucapkan.
Salam Hati Warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.