Another Winter

Another Winter
another Winter 21



Jum'at,


Saat itu, musim semi, disekolah, lebih tepatnya di taman sekolah yang tidak pernah dikunjungi oleh siswa selain dirinya dan Reyna, gadis itu pernah berbicara pada Hyuji.


"Val itu Cinta pertama yang akan menjadi segalanya untukku Hyu! "


Dia masih mengingat dengan sangat jelas didalam kepalanya. Bahkan terngiang sampai detik ini, bagaimana suara selembut madu milik Reyna saat mengatakan itu. Penuh ketulusan di kedua manik gadis yang kini sudah pergi untuk selamanya itu.


Saat itu pula, Hyuji menganggap Reyna hanya membual tentang Cinta monyet bertajuk selamanya yang mungkin akan menjadi luka menyakitkan bagi Reyna.


"Kau akan tau seperti apa rasanya, saat kau benar-benar menemukan orang yang bisa membuatmu merasakan sebuah degupan yang berbeda pada hatimu! "


Hyuji tersenyum getir, memeluk satu-satunya foto yang ia punya saat masih bersama Reyna dulu. Foto yang diambil Val karena Reyna memaksa. Hyuji kembali menjauhkan foto dengan warna yang hampir memudar itu kemudian mengusap wajah Reyna yang sedang tersenyum.


"Cantik sekali... " ucapnya sendu. "Tapi kau itu bodoh Rey! Mengapa kau rela menyakiti dirimu sendiri demi—" suara Hyuji tercekat. Menyadari jika dirinya juga sudah menjadi bodoh seperti Reyna.


"Kau benar Rey! Cinta pertama itu tidak akan pernah bisa kita hapus dalam waktu sekejap mata! "


Hyuji meringkuk diatas sofa yang biasa menjadi tempat bercanda ataupun beradu seberapa keras kepala dirinya dan John, dulu.


"Sepertinya aku mendapat balasan yang setimpal karena sudah menertawakan cinta pertama yang pernah kau ceritakan itu Rey! Aku terjebak juga! Sama seperti dirimu! " ucap Hyuji bermonolog, seolah Reyna sedang berada di tempat yang sama untuk mendengarkan keluh kesahnya.


Hyuji mengusap perutnya yang mulai terasa mual, mengganggu sekali akhir-akhir ini. Kini, Hyuji merubah posisi pandangannya kesamping, menelengkan kepala guna melihat foto pernikahan tanpa pigura yang masih berada diatas meja televisi. Kembali menyematkan senyuman getir saat menyadari betapa sederhana pernikahan yang mereka lakukan dua tahun silam. Tanpa dibalut gaun megah dan jas mahal, keduanya mengucap janji suci pernikahan.


Tidak ada yang ingin dia lakukan hari ini, sudah tidak ada lagi semangat dari dirinya setelah John pergi satu hari yang lalu.


"Tetaplah disini! "


"Kenapa aku harus disini jika tidak ada dirimu John?" gumamnya pelan, merutuk diri sendiri saat bayangan John masih tidak mau pergi dari ingatan.


Buru-buru Hyuji berlari ke kamar mandi saat mual itu menghujamnya dengan sungguh. Dengan nafas terengah, Hyuji mengusap bibir yang basah karena air yang ia pergunakan untuk berkumur. Berjalan lemas keluar dari kamar mandi, meraih gelas kemudian mengisi air putih untuk ia teguk.


Duduk termenung sambil mengedarkan pikiran tentang dirinya yang belum juga mendapatkan periode bulanan setelah lewat satu bulan lebih. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Apa aku mengandung anaknya? " telapak tangan itu terulur begitu saja kearah perut rata miliknya, mengusap ragu hingga senyuman kecil tercetak dibibir ranumnya.


"Aku harus memastikan dulu! "


Diliriknya jam dinding yang menunjuk pukul sepuluh pagi. Ia meraih sweater panjang dan mengenakannya untuk pergi ke apotek didekat rumah. Hyuji juga berencana akan membeli makanan kecil saja di mini market dekat apotek, karena dia kehilangan nafsu makan sejak terbangun dari tidur.


Mengunci pintu rumah, hanya perlu berjalan kearah jalan utama untuk sampai di apotek. Sebuah ingatan dimana John pernah ber-angan tentang tangis bayi, membuat Hyuji turut menahan tawanya sendiri, mengatupkan bibir rapat-rapat agar pengguna jalan lain tak memandang aneh padanya.


Matahari cukup terik hari ini, Hyuji berniat untuk bergegas kembali kerumah setelah menjalankan dua misinya. Namun, ditengah terik matahari dan juga perut yang belum terisi sama sekali, ditambah lagi dirinya sudah lemas akibat muntah, Hyuji merasa pusing.


Dengan segera dia duduk dikursi pinggiran jalan tepat dibawah pohon Ginkgo yang sudah menumbuhkan daun, Hyuji membuka dan meminum air mineral yang ia beli. Kemudian memakan Samgak Kimbap*nya.


