Another Winter

Another Winter
another Winter 27



Playlist Song: Serenade to Spring by Secret Garden.


Happy Reading...


Jika saja diberikan kesempatan, John ingin sekali bertemu dan melepas kerinduan yang membelenggu dirinya terhadap Hyuji. Selama hidupnya, dia belum pernah merasakan sesakit ini saat merindukan seseorang. Ditambah lagi, mimpi yang akhir-akhir ini selalu mengusik tidurnya.


John menyandarkan kepala pada sandaran sofa yang menghadap pada bentangan sungai Han yang dihiasi gemerlap lampu jalan yang Indah saat malam hari. Mengedarkan pandangan pada gelap yang masih merengkuh bumi korea.


Meraih minuman berkarbonasi yang ia bawa untuk menemani kesendirian, menyesapnya perlahan dan merasai rasa sedikit asam yang timbul. John mengerut dahi.


"Hujan mulai sering datang! Bagaimana Hyuji pulang dari kedai?" gumamnya pada diri sendiri. Pikirannya selalu dipenuhi oleh Hyuji. "Dia pasti kesulitan!"


John melirik sekilas penunjuk waktu diatas nakas disamping ranjang tidur. Pukul dua belas malam, dan rasa kantuk sama sekali belum mau menghampiri dirinya.


Masa lalunya kembali menguar bersama helaan nafas dan sapuan dingin dari Air Conditioner yang mengenai tepat pada fitur wajahnya. Bagaimana dirinya dan Hyuji dulu bertemu, kemudian saat-saat bahagia, atau pertengkaran kecil yang sering terjadi hanya kerena masalah sepele dan sifat keras kepala mereka berdua, dan berakhir dengan kembali berbaikan. John mengulum senyuman diwajah tampannya. Betapa hal itu sangat menyenangkan, namun kini tak lagi ia rasakan.


"Aku rindu suara saat kau memarahiku Hyu! " sambungnya bermonolog saat bayangan Hyuji kembali mencuat dari dasar memori.


Namun, bayangan sang ibu turut hadir. Dimana wanita yang mengandungnya itu datang ke kantor, tadi pagi, dan mengatakan sesuatu yang membuatnya tergelak dalam tawa emosi yang tak bisa digambarkan.


"Menikah secepatnya? Sebenarnya apa yang sedang disembunyikan mama dariku?"


Tentu saja John menyadari akan hal itu, dia mengenal sosok sang ibu dengan baik. Bagaimana sifat dan peringai yang selalu sama sejak dulu, egois dan arogan.


Tiba-tiba, seringai tajam ia sematkan dibibir tipisnya. Muncul pemikiran tidak masuk akal saat kekalutan semakin merambah dalam benaknya.


Bersenang-senang.


Bukankah itu akan membuatnya lupa sejenak tentang masalahyang ia hadapi hingga waktu itu tiba? Lagi pula, kedua kakinya sudah kepalang basah, mengapa dia tidak menceburkan diri dan berenang sekalian didalam kolam berisi serpihan derita yang diciptakan sang ibu.


Pasti menyenangkan, bersikap seolah menjadi pria baik dan penurut. Mengikuti semua skenario yang sudah ditulis sang ibu untuknya. John bertepuk tangan untuk idenya itu.


"Pasti aku akan mendapat penghargaan sebagai best aktor dalam penghargaan televisi jika berhasil mengikuti skenario itu! Luar biasa... "


Entah, apa yang sedang terbesit didalam fikirannya hingga mengambil jalan pintas demikian. Akan tetapi, satu rencana mulai tersusun dalam sel otaknya.


"Baiklah, lakukan saja! Setelah itu, kita lihat saja bagaimana akhir dari drama ini! " tuturnya sambil membawa diri bangkit dari sofa dan berjalan menuju ranjang tidur. "Mari kita menggila sebentar! Atau bahkan, sampai muak! Hahahah... "


Suara tawa hambar itu mengakhiri malamnya. John membenamkan diri dibalik selimut dan mulai menyelami alam bawah sadar yang terasa jauh lebih menyenangkan dari dunia nyata.


***


Suara tangis gadis kecil memanggil nama ibunya, tidak terdengar jelas siapa nama yang disebutkan gadis kecil tersebut. Usianya sekitar tiga tahun dan juga wajah gadis kecil itu benar-benar tidak bisa ia lihat karena kedua telapaknya menutup sempurna seluruh sisi wajah dengan kulit seputih salju itu.


Tangisannya lirih, dan terdengar sangat pilu. Mengenakan sepatu Boots tinggi berwarna coklat muda dan memakai jaket tebal khas musim dingin berwarna gelap, syal dan topi rajut tebal berwarna merah jambu yang cantik melilit dileher dan menutup surai hitam legamnya yang panjang. Ada sebatang permen sewarna strawberry pada salah satu genggaman jemarinya yang masih sangat kecil dan imut.


Namun samar. Tak terlihat dengan jelas meskipun jarak mereka sangat dekat, mungkin hanya sejengkal telapak tangan.


"Mengapa kamu sendirian disini sayang? Dimana orang tuamu?"


Gadis kecil itu tak menjawab, hanya terus menangis. Dan kini, semakin menyembunyikan wajah yang membuat rasa ingin tau itu semakin mencuat, kedalam ringkukan kaki kecilnya.


Diraihnya punggung sang gadis kecil untuk ia usap lembut, membuat gadis itu menghentikan isak tangis sejenak, kemudian dengan gelagat takut, gadis itu mengintip dari celah lipatan tangannya.


Hazel bulat nan Indah itu berkelip lembut dan berair. Kelopaknya besar dengan lipatan mata yang sempurna.


"Ahjussi* siapa? Apa ahjussi orang jahat yang ingin menculikku?"


Suara cadelnya lembut dan manis, seperti madu.


"Jangan menculikku! Kasihan ibu, dia tidak punya siapapun kecuali aku! "


Sontak John terbangun dari tidurnya yang baru berlalu sekitar satu jam yang lalu. Terduduk kasar sembari masih mengingat kepingan mimpi yang baru diselaminya.


Lagi.


Mimpi itu.


John mengehela nafas dan mengusuk surai kasar. Irama jantungnya tidak beraturan, dan yang lebih membuat John kesal, dia selalu terbangun sebelum menanyakan nama gadis kecil tersebut.


John kembali merebah dengan desah frustasi dari birainya. Membiarkan suara detik jam memenuhi setiap jengkal isi kepala.


John mengangkat telapak tangan mengusap wajah, gelisah. Memijat pelipis yang tentunya terasa semakin berat. Meskipun hanya sebuah mimpi, terasa begitu nyata dan mulai menarik seluruh atensinya. Mendadak muncul berbagai tanya dalam benak yang dirundung gelisah.


"Siapa sebenarnya gadis kecil itu? Dan apa makna dibalik mimpi yang hampir setiap malam hadir dalam tidurku itu? "[]


-


Ahjussi*) : Paman.


Terima kasih Vi's ucapkan kepada siapapun yang sudah mengapresiasi karya ini.


Salam Hati Warna Ungu,


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


Vizca.