Another Winter

Another Winter
another Winter 39



Tanpa dirasa, hari berganti terlalu cepat.


Dulu, jika dia pergi, bekerja jauh atau pulang terlambat, akan ada seseorang yang selalu memasang wajah kesal kemudian marah, atau bahkan tidak segan menuduh dia pergi dengan orang lain. Cemburu.


Akan tetapi, sekarang tidak ada lagi suara yang mungkin hanya menyambut kedatangannya atau mengomel saat dia pulang terlambat.


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam waktu New York, John masih duduk dibalik meja kerjanya. Menatap pendar layar komputer yang masih menyala. Jemarinya masih sibuk diatas papan keyboard demi menyelesaikan pekerjaan yang membuat otak mendidih.


"Haaah... "John menghela nafas panjang, merebahkan punggungnya yang lelah pada sandaran kursi. Memejam sejenak merasakan penat.


Sudah hampir tiga bulan John berada di negara ini. Melakukan ini dan itu, menghadiri rapat disini dan disana, hingga ia merasa seperti sebuah robot yang gila kerja.


Lelah, tapi kerja kerasnya membuahkan hasil yang tidak disangka. Perusahaan itu mulai berkembang, membangun sedikit demi sedikit Citra baik pada investor yang percaya pada perusahaan yang ada dibawah pimpinan John saat ini.


John kembali menegakkan tubuh, merogoh ponsel yang ada didalam saku celana bahan yang membalut paha kekar yang terasa sakit karena seharian berjalan tiada henti ke berbagai tempat meeting yang berbeda. Menghubungi seseorang yang tinggal di negara yang berbeda waktu dengan dirinya.


Hanya dalam hitungan detik, panggilan John sudah terjawab.


"Halo tuan John!"


"Eummm, bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan lahan yang aku minta?"


"Sudah tuan!"


"Dimana lokasinya?"


"Busan!" jawab orang diseberang, yang tak lain adalah orang kepercayaan John di korea.


"Syukurlah kalau begitu! Jadi kapan pembangunan akan dimulai?"


"Segera setelah urusan surat kepemilikan dan pembayaran tanah itu selesai!"


John mengangguk, merasa lega.


"Baiklah jika seperti itu! Lakukan tugasmu dengan baik! Dan ingat, jangan sampai mama tau!"


"Siap tuan!"


John mengakhiri panggilan dan bergerak mematikan layar komputernya. Merapikan beberapa berkas dan memakai jasnya kembali, lalu berjalan keluar untuk kembali ke apartemen untuk menutup hari dengan beristirahat.


***


Hyuji turut membantu ayahnya memetik buah apel dikebun milik sang ayah. Perut yang dulu kecil dan rata, kini sudah terlihat membesar. Enam bulan—usia kehamilannya.


Hyuji menjaga asupan calon bayinya dengan baik, berkat bantuan sang ibu yang tak pernah berhenti memberi dan menyalurkan kasih sayang yang tak pernah berhenti ia curahkan untuk putri dan calon cucu didalam rahim Hyuji.


"Cukup untuk hari ini Hyu, ayo kita pulang!"


Hyuji tersenyum dengan sebuah anggukan, lalu mendongak untuk memeta awan kelabu yang tercetak tebal dilangit daegu. Sepertinya akan turun hujan.


Hyuji bergegas mendekat untuk membantu sang ayah mendorong kereta berisi buah apel dengan jumlah cukup banyak yang baru saja mereka petik dan siap untuk dibawa pulang dan dibersihkan, kemudian dijual kepada pengepul apel.


"John tidak pernah menghubungimu?" tanya sanga ayah tiba-tiba tanpa terprediksi.


Hyuji menggeleng memastikan. "Terakhir tiga bulan yang lalu, tapi Hyu tak pernah membalasnya!"


"Hei, kau pikir ini pekerjaan sulit? Ayah bahkan masih sanggup mengangkat buah-buahan ini sampai dirumah dengan punggung ayah!"


