Another Winter

Another Winter
another Winter 48



Happy Reading...


-


Guguran kelopak bunga sakura seolah menjadi lambang bagaimana suasana hati John saat ini. Bagaimana tidak, netra rusa itu kini menyaksikan dua presensi yang sangat ia harapkan, berada tepat dihadapannya.


Jantungnya juga berdebar, bagaikan berjumpa dengan pujaan hati untuk yang pertama kali. Hingga bibir tipisnya bergumam pelan.


"Hyu... "


Tak ada jawaban, wanita itu masih sibuk mengecup dan mengusap wajah menggemaskan putri cantik yang ada dalam gendongannya. John menyaksikan pemandangan yang membuat pupil bulatnya bergetar, meneteskan beberapa liquid bening dari kelopak mata beberapa kali dalam tunduk.


"Kenapa kau keluar tanpa izin ibu sayang?"


"YeNa mengeja buyung! Buyungnya sakit ibu, dia ha-us ditolong!"


Hyuji kembali mencium pipi bulat yang memerah milik YeNa.


"Tapi buyungnya tebang!"


"Ibu khawatir padamu sayang! Lain kali jangan pergi sendiri lagi, janji?!"


YeNa mengangguk dengan poni dan pipi yang memantul bersemangat. "Ye janji!" sahutnya kemudian. Dan kembali melanjutkan, "Ibu! Ye betemu oang mi-ip ayah!"


"Dimana?"


YeNa menoleh dan menunjuk dimana John sedang berdiri.


Seketika tubuh Hyuji membeku, bibir ranum tanpa polesan itu terkatup rapat, rahang Hyuji seolah turut mengeras, manik Indah yang ia miliki mengerjap lambat, memburam diselimuti nebula yang cukup tebal.


Hyuji semakin mempererat gendongan untuk YeNa, takut tiba-tiba pria itu mendekat dan merebut YeNa darinya.


"Hyu—"


"Jangan mendekat John! Atau aku akan berteriak!" tutur Hyuji ketakutan, tubuhnya bergetar hebat. "Jangan ambil YeNa dariku!"


"Aku tidak akan merebutnya darimu!" sahut John cepat.


Sedangkan gadis kecil itu menatap bingung pada dua orang yang menurut pandangannya sedang berseteru itu.


Manik mereka bersirobok, dengan pupil bergetar dan berair, menangis—keduanya.


Tak sanggup bertahan lebih lama, Hyuji segera melangkah cepat dan menghindari John yang sedang menatap sendu padanya. Akan tetapi, dengan cepat telapak besar dan kekarnya itu menghentikan langkah Hyuji.


Tubuh ringkih Hyuji meronta, mencoba melepas lengannya dari cengkeraman kuat John.


"Hyu, dengarkan aku—"


"Lepaskan John! Kau menyakitiku!" pinta Hyuji sambil meronta.


Melihat dan mendengar sang ibu menangis, YeNa ketakutan. Benaknya sudah beranggapan jika pria yang ada dihadapannya dan juga sang ibu adalah pria jahat yang mencoba menyakiti mereka. YeNa menangis kuat—keras sekali.


"Lepaskan ibu... " ucap YeNa diantara tangis kerasnya. "Jangan sakiti ibu YeNa!"


John tercekat mendengar tangisan YeNa, John pun merenggangkan cengkeraman dan perlahan melepas. Telapak John terulur demi mengusap Putri kecilnya yang masih dalam gendongan sang ibu, namun gadis kecil itu menampik cukup keras.


"Ini ayah sayang..." ucap John pilu dengan suara parau.


YeNa menghentikan tangisnya sejenak, menatap sang ibu yang masih tergugu. Kemudian mengalungkan kedua lengan—merangkul dan bersandar pada bahu Hyuji sambil bertanya dengan suara lirih yang sedikit tercekat. "Ibu, apa paman ini ayah YeNa?"


Hyuji masih tidak sanggup mengeluarkan suara dari kerongkongan, hatinya masih terkejut dan tak menyangka jika John akan datang, menemukan dirinya, dan juga menepati janji yang ia ucapkan empat tahun silam.


Hyuji mengusap tengkuk leher pualam putrinya yang sedikit terlihat dibalik syal merah jambu yang tersibak.


Sekilas tatapan John dan Hyuji kembali bertemu, namun dengan segera Hyuji mengalihkan pandangan. Tak sanggup menatap manik rusa John yang sayu. Akan tetapi, tak lama kemudian YeNa menjauhkan diri dan memandangi fitur wajah sang ibu dengan hidung dan manik bulat serupa milik John yang memerah.


"Paman itu... ayah?"


Hyuji mengusap wajah putrinya lembut, kemudian mengangguk pelan. Membuat hati John menghangat seketika, bibir tipis itu kembali bergetar dalam tangis dan tawa bersamaan, tidak menyangka jika Hyuji akan berkata 'ya' untuk pertanyaan putrinya. Dengan raut yang terlihat bahagia, John mengulurkan kedua lengan untuk YeNa.