Saat mengunyah makanan itu, berbagai kecamuk memenuhi ruang berfikirnya. Bagaimana jika dia benar-benar mengandung anak John? Atau lebih tepatnya, bagaimana dia akan membesarkan anak itu kelak?.


Hingga sebuah terpaan angin membawa setiap helaian rambut Hyuji turut terbawa, saat sebuah mobil hitam mengkilat berhenti tepat dihadapannya.


Hyuji tau betul presensi yang keluar dari balik pintu mobil mewah itu.


"Ibu... " panggilnya pelan saat melihat ibu John keluar dari kuda besi yang ditungganginya. Nafsu makan Hyuji seluruhnya sirna, satu telapak mengepal sempurna dengan binar yang tak berhenti menatap wanita berpakaian Classy yang semakin memangkas jarak.


"Ternyata memang dirimu! Untunglah, aku tidak perlu datang kerumah itu!"


Hyuji hanya diam menatapi bagaimana wanita itu berkata dengan nada sarkasme yang tiada kunjung sirna saat sedang berbicara dengannya.


"Ada perlu apa ibu jauh-jauh datang kemari?Mari kita bicara dirumah, akan sa—"


"Tidak perlu! Aku hanya sebentar!" jawabnya tegas, terkesan mengolok.


Jadi, apa yang ingin ibu John katakan padanya hingga rela jauh-jauh datang ketempatnya? Apa mungkin wanita paruh baya itu berubah fikiran dan ingin mengajaknya bersama menemui John dan berbaikan?


"Lihat siapa sekarang yang lebih dipilih John?"


Ah, tentu saja tidak! Desah Hyuji dalam diam. Bibirnya terkatup rapat dan menunduk perlahan guna mendengar kata-kata yang selanjutnya akan menyambangi perungu.


"Aku tau, putraku itu tidak bodoh! Dia hanya ingin mempermainkan dirimu..."


Mendengar hal itu, Hyuji kembali menaikkan sudut matanya. Menatap lekat kepada presensi yang ada dihadapannya itu, kemudian tersenyum tipis.


"Ya, saya tau, John bukanlah pria bodoh! Tapi setidaknya, ibu tau dan mau memikirkan perasaan putra ibu sendiri!"


Joana terdiam, senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah dengan gincu mahal itu mengeras. Tatapannya berubah nyalang. "Kau bicara apa? John akan menempatkan aku pada posisi pertama dalam hidupnya!"


"Tentu saja saya tidak menyangkal akan hal itu!" jawab Hyuji tegas, ini adalah pertama kalinya dia berani berbicara sambil menatap lekat kedua manik sang ibu mertua. Kemudian melanjutkan. "Lalu bagaimana jika dia tau kalau dia akan menjadi seorang ayah?"


Sontak kedua mata tegas itu membola, menatap penuh sarat emosi pada gadis yang sedang membungkuk memberi hormat lalu meninggalkannya begitu saja. Akan tetapi, gadis itu kembali menghentikan langkahnya dan berbalik untuk berkata, "Jangan katakan apapun pada John karena itu akan membuat dia berubah pikiran dan kembali pada saya, jadi sembunyikan saja semuanya dan anggap saya tidak pernah mengatakan apapun kepada anda! Karena itu akan semakin mempersulit anda untuk menjauhkan John dari saya! "


Entah mengapa, tiba-tiba wanita itu tidak bisa berkata apapun setelah mendengar apa yang dikatakan Hyuji. Mendadak bibirnya terkunci rapat dan tak bisa menjawab apa yang Hyuji cercakan kepadanya. Hanya memandangi punggung kecil gadis itu semakin menjauh darinya.


"Jadi, dia sedang mengandung anak John? Tidak! John tidak boleh sedikitpun tau akan hal ini! Atau jika dia tau wanita itu hamil, semua akan berantakan!" Ujarnya dengan mimik wajah khawatir dan gelisah, kemudian masuk kembali kedalam mobil dan pergi meninggalkan Yangcheon untuk kembali ke Seoul.


Hyuji berhenti saat mendapati mobil hitam itu melesat cepat, dia sadar jika ibu John sudah pergi. Mendadak, hatinya berubah hancur. Kalimat tegas yang tadi ia ucapkan dengan nada sarkas tidak mampu membuatnya kembali tegar. Hyuji merengkuh dirinya sendiri dalam keterpurukan, mengesat airmata yang mulai berjatuhan. Ia jadi merindukan ibunya di daegu, namun secepat kilat dia menggeleng. Tak ingin menambah beban orang tuanya jika mereka tau dirinya akan segera berpisah dengan John.


"Maaf, aku belum bisa kembali ke daegu, ibu..." gumamnya sambil mengalihkan pandangan dan kembali mengusap airmata. Namun semua perhatiannya teralihkan pada ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk.


John.


Ayo bertemu besok. Tentukan tempatnya! Ada sesuatu yang membutuhkan persetujuan dan tanda tangan darimu. []





Terima kasih atas apresiasi teman-teman sekalian. Tinggalkan Like dan juga komentar yang membangun, serta Vote jika berkenan.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.