Hati Hyuji mencelos, menatap wajah berkerut sang ayah yang kini sedang tertawa lembut. Hyuji merasa dirinya kini menjadi sebuah beban untuk ayah dan juga sang ibu, bagaimana tidak, keduanya terlihat bekerja semakin keras sejak dia pulang kembali ke daegu.


"Maafkan Hyuji ayah! Seharusnya ayah duduk diam dirumah, bukan malah bekerja seperti ini!"


"Kau ini bicara apa sih! Sudahlah, jangan bicara yang macam-macam! Ayah baik-baik saja!"


Entah mengapa, Hyuji malah ingin menangis saja mendengar jawaban ayahnya. Akan tetapi hal yang selalu ia lakukan berulang kali adalah menahan semua airmata itu dan membiarkan dirinya sendiri tersiksa sebagai timbal baliknya.


-


Sebenarnya, gerimis sudah mulai turun sejak Hyuji dan ayahnya baru setengah jalan melewati kebun apel yang terlampau luas itu. Akan tetapi kini mereka sudah sampai di teras rumah, dengan segera Hyuji membantu sang ayah memindah buah apel agar tak terkena hujan.


Dan benar saja, hujan turun deras beberapa menit setelah Hyuji dan ayahnya berada didalam rumah.


Tiba-tiba ponsel Hyuji berdering, dan dengan segera dia menerima panggilan itu.


"Eung! Ada apa Yoon?"


"Hyu, pamanku mau menyewakan bangunan diatas rumah mereka! Dan aku sudah me-nego-kan harga sewa termurah untukmu!"


"Benarkah? Kapan kita bisa bertemu?" ucap Hyuji bersemangat.


"Datanglah kebusan akhir pekan! Aku akan menunggumu distasiun!"


"Baiklah!"


Panggilan berakhir dengan Hyuji yang terlihat sumringah.


"Siapa Hyu?" tanya sang ibu sambil membawa kuah sup ayam kesukaan Hyuji dari arah dapur.


"Teman bu, dia sudah menemukan tempat tinggal untuk Hyuji! Harga sewanya lumayan murah!" jawab Hyuji tenang, tapi tak bisa menyembunyikan rasa senang diwajahnya.


"Pergilah setelah anakmu lahir! Jika kau pergi sekarang, bagaimana ibu bisa bantumu merawat bayi itu?"


Hyuji tertawa lembut dan hangat. "Hyuji tidak mau merepotkan ibu! Hyuji akan mencari pekerjaan serta merawat dan membesarkan dia tanpa merepotkan ibu dan ayah lagi! Kalian beristirahatlah, terima kasih sudah mau menerima Hyuji kembali!"


"Hyu—"


Hyuji tau pasti jika sang ibu pasti akan melarang dan membujuknya agar tidak pergi. Akan tetapi, Hyuji tipikal keras kepala. Dia tidak akan menyerah.


"Percayalah pada Hyuji! Hyuji akan baik-baik saja disana, dan akan merawat anak hyuji dengan penuh kasih sayang!"


Ibu dan ayah Hyuji menunduk bersamaan. Mereka tak akan bisa menghentikan Hyuji.


"Dan Hyuji meminta satu hal kepada ayah, dan juga ibu—"


Nafas Hyuji sedikit tersengal saat hendak mengatakan kalimat selanjutnya. Namun dia berusaha tegar, mengangkat wajahnya dan tersenyum manis seraya berkata. "— jika suatu saat tiba-tiba John datang dan mencari Hyuji, tolong jangan katakan kepada John dimana Hyuji tinggal! Hyuji tidak ingin kelak John mengambil anak ini dari Hyuji!"


Sang ibu meraih putrinya kedalam pelukan, menepuk punggungnya perlahan. " Tidak sayang, ibu akan merahasiakannya dari siapapun!"


"Sekalipun John memaksa, jangan pernah mengatakan apapun padanya! Dia sudah cukup membuat Hyuji kecewa!"[]