John mengangkat tubuh kecil itu kedalam dekapan penuh kasih sayang darinya. Mencium dan menghirup aroma strawberry yang menyeruak dari tubuh mungil dalam dekap yang ia berikan.


"Maafkan ayah baru datang sayang! Ayah akan membuatmu dan juga ibumu bahagia setelah ini... " ucap John sambil menciumi kembali Wangi strawberry putrinya.


Beberapa saat setelah itu, John menautkan pandangan pada sang wanita yang melahirkan dan membesarkan putrinya dengan baik itu. Satu lengan terulur dan terbuka untuk meminta wanitanya itu mendekat dan berada dalam dekapan yang sama dengan gadis kecil mereka.


Hyuji terdiam dengan pendar sayu ditempatnya berdiri, akan tetapi John memberikan sebuah anggukan. Hyuji mendekat ragu, kemudian bersandar pada dada bidang pria John itu, tepat disamping YeNa, putri mereka.


Kini keduanya berada pada dekapan hangat John.


"Terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan Putri secantik YeNa dengan baik! Dan juga, maaf baru datang sekarang! Terima kasih sayang..." tuturnya dengan beberapa kecupan yang ia daratkan pada pucuk kepala Hyuji, wanita yang selama ini selalu membayangi benak dan tak pernah bisa ia lupakan.


-


Rintik salju kembali turun dari langit mengiringi enam pasang sepatu boots yang menggesa jalanan hendak kembali ke tempat paraduan. John mengantar kedua belahan jiwanya menuju rumah yang ditempati Hyuji dan Putri kecilnya itu selama ini.


YeNa berada diantara dua orang yang mengasihinya.


"Siapa nama panjangnya Hyu?"


"Tanya saja sendiri! Dia itu seperti lonceng!" jawab Hyuji ketus membuat John tersenyum. Ah, Hyuji rindu sekali senyuman itu.


Kini, John menghentikan langkah dan berlutut disisi putri cantiknya dengan senyuman yang dulu selalu diberikan pada Hyuji.


"Siapa nama panjangmu sayang?" tanya John sambil mengusap pipi chubby YeNa.


"John YeNa!"


John tertawa puas karena Hyuji menyematkan namanya pada sang Putri. "Waaah.. nama yang cantik! Sama seperti orangnya!" puji John pada anak gadisnya yang kini tertawa dengan bentuk senyuman yang sama dengan miliknya.


John kembali berdiri, dan mereka bertiga kembali berjalan. "Terima kasih!" bisik John pada Hyuji sambil mengerling salah satu manik bulatnya.


Tanpa terasa, mereka sudah tidak jauh lagi dari rumah. Terlihat bibi dan paman Hong sedang menunggu cemas diluar, akan tetapi mereka segera berlari memeluk YeNa saat melihat gadis kecil yang sudah mereka anggap seperti cucu itu kembali.


"Aigoo YeNa, dari mana saja kamu sayang..!" bibi Hong memeluk dan mencium YeNa, kemudian mengalihkan pandangan pada pria tampan yang berdiri tak jauh dari Hyuji.


"Apa dia yang menemukan YeNa Hyu?"


"Iya... " jawab YeNa canggung.


"Terima kasih sudah menjaga YeNa anak muda... "


John hanya tersenyum sambil membungkuk hormat.


"Ayah, ayo pulang kerumah YeNa..." seru YeNa tiba-tiba, membuat suasana menjadi hening seketika. Bahkan bibi Hong menatap tidak mengerti pada Hyuji.


Hyuji tertawa canggung, karena sudah terlanjur YeNa menyebutkan hal yang seharusnya menjadi rahasia sementara. Hyuji terpaksa memperkenalkan John pada bibi Hong.


"I-ini John bi!" ucap Hyuji kaku. "Ayah YeNa!" lanjutnya tanpa berani menautkan maniknya pada si bibi.


"Ahahah, YeNa! Ayo kita masuk dulu! Nenek buatkan minuman hangat untukmu!"


Bibi Hong meraih lengan paman Hong juga untuk turut ia tarik masuk kedalam rumah. Meninggalkan dua presensi yang sepertinya membutuhkan waktu untuk berbicara berdua. Dan ketika bibi dan paman Hong menghilang dibalik pintu rumah, John tersenyum lembut pada sosok wanita yang sangat dirindukannya. Mengulurkan lengan menyibak surai Hyuji yang jatuh didepan mata.


"Kau semakin cantik saja Hyu!"


"Cih, omong kosong! JiEun akan murka saat tau kau menemuiku!"


John menggeleng samar. "Aku sudah membatalkan pertunanganku dengan dia!"


Kedua manik Hyuji membola sempurna. Namun hal yang dilakukan John lebih mengejutkan jantung Hyuji yang sudah seperti ingin melompat dari tempatnya. John meraih pinggang kecil dan mengecup kening Hyuji lembut.


"Ayo kita hidup bersama seperti dulu lagi!"


Hyuji membolakan kedua manik diantara rengkuhan hangat yang masih melingkari tubuh. Hendak menjauh, namun John berhasil menahan tubuh Hyuji untuk tetap berada pada posisinya.


"Mama menunggu kalian berdua!"[]